Demi Masa

Posted on May 19, 2017

0


1

Saya sangat mencintai Bandung di kala seperti tadi, lengang. Jalanan sepi, nyaris tak menemukan macet. Mengingatkan saya pada Bandung yang saya kenal dua dekade lalu. Mengizinkan saya berkendara menikmati jalanan dan angin sore seperti Lorenzo Lamas, meski dengan motor Mio.

Bandung kerap demikian jika Persib berlaga kandang, apalagi jika sang tamu adalah kesebelasan yang punya catatan khusus, seperti Persija misalnya. Seolah setengah isi kota pergi menonton di Stadion GBLA, berkumpul di café-café, ruang-ruang tunggu, lobi-lobi, atau di mana pun ada TV yang bisa dipakai nonton bareng. Bahkan kalian bisa menemukan beberapa supir angkot menunda trayeknya, menumpuk di warung-warung kopi membaur bersama pedagang atau pejalan kaki yang kebetulan lewat.

Sore itu saya berniat mencari tempat dengan pojokan yang cocok untuk menyeruput kopi panas dan menyelesaikan beberapa halaman terakhir buku Simulakra Sepakbola yang sedang saya baca. Hanya tinggal beberapa tulisan lagi. Itu petang yang nampak sangat cocok untuk menamatkan sebuah buku tentang sepakbola; di saat nyaris semua orang menonton sepakbola.

Memang tak membutuhkan waktu lama untuk menamatkan buku ini. Bukan karena tipis, namun lebih dikarenakan buku kumpulan essay karya Zen RS ini sangat menarik dan tak mengizinkan kalian untuk berhenti membaca hingga halaman akhir, kecuali terpotong hal-hal yang nampak sangat penting sehingga kalian menundanya. Seperti melihat jalanan kosong misalnya. Seperti sore tadi. Jika ada buku tentang sepakbola yang menarik perhatian seseorang yang tak lagi menyukai sepakbola seperti saya, pasti lah buku itu memiliki keistimewaan yang tidak biasa.

Zen menulis sepakbola melampaui sepakbola itu sendiri. Kalian yang sudah menamatkannya tentu akan sepakat. Misalnya saja, ketika Zen memakai analogi sebuah kesebelasan untuk menulis tentang sederet tokoh dari era bangsa ini berperang melawan imperialisme dan mencari gerbang menuju pembebasan. Wingback kanan adalah Agus Salim, Tan Malaka gelandang serang kiri, Douwes Dekker adalah bek tengah. Meski profil tokoh itu ia tulis singkat, cukup bagi siapapun (yang belum akrab dengan mereka) untuk tertarik menelaah lebih jauh siapa-siapa di ‘kesebelasan’ tersebut dan menyimpulkan bahwa spektrum ideologi pada saat itu begitu beragam, sehingga membantahkan banyak hal yang sering diajarkan versi sejarah monolitik di sekolah-sekolah.

Pula ketika ia bercerita tentang sepakbola yang tidak bebas nilai di tengah zaman yang bergolak. Baik ketika sepakbola digunakan sebagai kontrol sosial saat Indonesia dijajah oleh Belanda atau Italia di bawah cengkraman fasis Musollini. Bercerita bagaimana depolitisasi sepakbola pada dasarnya merupakan pemulusan jalan bagi komersialiasi penggemar sepakbola, dari zaman ke zaman.

Namun tak ada yang lebih istimewa lagi dari tulisan Zen pada buku itu selain tulisan personalnya. Terutama saat ia menulis tentang sepatu bola pertama yang ia miliki. Begitu intim dan memberi saya jalinan pukat sejenis, menangkap serpihan ingatan masa kecil yang berceceran dan memanggil ulang kehangatan yang menyertainya.

Sama seperti halnya kebanyakan anak-anak Indonesia lain, baik di era itu atau sekarang, saya pun pernah menyukai sepakbola. Amat sangat. Bermain bola sebelum dan sesudah waktu sekolah, ikut pertandingan antar kampung, menonton piala dunia di televisi, menunggu pagi bersama paman saat laga final Argentina-Inggris yang legendaris itu, melihat Gary Lineker meliuk dan Maradona bermain tangan tuhan sekaligus mencetak gol level dewa di layar kaca. Klub favorit saya adalah Liverpool. Ada alasan khusus mengapa saya mulai menyukai Pink Floyd gara-gara kesebelasan ini. Saya pernah memiliki lima poster kemenangan mereka di Liga Inggris menempel di kamar tidur. Poster-poster itu dahulu bisa dibeli di pasar Kosambi lima ratus perakan, termasuk poster momen terakhir mereka juara Liga tahun 1990, dan konon tak pernah lagi menang sampai hari ini.

Passion terhadap sepakbola ini mencapai puncaknya ketika satu hari saya kembali pindah ke Bandung, ditandai dengan antusiasme pada klub lokal, Persib, yang saat itu masih menjadi bagian dari Liga Perserikatan. Membolos sekolah untuk menonton laga kandang di Stadion Siliwangi, ikut kirab menjemput mereka bersama dengan rekan sekampung meski mereka kalah dari PSMS di final, dan puncaknya saat mengantar Persib memenangkan Liga Perserikatan terakhir melawan PSM tahun 1994 dan Divisi Utama pertama, melawan Petrokimia pada tahun 1995 di GBK.

Sejak final itu, ketertarikan saya pada sepakbola mulai memudar. Entah atas alasan apa tepatnya. Saya nyaris lupa. Mungkin karena fenomena fandom sepakbola menjadi sedemikian rupa menyebalkan dengan klub-klub fansnya, kedekatannya dengan primordialisme, asosiasinya dengan status quo lokal, mungkin juga karena politik dan konspirasi di belakang olahraga paling populer di muka bumi ini. Kemungkinan besar karena memang ada hal lain yang lebih menarik, musik misalnya. Sejauh ingatan, pertandingan terakhir yang saya saksikan 2×45 menit penuh adalah pertandingan tuan rumah Perancis melawan Brasil pada final Piala Dunia 1998, rame-rame di tenda posko ‘reformasi’yang marak berdiri di depan kampus pada pertengahan 1998 tak lama setelah Suharto dipaksa turun. Artinya, hampir dua puluh tahun saya tak pernah lagi menonton bola dengan ‘serius’. Seperti Zen kecil dan anak kecil lainnya, saya pun pernah memimpikan memiliki sepasang sepatu bola. Hanya saja, hingga waktu hasrat terhadap sepakbola itu meredup -dan pada akhirnya lenyap sama sekali- saya tak kunjung memilikinya.

Saya lantas teringat Rangkasbitung. Tempat lahirnya momen-momen di mana saya pernah menganggap bermain sepakbola lebih penting dari pergi ke sekolah. Tepatnya di salah satu desa bernama Tajur. Sebuah desa miskin yang mayoritas penduduknya bertani dan bercocok tanam.

Nama Rangkasbitung cukup banyak tercatat pada sejarah di era perang kemerdekaan. Banten memiliki beberapa kisah perjuangan rakyat yang revolusioner. Perlawanan petani 1888, pemberontakan kaum komunis dan ulama tahun 1926, juga revolusi sosial ditahun 1945-1946, termasuk cerita tentang Tan Malaka dan sekumpulan pemuda lainnya mengadakan rapat-rapat rahasia menjelang proklamasi kemerdekaan. Meski jarang disebut dalam buku sejarah resmi versi negara, kisah perlawanan rakyat Rangkasbitung dan Banten pada umumnya membuktikan Dewan Rakyat dan gerakan revolusioner, pernah menjadi bagian tak terpisahkan dalam revolusi kemerdekaan kita. Bahkan di era kolonial sekalipun, kemiskinan dan korupnya negara sudah menjadi legenda dalam cerita-cerita di peta sejarah nasional. Max Havelaar misalnya. Mungkin karena itu pula radikalisme pernah terbangunkan di sana.

Saya bersekolah di SD Negeri bernama Kaduagung, sekarang konon telah berubah nama menjadi Mekar Agung. Letaknya sekitar 5 Km dari kota. Rumah nenek tak jauh dari SD itu, kira-kira hanya 500 M saja. Sebagian besar muridnya bersekolah tanpa alas kaki, bahkan sebagian lain tanpa seragam.

Sepakbola adalah menu harian kami. Bermain sebelum dan sesudah jam pelajaran. Bermain di bukit, lembah dan di sisi sungai. Di mana pun ada lahan kosong, kami bermain bola. Tak peduli jika tempat itu tanahnya sama sekali tidak rata, berlumpur atau landai.

Kami sering pergi ke kampung-kampung tetangga untuk bertanding. Ke Warung Gunung, Maja bahkan sampai ke Pandeglang. Kami tempuh dengan berjalan kaki. Memancing ikan di sungai di tengah perjalanan, untuk kemudian kami masak bersama dengan liwet sederhana bersama tim lawan seusai bertanding. Waktu terasa panjang, dan Rangkas terasa sangat luas.

Lulus SD saya kembali ke Bandung. Namun masih sering mengunjungi kota itu saat Lebaran atau liburan. Pasca nenek wafat pada tahun 1990, Rangkasbitung sudah sangat jarang saya kunjungi. Satu-satunya gambaran Rangkas yang terimajinasikan dalam kepala saya adalah Rangkas yang kerap diceritakan oleh seorang sahabat yang masih berkirim surat hingga akhir 90-an. Saya agak terkaget ketika saya kembali ke sana enam tahun lalu, melihat pabrik-pabrik mulai berdiri. Meski tidak sesemarak di kawasan industri, namun saya mulai merasa ada sesuatu yang besar sedang bergerak di Rangkasbitung.

Sahabat-sahabat masa kecil saya mayoritas sudah tidak lagi bertani, bahkan sudah tidak memiliki lagi sawah, dan sebagian lagi sudah tak memiliki tanah sama sekali. Meskipun ada yang tersisa, mereka bekerja di ladang-ladang milik tuan-tuan tanah, menjadi buruh tani musiman. Ada kecenderungan aneh di mana mereka menjual tanah-tanah warisan orang tua mereka dan kemudian memilih bekerja sebagai buruh. Konon pendapatan dari bekerja sebagai buruh industri lebih tinggi dibanding hasil dari menggarap lahan.

Kebanyakan dari mereka bekerja di luar Rangkasbitung. Terutama di Tangerang, Bekasi, di Kawasan Berikat Nusantara di Cakung dan yang paling banyak di kawasan industri Cikande yang tak jauh dari Rangkasbitung, hanya satu jam perjalanan. Dahulu kami sering bermain bola di sana. Pabrik-pabrik baru berdiri di awal 90-an, namun bukan apa-apa dibandingkan dengan kawasan industri sekarang yang ribuan hektar luasnya dan konon akan terus ditambah. Foxconn saja menurut kabar akan membangun pabrik perakitan handphone di atas lahan seluas 5000 hektar. Itu baru Foxconn, entah yang lain.

Enam tahun lalu dalam satu lawatan, saya melihat lapangan bola kami sudah tergantikan oleh sebuah pabrik gypsum. Saya sempat berkunjung ke rumah teman lama di sekitar situ. Dari tuturannya saya mendapatkan cerita-cerita yang sama dengan yang saya dapatkan di Tajur. Nyaris semua teman SD dulu sudah tak tinggal lagi di sana. Ia sendiri bertahan karena satu tangannya lumpuh dan tak bisa diterima bekerja di pabrik. Ia mencari nafkah sehari-hari sebagai pedagang kaki lima.

2

Bukan lagi desas-desus jika perkembangan kapitalisme lanjut sesungguhnya tak dapat dilepaskan dari ikhtiar penguasaan atas ruang yang artinya juga pengendalian atas waktu. Ada cerita tentang ruang yang menyempit dan waktu yang mengkerut pula di Rangkas ketika nyaris semua warga masuk dalam alam ekonomi berporos uang. Tak hanya kehilangan hubungan metabolik mereka dengan alam, pun mereka terdisiplinkan oleh waktu yang dirancang oleh industri.

Cerita tentang Rangkasbitung dan Cikande itu bukan lagi cerita luar biasa di alam “pembangunan” seperti hari ini. Sedikit banyaknya ada kemiripan dengan cerita di Maluku sana yang pernah saya baca pada buku laporan perampasan ruang hidup di Halmahera. Seorang warga Lolobata biasanya membutuhkan waktu dua hari berjalan kaki ke Subaim, di kemudian hari ketika tambang masuk dan pembangunan hadir massif di sana, ia hanya memerlukan dua jam untuk mencapainya. Bukan perkara penghematan waktunya yang menarik, namun komentar sang warga yang merasa ruang menjadi mengkerut, semakin sempit bagi mereka.

Ada kalimat yang paling dramatis dari buku itu yang layak dikutip; “Tambang yang hadir di sana merubah cara pandang masyarakat yang tubuh dan perasaaanya pernah menekuni tanah, menunggui kelapa bertumbuh, mengail ikan-ikan dan hidup mereka selalu dicukupi sepanjang waktu oleh alam yang berdenyut dan tumbuh bersama anak-anaknya. Ruang dan waktu telah dicuri diganti dengan yang baru, diimpor dari Jakarta, Jepang, Perancis, Rusia dan tempat-tempat yang tak terbayangkan.”

Nyaris tak ada yang istimewa. Cerita seperti ini bisa kalian temukan bahkan hingga nun jauh di Papua sana. Warga lokal bukan hanya kehilangan ruang hidup aslinya dan menemukan alamnya luluh lantak, namun mereka pula kehilangan ikatan sejarahnya dengan tanahnya sendiri dan pada akhirnya kehilangan pilihan dan kebebasan.

Membaca Rangkasbitung dan Cikande hari ini identik dengan membaca arus kapitalisme global bekerja. Arus yang mulai bekerja di pinggiran dan dalam harian orang banyak. Membaca Tajur atau Subaim berarti pula merapal ulang mantra keramat bahwa kapital harus bekerja sebagai kapital. Artinya, ia harus terus berakumulasi. Tidak boleh berhenti, tidak boleh menumpuk menjadi surplus. Karena ketika kapital menumpuk, surplus itu tidak boleh mandeg menjadi angka-angka semata dan berujung inflasi atau kesemuan nilai.

Ia pula tak boleh dibagi-bagikan gratis. Karena memang kapitalisme tidak bekerja sebagai amal sodaqoh. Tidak ada kata berhenti berakumulasi dalam kamus kapitalisme. Proses sirkulasi ini harus terus bergerak, menghasilkan pertumbuhan ekonomi dengan catatan khusus; penimbunan kekayaan di satu sisi dan kekurangan di sisi lain. Jika kecepatan penimbunan ini melampaui kemampuan perekonomian menampung alirannya, pada saat itu lah krisis akumulasi berlebih terjadi seperti Indonesia 1998, Yunani 2015 atau Amerika 2008. Badai resesi.

Tentunya, masalah-masalah tadi sudah terpikirkan oleh kapital global untuk kemudian dicari jalan keluarnya. Jika tidak, ramalan Marx bahwa kapitalisme akan bertemu liang kuburnya sudah terjadi sejak dahulu. Mereka sudah jauh hari memikirkan bagaimana dan ke mana jalan yang ditempuh ketika kapital begitu banyak sementara bidang tanamnya semakin sedikit. Ini lah poin utama dari teori David Harvey soal temporal-spatio-fix yang rumit-rumit itu ketika ia mencoba mengambil tongkat estafet dari filsuf terakhir yang tersisa dari pemberontakan Paris’68, Levebre, menjelaskan bagaimana kapitalisme bisa bertahan dari badai krisis; lewat penciptaan perluasan ruang.

Diperlukan pembentukan ruang kapital baru untuk mengalihkan kelebihan-kelebihan yang menumpuk tadi dari tempat lain ke wilayah pinggiran yang belum tersentuh sebelumnya. Terdengar familiar bagi kalian yang berjam-jam menghabiskan waktu bermain game “Age of Empire”. Kapital harus ditanam pada suatu bidang ruang melalui pembangunan wilayah-wilayah industri baru atau zona perekonomian baru yang mencakup pembangunan infratruktur fisik seperti jalan bebas hambatan, pelabuhan, bandara, sumber energi, bendungan pula pembangunan sarana nonfisik seperti sistem pendidikan, hukum, layanan kesehatan, apapun yang sesuai dengan kepentingan kapital. Lahannya mereka pakai dan penduduknya dijadikan cadangan tenaga kerja. Tenaga kerja yang murah tentunya.

Itu alasan mengapa badan-badan perencanaan pembangunan seperti ERIA lahir dan membuat master plan seperti MP3EI saat rezim SBY lalu, sekaligus perancang rencana “konektivitas” pembangunan di Asia hari ini. Dan bagi kalian yang pernah menelisik MP3EI tentu tak akan kaget bila RPJMN rezim hari ini tak ada bedanya; desain pembangunan yang sejak awal hanya ditujukan dan dibuat melalui konsultasi, diskusi, dan partisipasi dunia bisnis dan pemilik korporasi raksasa. Mereka-mereka yang menggantikan penaklukan terang-terangan (baca: penjajahan) yang dipraktekan sebelum Perang Dunia II oleh kekuatan-kekuatan kolonial.

Setidaknya dari dominasi kosakata MP3EI yang bertaburan dalam RPJMN kita dapat menyimpulkan bahwa RPJMN adalah kelanjutan dari proyek imperialisme di Indonesia. Mulai dari Pabrik Semen Sukabumi dan Rembang, Bandara Kertajati dan Yogyakarta, PLTU di Cirebon dan PLTA Jatigede, bahkan yang di ujung Papua sana, Trans Papua dan MIFEE. Semua keberadaan proyek-proyek infrastruktur tersebut tak bisa dilepaskan dari rencana besar kapitalisme global mencari sumber daya-sumber daya dan ruang-ruang baru bagi dirinya.

3

Kami tiba di desa Garongan, Kulon Progo dalam waktu yang relatif cepat. Kami masih sempat mengunjungi pantainya sebelum petang datang. Deruan ombak pecah, kepiting kecil berlarian dan seorang warga memancing ikan dengan kesabaran paripurna. Istri saya menghampirinya untuk bertanya ikan jenis apa yang bisa dipancing di air yang berombak sebrutal itu. Pantai pasir hitam itu dikotori limbah sampah di sana-sini. Sedotan plastik, odol dan bungkus Indomie diantaranya. Sang pemancing bercerita bahwa sampah-sampah itu bukan hasil warga sekitar, kotoran itu berasal dari tempat lain, terbawa ombak dan berakhir di pantai itu. Kemungkinan besar sampah-sampah dari kota yang dibawa sungai bermuara.

Kami melihat awan hitam di ujung pantai lain di kejauhan, menghadang matahari terbenam yang kami tunggu. Jaraknya yang semakin dekat merupakan tanda bagi kami untuk segera kembali pulang ke rumah warga tempat kami menginap. Di sepanjang jalan dari pantai menuju kampung warga kami melintasi jalan kecil yang kiri-kanannya adalah ladang-ladang warga. Di pesisir ini mereka menemukan cara bercocok tanam, membuat lahan pantai yang panas dan gersang sedemikian rupa sehingga bisa ditanami dan membuahkan hasil pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi warga di sana sejak pertengahan 80-an. Pada bukunya, Menanam Adalah Melawan, Mas Widodo bercerita tentang seorang warga lokal bernama Sukarman menemukan teknik pertanian lahan pantai yang membuat penduduk desa miskin itu akhirnya bisa meningkatkan kesejahteraan mereka dan para pemuda tak lagi bekerja di luar desa, di industri-industri atau jadi buruh imigran.

Mereka memiliki cerita panjang melawan invasi tambang besi yang merangsek hendak menggusur warga dari sana 12 tahun lalu. Merampas ruang hidup, mengeruk kekayaan alam dan merusak tatanan ekologinya. Hari itu adalah perayaan 12 tahun hari jadi organisasi perlawanan mereka. Melalui jalan panjang perlawanan dan pengorganisiran warga, intimidasi, teror dan kriminalisasi, mereka berhasil mengusir rencana tambang yang merupakan gabungan kekuatan Sultan, korporasi dan aparat.

Cerita perlawanan di Kulon Progo ini merupakan sedikit saja keteladanan perlawanan warga yang tersisa hari ini di hadapan ekspansi kapital. Kisah tentang bagaimana mereka menolak hidup mereka dipaksa untuk ‘dipercepat’ oleh keputusan-keputusan yang bukan berasal dari kampung mereka. Kita jarang menemukan perjuangan warga yang tak hanya militan, solid namun juga otonom dan bersolidaritas. Cerita keteladanan seperti ini yang sudah seharusnya dikabarkan ke seluruh pelosok negeri, karena hal-hal yang rumit tadi memiliki solusi yang sederhana; mempertahankan setiap jengkal ruang hidup di garda terdepannya; di kampung halaman.

4

Kami memutar film yang sedang kami edit ini berulang-ulang. Rasanya ada yang masih kurang cocok. Entah apa. Saya meyakinkan kawan-kawan lain bahwa film ini terlalu pendek. Bahkan sebagai film setengah dokumenter sekalipun. Film ini dibuat sebagai bagian dari materi pendidikan di kalangan kawan-kawan buruh. Perihal bagaimana potret besar kapital bekerja di Asia Tenggara, tentang buruh-buruh di regional ini bekerja membangun organisasi dan melawan penindasan. Tujuannya, memberi pespektif luas tentang ekspansi besar-besaran yang terjadi dan meyakinkan para buruh lokal bahwa mereka tidak sendirian. Mereka bagian dari gerakan besar melawan penindasan itu.

Namun lagi-lagi alasan utamanya adalah waktu. Film itu harus tetap pendek. Kawan-kawan tak ingin menyita waktu istirahat para buruh terlalu lama. Bagi mereka yang tak memiliki pilihan banyak dan waktunya dicuri oleh industri, waktu sungguhlah sesuatu yang berharga. Mereka tak memiliki surplus leisure time seperti kelas menengah. Setengah jam film sudah cukup sebagai pemantik diskusi selama dua jam. Tak bisa lebih lama lagi.

Waktu adalah uang. Dalam alam ekonomi berporos uang ini sulit untuk menginterupsi dan berujar bahwa waktu adalah hidup, bukan bertahan hidup. Puisi-puisi Chairil Anwar yang menyerukan untuk hidup sehidup mungkin tak memiliki ruang banyak di depan mengkerutnya waktu pasca kehilangan pilihan dan kebebasan. Jangan salahkan khalayak ketika berbondong orang tergesa-gesa. Tak ada yang mau rugi dalam lingkaran bertahan hidup kapitalisme yang ritmenya tunduk dan taklid semata pada percepatan metronom akumulasi kapital.

Pada satu petang yang bergerak perlahan, sambil menghitung kacang panjang dan oyong hasil panen, Mas Widodo bercerita panjang tentang harapan besarnya di teras rumah. Bahwa perlawanan kawan-kawan di sana diharapkan bisa semakin kuat, karena satu proyek besar lain sudah berjalan di lokus yang sama; pembangunan bandara internasional.

Pilihan mereka tidak banyak. Jika kalah, Kulon Progo akan memiliki cerita yang sama dengan Halmahera ketika tambang menginvasi. Ketika pembangunan dan mitos peluang kerja hadir, fenomena kapling dan ganti rugi menjadi ujung tombak rusaknya hubungan sosial. Masyarakat kehilangan hubungan primordialnya dengan tanah, konflik antara sesama masyarakat dan keluarga saling bersaing demi mendapatkan jatah ganti rugi, untuk kemudian menyaksikan bagaimana warga menggunakan uang ganti rugi itu sebagai sumber penghidupan dan menghabiskannya begitu cepat. Lalu bukan hanya efek ekologi (hancurnya alam) yang hadir, tapi juga efek sosial yang berkembang dalam bentuk kesenjangan ekonomi dan kriminalitas. Ketika ruang hidup terebut, waktu akan semakin mengkerut.

Ketika malam mulai merayap, kami pergi ke lokasi panggung tak jauh dari situ. Para warga melakukan pengajian dan syukuran atas hari jadi Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulonprogo. Teman-teman datang dari berbagai lokasi yang berjauhan, hadir di sana memberi solidaritasnya. Bermain musik, berpantun, bernyanyi dan berkisah.  Berbincang-bincang perihal banyak hal, bertukar pengalaman dan cerita. Berbagi ide, tawa, kopi dan tembakau. Kami menikmati momen itu. Seolah kami semua sepakat bahwa malam seperti itu adalah kemewahan yang jarang terjadi di antara rentetan cerita kekalahan perjuangan akar rumput.

Tiba-tiba saya ingat satu cerita dari buku Zen yang baru saja saya tamatkan. Cerita tentang waktu yang berhenti ketika drama penalti pada laga final berakhir dan Persib menjadi juara. Ia menulis dengan puitik bagaimana hidup berlangsung bukan dari waktu ke waktu, namun dari suasana ke suasana. Momen ke momen. Bagi saya momen malam itu di Garongan mungkin seperti apa yang Zen tulis pada satu malam miliknya di Stadion Gelora Jakabaring, Palembang.

Posted in: Uncategorized