Ginan dan Nyala Itu

Posted on June 25, 2018

6


Ginan pernah berujar bahwa ia tak suka bulan Desember. Itu bukan bulan favoritnya karena bulan-bulan penghujan punya aturan main sendiri dan tak bersahabat dengan lapangan bola. Tapi di satu malam di bulan Desember itu hujan -yang sering ditulis di syair-syair dan lagu-lagu tentang kepiluan- sedang tidak hadir di satu pojokan Dago. Di pinggir sebuah lapangan volley, Ginan mencoba membaca selebaran di tangannya dengan temaram cahaya bulan. Ia terobsesi dengan sinar bulan belakangan, terutama setelah melihat penampilan beberapa kawan membaca puisi di bawah purnama beberapa malam sebelumnya.

Akhir tahun lalu, di Dago Elos itu kami membuat rangkaian acara Festival Kampung Kota. Satu dari rangkaian momen yang diadakan untuk mengaktivasi ruang-ruang urban, terutama kampung-kampung kota yang sedang menghadapi penggusuran. Beragam even diinisiasi, dari mulai diskusi komunitas, pemutaran film hingga workshop dan gig musik. Malam puisi yang Ginan maksud itu adalah salah satu bagian dari acara sebulan penuh tersebut.

Dalam bahasa sunda yang sangat lengket ia mengutarakan keinginannya juga membacakan puisi di bawah bulan purnama, itu alasan mengapa Ia berusaha keras membaca selebaran itu tanpa penerangan apapun kecuali sinar bulan. Latihan, ujarnya. Jika suatu saat terlaksana, Ia meminta saya untuk memotretnya membacakan puisi dengan bulan di atas kepalanya.

Upaya keras latihannya itu tak berlangsung lama, ia dipanggil ke balai RW untuk dimintai tolong. Pemutaran film sudah waktunya dimulai, pengunjung sudah memadati lapangan namun proyektor infocus tak kunjung bisa dinyalakan. Kami meminta tolong Ginan untuk menyalakannya karena ia pemilik awal proyektor itu sehingga kami anggap ia lebih paham dalam menggunakannya. Asumsi kami terbukti benar. Beberapa film dokumenter tentang keterasingan dan pergulatan mempertahankan ruang-ruang hidup diputar hingga malam larut.

Proyektor itu salah satu aset yang disumbang Ginan bagi aktivitas kawan-kawan. Sebelumnya, kami sering bolak-balik meminjamnya dari Rumah Cemara, mungkin itu alasannya memberikan satu set proyektor pada kami.

Bagi siapapun yang pernah bersinggungan dengan Ginan akan sepakat dengan saya bahwa Ginan bukan hanya hidup dengan HIV tapi juga dengan nyala yang tak pernah padam. Siapapun yang pernah beririsan dengannya akan merasakan nyala itu menjalar menular, jauh melampaui Rumah Cemara yang ia dirikan. Ia sudah terlampau paham bahwa hidupnya bukan lagi didedikasikan untuk menaklukan virus, tapi untuk melampaui dirinya sendiri, menaklukan mitos, membungkam prasangka, merayakan hidup yang sering kali terpinggirkan oleh kemuraman zaman.

Ginan tak hanya menjadi refleksi dari semangat dan harapan, ia pula tak pernah berhenti menyalakan obor-obor solidaritas bagi mereka yang hidupnya coba dipadamkan oleh politik dan kekuasaan seraya tanpa pernah bermaksud menjadi aktivis atau malaikat pembebas. Ia hanya berusaha hadir di sana ketika gaung bertabuh dan sahabat membutuhkan. Seperti di Dago Elos saat itu, di jalanan ketika sahabatnya di Perpustakaan Jalanan disikat tentara, di satu petang bersama rekan-rekannya dari boxing camp hadir ketika ormas-ormas berusaha menyerang kumpulan-kumpulan yang mereka anggap layak dibubarkan atau bahkan sesederhana kehadirannya di satu sore saat bola ditendang, distorsi gitar bergulung dan deru dentuman drum dimulai, kopi bergelas-gelas diseduh atau di malam puisi-puisi dibacakan.

Dengan nyalanya yang seperti itu, perbedaan pandangan tidak pernah menjadi masalah. Bukan karena perbedaan itu tidak hadir di sana, tapi karena ia menganggap perdebatan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari upaya merubah diri dan dunia. Alih-alih menjadi kritik menara gading yang kerap hadir di era social media hari ini, Ginan meyakini bahwa di lapang lumpur pengorganisiran, berkotor-kotor adalah keniscayaan yang tak terhindarkan. Ia tak pernah tertarik pada ide berkomentar hanya dari kursi penonton, itulah sebabnya ia memilih bermain dengan atau tanpa bola. Ia paham bahwa dengan bermain, hidup menemukan cara yang paling tepat untuk dirayakan.

Niat Ginan membaca puisi pada malam-malam selanjutnya di Elos urung terlaksana, hujan tak pernah mengizinkan bulan seterang itu mampir lagi selama festival. Ia bersama Jeruji menyempatkan bermain di hari terakhir perayaan, itu adalah penampilan terakhirnya bersama Jeruji yang sempat saya saksikan. Empat hari lalu, malam mengabarkan kami berita yang menyesakkan. Di pemakaman keesokan harinya, di antara kerumunan saat doa-doa dibacakan, kalian bisa melihat jangkauan nyala itu dari mereka yang hadir. Ginan pergi meninggalkan nyalanya bersinar lebih terang dari sebelumnya.

Nuhun ‘lur. Istirahat sing tenang.

Posted in: Uncategorized