Hitam yang Mengaku Dirinya Tuhan: Catatan Pinggir untuk “Blacklight” Koil

Posted on May 2, 2020

1


* Saya tulis sebagai catatan pada booklet pendamping saat Grimloc Records merilis ulang album Blacklight tahun lalu.

 

Di tahun 2007 Efek Rumah Kaca merilis debutnya yang luar biasa, Padi merilis album terakhirnya, Pure Satuday merekam ulang lagu-lagu lama mereka di Time for a Change, Time to Move On, Peterpan mulai dituntut oleh Disney untuk mengganti nama dan radio mulai dijajah Kangen Band. Bagi sebagian besar anak muda yang terkoneksi di internet dan menyukai musik akan memilih Myspace sebagai sarang, dan 2007 bisa dibilang merupakan bagian dari tahun-tahun terakhir Myspace berjaya, nyaris sebagian besar anak muda bergentayangan di jejaringnya dan berteman dengan Tom.

Internet masih berupa setengah barang mewah, sebagian orang mulai memiliki koneksi pribadi di rumah-rumah mereka, tapi sebagian besar masih menggunakan warnet secara maksimal, termasuk saya. Ada satu warnet di bilangan Dipatiukur yang sering saya kunjungi dan di situ lah saya pertama kali mendengar Blacklight beberapa minggu sebelum dirilis. Tepatnya dua buah lagu dari album ini yang entah bagaimana ceritanya bisa ada di sana.

Tentu saja saya sudah mendengar album-album Koil sebelumnya sejak jauh hari dulu saat masih sering melihat mereka nangkring di Toko Buku Qta di Jalan Riau, Bandung circa 93-94. Saya membeli demo 4 lagu mereka hanya karena ada satu lagu dengan judul berbahasa sunda “Dengekeun Aing” dimana saya tertipu karena liriknya ternyata berbahasa Indonesia. A Demo From Nowhere jika didengar hari ini mirip seperti rekaman latihan sebuah band grunge di sebuah studio latihan Karang Taruna, tapi pada zamannya album itu (dan termasuk debut mereka di 1996) sangat inspirasional bagi banyak orang, jika tidak percaya silakan tanya Ariel Peterpan, maaf maksud saya Noah.

Saya selalu menganggap ada yang istimewa pada eksistensi mereka, baik musik, lirik atau imagery, yang entah apa saya tidak bisa pastikan hingga satu hari mereka merilis Megaloblast di tahun 2001, tepat ketika pemaknaan ‘underground’ x ‘mainstream’ mulai kehilangan relevansinya. Album tersebut mulai menampakkan sisi kerumitan Koil sebagai band yang berangkat dari dasar skena dan tak pernah benar-benar berada di jalur utama. Kerumitannya bisa berangkat dari premis bahwa para pendengarnya yang ngawur, bisa juga karena ‘ulah’ Koil yang di luar kelaziman stereotip.

Mereka hanya menulis lagu sesuka mereka, dan tidak pernah sekalipun menulis lagu untuk industri. Di era industri musik yang hegemoninya masih dipegang major label tentu saja ini sebuah keistimewaan. Namun demikian, musik mereka sangat jelas menampakkan pengaruh pop (barat) mainstream era itu. Misalnya saja, jika meragukan, cek lagu “Mendekati Surga” yang mengambil secuil drumbreaks dengan sisipan sedikit scratch di tengahnya yang berasal dari lagu “Barrel of A Gun” milik Depeche Mode. Ini hal sepele yang bisa jadi debat serius nan bodoh di Bandung 15-25 tahun lalu ketika bicara soal ‘mainstream-underground‘. Paradoks ini yang mereka pelihara di kemudian hari bahkan sampai ke level yang paling ekstrem, hasilnya pun tetap sama; tak pernah benar-benar ada di jalur ‘arus utama’, meski mereka hadir di TV dengan Ahmad Dhani atau manggung bersama ST12.

Koil selalu berjalan di antara paradoks-paradoks dan menari dari paradoks ke paradoks. Dari kerumitan yang satu ke kerumitan lainnya, yang sia-sia jika kita berusaha keras untuk menaruh mereka dalam satu cangkang pemaknaan.

Jeda 6 tahun sejak mereka merilis debut membuat Megaloblast terdengar sangat jauh berbeda. Lepas dari pola dan sound drum yang bagi saya pribadi kental dengan White Zombie era La Sexorcito, permainan gitar Donny membuat saya jatuh cinta; ada Sex Pistol, riff mimpi buruk Ministry di Psalm 69 juga kegelapan new wave di sana meski tidak dominan.

Vokal Otong mulai memakai latar, sesuatu yang menurut saya seharusnya dipakai sejak album pertama. Ia tetap bersikeras menulis lirik berbahasa Indonesia, dan akhirnya menemukan bentuk dan formulanya, jauh lebih matang dari debut mereka. (Ini perlu catatan tersendiri, mengingat sangat jarang band Bandung di 90-an yang menulis lirik mereka dalam bahasa lokal secara konsisten.) Tentunya yang paling mencolok adalah lirik yang bercerita tentang paradoks itu sendiri seperti “Ini Semua Hanyalah Fashion”. Di atas groove Leon dan gitar Donny yang seolah mencoba menggantikan synthesizer ber-atmosfer, Otong memberi reportase Indonesia pasca Reformasi “kita bergaya seperti patriot/ peduli politik/ bukankah pada kenyataannya/ ini semua hanyalah fashion”.

Saya menyukai Megaloblast dan tak menolak ketika majalah Ripple menyuruh saya untuk membuat resensi album itu untuk salah satu edisi mereka sekitar tahun 2001. Namun Blacklight adalah binatang jalang yang berbeda. Sejak saya mendengar “Semoga Kau Sembuh Part II” di warnet di Dipatiukur itu, melodi awal lagu tersebut menempel lekat di kepala. Mungkin faktor subjektif saya sebagai fans Depeche Mode yang membuatnya demikian, sehingga jatuh cinta sejak intro pertama. Entah saya yang keterlaluan atau memang ada orang lain juga kah yang berpikir jika lagu itu punya pengaruh kuat Martin Gore cs. Levelnya sangat kurang ajar sampai satu hari saya diminta untuk meramu playlist di acara ulang tahun teman, saya membuat medley lagu “Shake the Disease” dan “Semoga Kau Sembuh Part II” ini beriringan.

Ketika lagu ke-2, “Aku Lupa Aku Luka” mulai diputar pula di warnet itu saya mulai yakin jika Koil akan merilis album terbaik mereka. Kontan saya bertanya pada kasir warnet dari mana lagu-lagu Koil baru itu didapat. Ternyata mereka menyebarkan satu album penuh mereka secara berkala di website Deathrockstar, salah satu website musik yang mulai akrab sebagai media informasi musik-musik yang berseliweran di skena independen saat itu. “Aku Lupa Aku Luka” memiliki daya pikat yang berbeda dengan “Semoga Kau Sembuh Part II”, menelanjangi pengaruh Sex Pistols pada Donny, hanya saja bebunyian industrial, drum yang bersuara lebih modern, komposisi rapih dan sound yang megah membuatnya lebih terdengar seperti lagu Wagnerian yang menggelorakan hidup meski berbicara tentang luka.

Pendek cerita, dua lagu itu cukup bagi saya memutuskan untuk memburu album itu di tukang koran pinggir jalan saat dirilis dalam format CD (bukan di toko musik, karena album ini hadir sebagai bonus di majalah Rolling Stone lokal), dan brengseknya, album ini melebihi ekspektasi.

Blacklight sama gelapnya dengan Megaloblast, namun kegelapan itu kali ini tidak datang sendirian. Seringnya hadir dengan momen-momen melankolik yang aneh yang biasanya ditemukan di grup synthpop macam Apoptygma Berzerk (yang juga terpengaruh Depeche Mode) atau grup dance elektronik macam VNV Nation. Groove White Zombie tidak lagi sekental di Megaloblast, ini membuka ruang bagi pengaruh-pengaruh dan eksperimen-eksperimen lain lebih terdengar dari album-album sebelumnya, lalu meraciknya menjadi sesuatu yang benar-benar baru. Saya rasa Donny mencapai ma’rifatnya dalam penulisan musik di Blacklight, riff-nya lebih ekonomis tapi efektif. Ia memperhatikan betul ambient dan tekstur dan hafal betul bagaimana membangun aura. Seringkali groove asik Leon dibiarkan panjang sebelum menggantinya dengan ledakan-ledakan ritmik lain khas Koil tentunya. Tapi saya yakin, masuknya Adam (Vladvamp) berpengaruh dalam hal kayanya suara synth, bebunyian industrial, potongan samples dsb sehingga mengizinkan Blacklight memiliki arwahnya sendiri berkelindan dengan lirik-lirik Otong yang semakin menemukan kekhasannya.

Lirik Otong memang menjadi catatan tersendiri di album ini. Bagi saya tentunya -yang paling pertama- adalah bagaimana pesan mereka diterjemahkan atau diinterpretasikan. Tentu saja Otong akan selalu bilang “Lirik saya tidak serius”, itu haknya. Sama seperti halnya ketika Zack Dela Rocha berhak menganggap lirik ‘kerakyatan’-nya sangat serius, namun tak jarang berakhir menjadi lagu minum-minum pesta bujang eksmud di bar sembari karaokean “Fuck you, i won’t do what you tell me.” It’s really OK, not even a problem. Kita tak perlu mempelajari ‘matinya sang pengarang’ Roland Barthes untuk paham jika yang Otong tulis pada album-albumnya memiliki petualangannya sendiri di luar sana, dan seringnya banyak orang yang menganggapnya serius, termasuk saya mungkin. Jika kalian memiliki waktu senggang, bisa cari blog-blog yang menuliskan interpretasi lirik album ini baik yang iseng ataupun yang kelewat serius.

Pada Blacklight, Otong masih membunuh optimisme hanya saja kali ini ia menulisnya lebih puitik, semisal pada “Semoga Kau Sembuh Pt.II”;

tak ada gunanya kita mencari mengejar mimpi/

kau berpacu memburu langit yang sangat tinggi/

dan apa yang kita jalani dan hadapi/

ketika semua/ membuatmu buta/ mengosongkan jiwa

 

“Kenyataan Di Dunia Fantasi”, “Ajaran Moral Sesaat” dan “Sistem Kepemilikan” masih melanjutkan proyek sinisme Otong atas narasi-narasi besar. Ia masih bicara tentang penderitaan dan ketidakabadian, seperti pada “Hanya Tinggal Kita Berdua” dan “Dan Cinta Kita Terlupakan”, namun bagi saya pribadi jantung Blacklight ada pada lagu “Nyanyikan Lagu Perang” yang tak hanya berbeda dan tak ada padanan dalam diskografi mereka, namun pula memiliki nyawa yang mewakili semua lagu di album ini, atau bahkan semua lagu yang pernah mereka tulis.

Di lagu tersebut, Otong menjadi seorang dionysian nihilis yang menyerukan dunia untuk tetap menari meski tak ada masa depan. Bahwa dunia berakhir besok namun bukan berarti harus kehilangan alasan untuk tetap hidup dan daya untuk merengkuh dunia. Ketika “Badai pasti datang”, dan “kita tak akan menang” ia justru bertanya lalu “mengapa harus bimbang”?. Ia berujar betapa menggelikannya kenaifan yang menggebu-gebu baik pada level personal (“kamu berdendang lagu putus cinta mencari harapan kembali dengannya”) maupun pada level politik (“kamu kumandang kan syair keluguan mengharap keadilan di muka dunia”), sembari menghadirkan (lagi-lagi) paradoks dari premis-premis yang punya kontradiksinya sendiri;

sampai kapan kau akan terus menunggu

mendengarkan buaian lagu merindu

dari seorang biduan yang punya banyak pasangan

dari seorang pahlawan yang menambah garis kemiskinan

dari seorang sastrawan yang menulis sejarah kebohongan
dari seorang bersinar hitam yang mengaku dirinya Tuhan

Otong menutup lagu dengan ajakan menyanyikan lagu perang untuk membangkitkan sebuah ketegaran, karena kita “bukan penguasa, kita rakyat jelata”, dan “kita bangsa yang besar” yang saya sangsikan kata ‘bangsa’ yang ia pakai bukan merujuk pada pemahaman sempit ‘kebangsaan’ sejak pada lagu pembuka album ia dengan dengan sinis dan vulgar menyebut “nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran”. Ini sama kasusnya dengan momen saat ia berseru “kita bukan penguasa kita rakyat jelata bekerja dan berdoa”, dimana saya perlu meragukan makna yang ia coba tempelkan pada kata ‘bekerja’ tadi karena kontradiktif dengan makna kata tersebut pada lagu “Sistem Kepemilikan” yang dengan gamblang tertulis “kau kira siapa dirimu/ bisa membeli hidupku yang rapuh/ mengisi hari bekerja dan patuh bukan menjadi manusia yang tangguh”

Kegemilangan lirik Otong di album ini tentu saja terletak pada bagaimana ia mengkonstruksi liriknya sedemikian rupa sehingga sulit untuk ditebak. Saya menikmati proses menerka-nerka bait chorus “Semoga Kau Sembuh Pt.II” yang sedemikian rupa seolah ditulis dalam keadaan mabuk, nyaris tak ada hubungan kalimat satu dan lainnya namun siapapun yang mendengarnya meyakini ada hal besar di sana;

dan akhir yang bahagia melayani waktu

melewati rinduku

menyanjung harapan menghentikan perang

doakanlah yang telah tiada

semua ini kulakukan

selama waktu berlalu

semoga kau sembuh

Hal penting lain dari liriknya datang dari hal teknis. Bagaimana ia merangkai lirik dan membawakannya dengan teknik enjambemen yang jarang ditemukan di skena musik lokal. Pada Blacklight kita menyaksikan kepiawaian Otong dalam memotong-motong bait, kadang ia potong berdasarkan kesamaan bunyi, kadang hanya berdasarkan ritme dan harmoni. Yang pasti efeknya cukup impresif. Perhatikan bagian dramatik dari “Ajaran Moral Sesaat”. Setelah intro hipnotik nan gloomy panjang dan groove gelap Black Celebration-esque, Otong bermain dengan dengan kalimat yang ia potong berdasarkan bunyi kata dan ritme dan menekankan pengulangan bunyi berselang untuk bait rima itu dengan tidak lazim;

berapakah yang kau minta

untuk sebuah kenyamanan

dan ke

mewahan dan ke

banggaan dan ke

bebasan seperti kau bayangkan

Hal remeh seperti ini terselip di beberapa lagu lain. Remeh, namun mendengarnya seperti menang lotere, semisal pada lagu pembuka “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi” saat dia menulis manifesto;

aku bukan bagian dari sejarah

      yang kau tulis

      kau bingkis

kan untuk anak dan cucumu

Mungkin alasan lain mengapa bagian break kesinisan pada “Nyanyikan Lagu Perang” menarik bukan hanya karena Otong bicara tentang bigot relijius tapi juga karena cara ia memotong kalimat berdasarkan ritme;

dari seorang bersinar

      hitam yang mengaku dirinya Tuhan

Saya meyakini kita-kiat mengakali caranya mengkonstruksi lirik seperti begini dipengaruhi oleh musisi favoritnya, Fariz RM, bukan datang dari penyair seperti Chairil Anwar.

Satu lagi yang menjadi catatan; hadirnya pengulangan bait pada lagu-lagu berbeda. Entah ini Otong sengaja atau tidak, tapi jika memang alasannya kehabisan lirik sekalipun efeknya cukup membuat orang (paling tidak saya) berpikir bahwa itu kalimat-kalimat inti yang mewakili pesan album.

Perhatikan pada “Semoga Kau Sembuh Part ll”;

      dan keputusasaan muncul kembali menggenggam diri

Lalu bandingkan dengan “Hanya Tinggal Kita Berdua”;

      dan keputusasaan muncul kembali mengggenggam diri

      aku menunggu seluruh waktu memacu jantungmu

Juga, pada “Aku Lupa Aku Luka”

      mengatasi keputusasaan, menyakiti diriku sendiri

      aku memacu seluruh waktu memburu jantungmu

Di tahun 2007 di mana kita disuguhi fenomena naiknya nama Roy Suryo sebagai “pakar telematika”, tentara menembak seenaknya di Alas Tlogo dan buku-buku (kembali) dibakar, saya memerlukan omong kosong berfaedah seperti yang dilakukan Otong dan Koil. Mereka sukses membuktikan bahwa absurditas dan paradoks yang dieksekusi gemilang ternyata tetap dapat menjadi menawan dan membuat orang berdansa.

Oke cukup nampaknya, saya bisa ngalor ngidul soal bagaimana album Blacklight ini istimewa, bukan hanya bagi saya tapi buat beberapa orang lain, tapi akan keterlaluan jika dilanjutkan. Ini hanya sekedar tulisan pengantar untuk sedikit merayakan bagaimana Blacklight mengantar saya pada absurditas yang tak terduga, distopia yang perlu ditertawakan dan tentunya, merayakan peresmian sekte penyembah Depeche Mode cabang Turangga, Bandung.

Tidak banyak album lokal yang saya sukai sejak pertama kali mendengarnya dan masih menyukainya setelah ribuan kali diputar. Blacklight ini salah satunya. Menyenangkan jika hari ini kami bisa merilisnya dalam format vinyl.

Bandung 15 Oktober 2019

***********

Vinyl Blacklight bisa didapatkan via Grimloc Records

Posted in: Uncategorized