Penjarahan Massal Pernah Menjadi Katalis Hip Hop?

Posted on April 11, 2018

0


Hip hop lahir dari kemiskinan dan ketiadaan akses itu sudah lama diketahui dan tercatat. Namun siapa yang pernah menyangka jika kultur yang kini menghasilkan jutaan dollar ini berkembang pesat gara-gara penjarahan massal?

Adalah dua legenda pelopor hip hop Grandmaster Caz dan DJ Disco Wiz yang memulai cerita ini pada sebuah buku Yes Yes Y’all: The Experience Music Project Oral History Of Hip-hop’s First Decade, yang ia ceritakan pula pada video dokumenter NY77: The Coolest Year in Hell , dirilis tahun 2007 lampau. Ia bercerita lebih detail lagi tahun 2017 kemarin pada sebuah podcast, saat peringatan 40 tahun peristiwa padamnya listrik secara total di kota itu atau yang belakangan sering disebut sebagai Blackout 77.

New York era itu adalah New York yang terpuruk dalam kemerosotan ekonomi dan sosial. Krisis fiskal yang dimulai di awal 70-an menemukan puncaknya menjelang dekade itu berakhir, tepatnya di tahun 1977. Bisnis lokal satu persatu tutup. Restoran konon nyaris tidak ada, meskipun ada sudah sangat tak layak dan juga tak aman. Bangkai kendaraan di mana-mana, pula bangunan kosong yang nampak ditinggalkan dan terbakar akibat gelombang panas yang melanda sepanjang musim. Fasilitas publik banyak yang tidak lagi berfungsi, atau dalam kondisi buruk termasuk pula jalanan. Pekerjaan sulit ditemukan, hanya sedikit saja sekolah yang tersisa, terlebih uang dan layanan sosial. Tak perlu diceritakan soal mewabahnya narkotika dan kejahatan. Itu sudah satu paket dengan kemiskinan. Urban Decay.

Kalian bisa melihat dokumentasi kondisi di atas tadi secara selewat di artefak-artefak era awal hip hop, kompilasi Big Apple Rappin misalnya, atau buku Street Play milik Martha Cooper, atau hasil pengarsipan Johan Kugelberg; Born in the Bronx: A Visual Record of the Early Days of Hip Hop dan karya apik Edward Grazda; Mean Streets: NYC 1970-1985. Film seri The Get Down yang Netflix buat tahun kemarin pula cukup sukses mereka ulangnya.

Salah satu dokumen yang paling mencolok menggambarkan NY era itu adalah pamflet yang banyak dicetak dan disebarkan ke luar NY bahkan ke luar Amerika, dengan titel yang sangat mencekam; “Welcome to Fear City: A Survival Guide to Visitor to the City of New York”, berisi tips-tips penting untuk bagaimana tetap aman ketika berkunjung ke kota itu.

Hip hop saat itu sudah mulai menjadi fenomena, namun masih sangat bersifat lokal dan masih tak memiliki nama. Jika melihat buku Subway Art karya Henry Chalfant, graffiti bahkan sudah lebih dulu muncul dan dapat ditemukan di tembok, di kereta, di mana-mana. Secara musikal, hip hop masih berupa fenomena live, sama sekali belum masuk dapur rekaman dan masih berjarak dengan khalayak ramai dan media. DJ masih menjadi pemain utama, para MC/rapper belum menjadi primadona, masih sekedar figuran yang membuka event-event persis makna MC yang awam pahami.

Sejak Kool Herc membuat pesta apartemennya di 1520 Sedgwick Avenue pada tahun 1973, fenomena DJ dan pesta di ruang publik menjadi sebuah ritual umum. Pemuda-pemuda lokal mulai meniru aktivitas Kool Herc, mencari turntable sepasang dan memutar musik dansa yang mengandalkan bagian tertentu (biasanya bagian ‘break’) dari sebuah lagu dan mengulang-ngulangnya dengan menggunakan dua buah turntable. Namun -sekali lagi- semua itu masih sangat terbatas. Paling tidak itu yang dikatakan para saksi hidup era embrio itu, dari mulai Grandmaster Flash hingga Grand Wizard Theodore, sang penemu scratch.

Semua itu berubah setelah tanggal 13 bulan Juli 1977. Tepat ketika NY sedang meleleh berada di tengah musim panas, terjadi sebuah musibah yang memperparah keterpurukannya. Halilintar menyambar sebuah pembangkit listrik penting yang kerusakannya merembet ke seluruh kota. Otomatis satu kota, lima boroughs, menjalani hari tanpa listrik dan malam diselimuti gulita.

Pada sore hari di tanggal 13 Juli, Caz (yang saat itu memakai nama Casanova Fly) bersama DJ Disco Wiz melakukan rutinitas DJ set mereka; membuat pertunjukkan gratis di pinggir jalan, memainkan breaks dari musik-musik soul, funk dan disco. Membawa dua turntable, mixer, amplifier dan sepasang speaker di salah satu sudut Bronx. Saat beranjak malam, di tengah-tengah set, sound system mereka tiba-tiba tak berfungsi. Mereka berfikir listrik sedang padam di blok itu lalu memutuskan menyudahinya dan pulang. Di tengah perjalanan mereka menyaksikan toko-toko mendadak tutup lebih awal, mengunci semua pintu dan teralis. Mereka mulai sadar bahwa listrik melumpuhkan seluruh isi kota dan paham betul apa yang akan terjadi jika listrik padam, komunikasi terputus dan tak ada jaminan keamanan di tengah kota yang sedang dirundung krisis ekonomi dan sosial.

Begitulah yang terjadi sejak malam itu, toko-toko dibongkar dan dijarah. Para penjarah notabene merupakan warga sekitar; pria, wanita, anak kecil, dewasa, manula dari beragam ras membanjiri jalanan. Membongkar paksa toko-toko lalu mengambil barang-barang kebutuhan sehari-hari, furnitur, barang elektronik sampai komoditas tak penting seperti barang-barang di toko koin langka dan lukisan. Dari popok, sayuran hingga vinyl, perhiasan dan sofa. Para pemilik toko hanya bisa pasrah meski awalnya mereka berusaha mencegah.

Kejadian itu berlangsung hingga keesokan harinya. Caz dan beberapa rekannya melihat toko elektronik langganan bernama Sound Room dijarah di hadapan mereka. Melihat para tetangga menggotong radio, amplifier, speakers dan turntable keluar dari toko itu. Begitu massifnya hingga akhirnya mereka memutuskan untuk ikut pula ‘berbelanja’.

Yang layak dijadikan catatan adalah kesaksiannya setelah kerusuhan dan penjarahan. Perbedaan mencolok dapat dilihat antara sebelum dan sesudah hari penjarahan massif itu. Setelah tanggal 13-14 Juli setiap orang nampak ‘kaya raya’. Berpenampilan necis, memakai perhiasan gemerlap, sepatu baru bahkan beberapa orang memulai bisnis-bisnis lokal baru. Yang paling signifikan adalah dampaknya bagi aktifitas kultural, penjarahan memungkinkan orang-orang miskin di ghetto memperoleh peralatan musik termasuk turntable yang harganya sangat mahal terlebih di era pailit itu. “Sebelum blackout, paling banyak hanya ada 2 sampai 5 DJ di satu teritori, namun setelah kejadian itu setiap blok memiliki DJ nya sendiri, paling tidak satu DJ. It made a big spark in the hip-hop revolution” ujar Caz. Cukup beralasan, karena DJ merupakan fondasi paling awal musik hip hop, jauh hari sebelum ada mesin sampler. Tanpa DJ tak akan pernah ada rapper dan breakdancers, tak akan ada pula ide membuat musik yang di-loop dan dikonstruksi dari serpihan (rekaman) musik lain.

Sulit untuk membuktikan secara kualitatif pernyataan Caz dan Wiz. Namun kesaksian serupa banyak pula diutarakan oleh pelaku lain seperti Clark Kent, DJ yang terkenal di era 80-an dan Joe Schloss, akademisi yang meneliti kultur hip hop di City University of New York. Seperti kita tahu, New York di akhir 70-an adalah kota yang menjadi lahan subur energi kreatif. Bagi sebagian orang pernyataan Wiz dan Caz adalah kunci jawaban atas pertanyaan besar; bagaimana bisa sebuah kota yang bangkrut secara ekonomi dan dilanda depresi sosial dapat menghasilkan kultur se-vibran hip hop (dalam hal ini termasuk juga NY punk yang meledak di era yang sama.) Narasi ‘Robin Hood’ ini cukup menarik meskipun sulit dilacak lebih jauh. Tapi siapa yang tahu jika ada kemungkinan bahwa seorang pemuda berusia 17 tahun dan ketua gangster jalanan lokal yang terobsesi Kraftwerk membuat musik serupa dengan beragam alat musik hasil jarahan yang mahal dan sulit dijangkau oleh penghuni ghetto pada umumnya, terlebih gangster jalanan. Seseorang harus mewawancarai Afrika Bambataa nampaknya.

Posted in: Uncategorized