Pariah

Posted on September 5, 2021

2


Kepergian Eben merupakan sesuatu yang tidak mudah bagi banyak kawan-kawan, termasuk saya. Sehingga nampaknya saya dengan sangat terpaksa menolak beberapa permintaan teman-teman untuk menulis obituari almarhum Eben. Saya belum mampu melakukannya saat ini. Namun saya memiliki tulisan perihal Burgerkill yang saya tulis saat Eben memintanya untuk menjadi pengantar rilisan piringan hitam perayaan 25 tahun eksistensi mereka. Saya arsipkan di sini untuk kawan-kawan lain.

“The people in the bands would hang out and you had these interpersonal relationships. You’re this disfranchised person and you find these communities and they start telling you “these are the reason you ae feeling disfrenhised”, and there is solidarity. I felt like i found a place for myself”

– Peter Wentz (Racetraitor)

Saya baru menyelesaikan buku lama yang baru saya beli; “Burning Fight: The Nineties Hardcore Revolution in Ethics, Politics, Spirit and Sound.” Entah apa alasan saya 12 tahun lalu tidak segera membeli buku sebagus ini. Mungkin karena judulnya yang ‘cheesy’, atau kekhawatiran berlebihan atas asumsi saya jika buku ini hanya pengulangan “The Philosophy of Punk: More Than Noise!” yang ditulis Craig O’Hara zaman lampau.

Ada satu kesimpulan utama yang menarik dari buku itu yang mengingatkan saya pada pengalaman personal mengenal hardcore punk dan ketika skena Bandung mulai menyeruak di awal 90-an. Cerita tentang keterasingan, tentang bagaimana musik hardcore punk, metal sebagai wadah yang menampung kegelisahan, kemarahan, kemuakan anak muda yang tumbuh di dunia yang mengasingkan mereka. Tumbuh sebagai individu yang tak merasa cocok dengan segala hal yang ada saat itu, termasuk musik dan dunia permusikan, politik dan dunia perpolitikan, media dan dunia permediaan. Menjadi pariah.

Pada Burning Fight, kesaksian proses bertemu dengan medium bernama hardcore punk dan pencarian jati diri itu bertaburan. Banyak sekali yang relevan dengan pengalaman personal di waktu lampau. Semisal bagaimana dahulu terasing di dunia yang penuh kemunafikan, penindasan dan omongkosong, dan tentu saja; musik lokal yang membosankan. Muak dengan sekolah, muak dengan basa basi moralitas dan budaya luhur bangsa, muak dengan otoritas dan tentu saja muak dengan polisi. Banyak hal buruk yang terjadi di era itu, dan tertarik pada musik yang marah adalah sebuah kewajaran. Bahkan untuk yang level sangat personal sekalipun, hardcore punk dan metal menawarkan eskapisme yang sangat cocok. Terutama bagi mereka yang merasa rumah merupakan pula bagian dari masalah.

Dalam banyak hal saya sering merasa terasing, alien istilahnya. Bahkan sejak SD sekalipun, saya merasa sulit untuk menjadi bagian dari anak-anak kebanyakan yang ‘normal’, apapun itu maksudnya. Paling tidak penolakan orang-orang tua dan khalayak pada umumnya terhadap Breakdance di awal-pertengahan 80an bisa jadi representasinya. Ketika lebih serius lagi menyimak musik populer di SMP-SMA kemudian hari, saya tetap menjadi alien di saat teman kanan kiri saya merupakan pendengar metal dan punk, dan sama sekali tak menyukai musik hip hop yang saya dengarkan. Namun ironisnya itu momen dimana saya menemukan jawaban atas semuanya; saat berkenalan dengan Hardcore Punk.

Seperti yang kemudian diketahui, skena independen mulai membesar di Bandung pada pertengahan 90-an dan membuka jalan bagi kami semua untuk berekspresi seperti yang kami inginkan. Tiba-tiba saya dikenalkan dengan sebuah cara baru memandang dunia, yang sama sekali mencerahkan untuk remaja yang baru saja lulus SMA. Bahwa musik yang tidak normal itu punya penggemar lain yang bisa diajak berbagi ketidaknormalan pilihan. Bahwa ada cara lain berkomunikasi di dalam sebuah dunia lain yang berbeda, meski tidak besar namun memiliki ruang bagi individu-individu pariah lain yang tak merasa cocok dengan kelaziman saat itu. Bahwa semua orang bisa membentuk band, bermain musik sesuka mereka dan sama sekali tidak perlu bergabung ke dalam aturan arus besar permusikan yang pada saat itu yang seolah hanya satu-satunya cara untuk bermain musik.

Yang kami perlukan adalah satu sama lain. Sesama pariah lain. Membentuk grup-grup musik kami sendiri dari tangkringan sendiri, merekam musik kami sendiri, menduplikasikannya, menyebarkannya, membuat label rekaman, distributor dan media kami sendiri, bahkan -yang paling krusial- membuat pasar kami sendiri. Beberapa orang menyebutnya D.I.Y. Apapun itu namanya, yang saya tahu proses itu semua sangat mencerahkan dan membuka mata terhadap sejauh mana musik dapat merubah hidup kami.

Hal-hal tadi mungkin terdengar biasa saja hari ini. Tapi coba membayangkan hal tersebut di sebuah rentang waktu ketika pilihan sangat terbatas (jika ada argumen lain bahwa tidak bisa juga disebut tidak ada). Saat yang kalian pahami bermain band itu harus melalui jalur yang dilalui oleh Krakatau atau Grass Rock Band, sangat menginspirasi saat menemukan ternyata kalian bisa bermain band dengan tetangga kalian dan membuat acara kalian sendiri di lapangan depan kompleks jauh hari sebelum tahun-tahun GOR Saparua.

Saat kalian disuguhi berita musik dan politik yang perspektifnya itu-itu saja di Majalah Hai atau harian Pikiran Rakyat, sangat mencerahkan ketika tahu bahwa kalian bisa membuat media sendiri, menulis, menggambar, menduplikasi dan menyebarkannya di acara-acara, atau toko teman-teman kalian. Emansipasi seperti itu seolah merupakan gerbang cahaya bagi generasi yang lahir di tengah-tengah keterbatasan dan hegemoni budaya (populer) yang tidak mereka sukai. Ide bahwa kalian bisa menjadi diri sendiri dan tak perlu menduplikasi watak khalayak, orang kebanyakan, massa, (atau apapun lah itu sebutan lainnya), sangat berharga di era penyeragaman banyak hal, termasuk isi kepala.

Burgerkill merupakan bagian dari generasi ini. Produk dari letupan pencarian muara kemuakan ketika menjadi alien di sana sini dan menemukannya di tangkringan. Ujungberung adalah salah satu lokasi terpadat yang dihuni oleh para pariah. Tidak sulit menemukan alasan utamanya, di daerah industrial itu terletak sebuah studio dan tempat nangkring mereka-mereka yang menemukan kesamaan minat, ketertarikan dan keisengan, selain kebosanan tentunya. Sebagai catatan, di tempat itu berkumpul tak hanya mereka yang berdomisili di Ujungberung, tangkringan bisa penuh oleh mereka yang datang dari sektor lain di Bandung, saya salah satunya. Terus terang, sangat menginspirasi menyaksikan sendiri sekumpulan sejenis dengan passion terhadap musik dengan level yang tak pernah saya lihat sebelumnya.

Burgerkill sendiri sebetulnya sebuah anomali di Ujungberung yang disesaki band-band metal. Bisa membayangkan betapa sulitnya era awal mereka memainkan Minor Threat dan Gorilla Biscuit di tengah-tengah sekumpulan fans Morbid Angel, Suffocation dan Deicide. Tapi justru itu sebuah penanda jika musik hardcore dan metal punya potensi yang sama dalam hal menampung penyaluran kemarahan dan kemuakan. Sebaliknya, mereka mengambil keuntungan dari keanomalian mereka. Burgerkill memainkan hardcore yang lebih agresif dari kebanyakan band hardcore kala itu, hampir tidak ada lagu mid-tempo dalam setlist panggung mereka.

Pengalaman pertama saya menonton Burgerkill adalah saat mereka bermain di Hulaballoo tahun 1996 di GOR Saparua. Itu penampilan pertama mereka di GOR legendaris itu. Berdiri di pojok kanan panggung bersama beberapa kawan yang sama-sama menantikan band hardcore dari Ujungberung, yang saat itu mulai banyak jadi bahan pembicaraan di tangkringan. Saya masih ingat bagaimana ledakan energi saat melihat mereka bermain. Sebelumnya saya sering membaca perihal gigs hardcore luar negeri di fanzine-fanzine saat itu, namun terus terang, sebelum penampilan Burgerkill saat itu belum ada yang bisa menghadirkan imajinasi gigs itu di depan mata, bahkan Full of Hate dan Puppen sekalipun tidak seliar mereka saat itu.

Tapi sekali lagi, hardcore bukan hanya perkara musik. Justru bagian itu lah yang menjadikannya sangat menarik bagi mereka-mereka yang terasing dengan banyak hal di usia itu. Jika hanya perkara musik, kita sudah cukup menonton band-band metal abang-abangan di Lapangan Karangsetra. Hardcore merupakan pula ide dan bertualang mempraktekkannya. Hardcore pula merupakan tempat ide-ide bersenyawa, bertarung, berdialog, berbagi banyak ketertarikan, persoalan dan gagasan. Nyaris semua personil Burgerkill saat itu pula teremansipasi oleh sisi hardcore yang satu itu. Kimung, Toto dan Eben (dan dalam level tertentu, Ivan almarhum) tergerak pula untuk menulis, sebuah kejaiban mengingat mereka adalah pembolos militan dan menulis adalah hal yang justru mereka hindari di sekolah. Toto dan Eben bahkan membuat zine spesifik hardcore; Loud N Freaks dan New Noise di rentang waktu itu. Seperti halnya zine hardcore punk di eranya yang berisikan info musik, kolom opini, resensi padat dan visual yang khas dan menarik.

Secara langsung dan tidak langsung mereka terlibat dalam akses informasi terhadap gagasan-gagasan alternatif. Terlibat dalam proses menunjukkan dan menyebarkan ide bahwa hardcore lebih dari sekedar riff dan ritme kencang, lebih dari sekedar estetika jenis/genre musik, lebih dari sekedar moshpit dan adrenalin. Terlebih tentang bagaimana menggenggam kontrol atas hidup kalian di tangan kalian. Hardcore adalah proses mencari jalan keluar dari upaya-upaya penyeragaman, mencari titik temu gagasan dan praktek alternatif dari cara-cara yang selama ini dianggap final.

Di kemudian hari mereka memang berubah, bukan hanya gaya musik yang sejak kompilasi “Ticket to Ride” mulai mengadopsi dengan kental modern metal, sesuatu yang bukan hal aneh pula bagi unit hardcore, karena di era itu hardcore sudah tidak identik dengan musik generasi pertama mereka seperti Gorilla Biscuit atau Uniform Choice. Seperti halnya Racetraitor, yang saya kutip kalimatnya di awal tulisan, mengadopsi musik Deicide ke dalam komposisi mereka.

Setelah masa transisi yang gelap datang, Burgerkill menyisakan Eben sebagai satu-satunya personil pendiri unit hardcore itu. Toto mengundurkan diri dari skena, Kimung masih walau tidak berada di garda studio dan panggung, masih berkutat dengan wilayah riset dan literasi yang menjadi ketertarikannya. Ivan, seperti yang kita ketahui, telah mendahului kita semua setelah perjuangannya melawan rasa sakit menahun dan meninggalkan kita mahakarya terakhirnya, “Beyond Coma and Despair”.

Setelah lima album, mereka hari ini menjadi salah satu grup metal terbesar yang pernah dimiliki Indonesia. Banyak catatan penting yang mereka gurat selama eksistensi lebih dari dua dekade perjalanan, di level kota/lokal, nasional maupun internasional. Personil datang dan pergi hingga hari ini bertahan Vicky, Agung, Ramdan, dan Putra menemani Eben. Mereka mulai membesar seperti band metal pada umumnya dan mulai memanggil fans-nya dengan sebutan khusus seperti Slank dan Slankers, Padi dan Sobat Padi, Kotak dengan Kerabat Kotak. Emansipasi individualisme yang intim mulai tersaturasi oleh kumpulan “khalayak” baru meski dengan sebutan baru, ‘Begundal.’

Saya tak perlu setuju dengan mereka dalam segala hal, dan saya tak perlu mengidentifikasi diri saya dengan ‘Begundal’ untuk mengakui bahwa saya salah satu penggemar yang sejak awal menyaksikan bagaimana konsistensi, kekeraskepalaan, kebrutalan passion, dengan segala resikonya menginspirasi saya. Baik di era mereka menulis fanzine hingga di zaman terkini dengan apiknya bermain metal dengan orkestra.

Di ulang tahun eksistensi mereka ke 25 ini, rasanya catatan penting yang layak dikabarkan adalah bagaimana musik kemudian tak melulu perkara musik itu sendiri. Terlebih jika dipersimpangkan dengan pengalaman pribadi yang sebentar lagi memasuki angka setengah abad: Burgerkill pernah dan tetap menulis musik bagi para pariah, bagi mereka yang seolah tak punya tempat di masyarakat, tak peduli kalian ‘Begundal’ atau bukan.

Bandung, 6 Maret 2021

Herry Sutresna
Seorang kawan lama, salah satu fans terlama mereka.

Posted in: Uncategorized