Catatan Kecil di Peringatan 20 Tahun Thukul Menulis “Catatan”

Posted on January 20, 2017

4


*Ditulis sebagai bagian dari momen mengenang Wiji Thukul di Kumparan, teribut personal atas inspirasi dari puisi dan perjuangannya. Seiring dengan diputarnya film “Istitahatlah Kata-Kata” di berbagai kota di Indonesia. Panjang Umur Thukul. Berlipat gandalah perlawanan.

thukul

Saya pertama kali mendapatkan puisi Wiji Thukul dalam bentuk fotokopian. Pada satu siang saat kabur dari kelas Penataran P4, pada minggu-minggu pertama masuk kuliah pertengahan 90-an. Duduk di pojokan mengamati sekumpulan mahasiswa aksi. Mereka membawa buruh ke depan kampus untuk berorasi dengan tujuan mengenalkan penindasan terhadap kaum pekerja dan perihal gerakan perlawanan yang sedang mereka bangun di pabrik.

“Satu Mimpi Satu Barisan”, “Bunga dan Tembok” dan “Peringatan”. Tiga puisi itu berhimpitan dengan pernyataan sikap dan penjelasan perihal aksi di hari itu. Uniknya, puisi Thukul sama sekali tidak terbaca sebagai puisi. Paling tidak awalnya. Lebih mirip semacam kutipan kabar. Mirip kolom pendamping artikel utama yang ada di lembaran itu yang mengabarkan tentang penindasan rezim terhadap para buruh lewat politik upah murah.

di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah

Penggalan “Satu Mimpi Satu Barisan” itu nampak terlalu menohok untuk disebut puisi. Terlalu jelas dan lugas, meski kalian pernah membaca puisi protes Rendra sebelumnya. Larik-larik perlawanan saat itu paling hanya bisa kalian temukan pada lagu-lagu populer (umumnya balada), itu pun subtil. Jika pun ada, puisi-puisi pembangkangan yang kalian temukan memiliki masalah dengan ‘nyawa’. Baris-baris puisi Thukul justru menyala karena bernyawa. Ia bahkan memiliki kekuatan ‘seruan’ yang tidak dimiliki oleh provokasi lembaran pamflet demonstrasi. Misalnya saja “Bunga dan Tembok” ini;

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

Puisi Thukul memiliki daya kejut yang luar biasa. Ia membuat pembacanya menyelidiki mengapa ada orang menulis seperti itu, untuk kemudian mulai mempertanyakan kebenaran-kebenaran versi rezim yang mendominasi nalar. Tak pernah sebelumnya saya membaca bait puisi begitu frontal dan membukakan mata terhadap hal lain yang sebelumnya asing. Ini perlu menjadi catatan khusus: meski saat itu ambang senja sudah mendekat bagi Orde Baru, kekuatan mereka masih mencengkram kuat. Termasuk dalam hal melakukan pembodohan-pembodohan publik melalui jalur-jalur pendidikan, ekonomi dan budaya. Hal-hal seperti perampasan lahan dan keterasingan buruh adalah sesuatu  asing bagi anak muda yang baru lulus SMA di kota besar.

Bagi anak muda di era Suharto yang dikebiri daya kritisnya sedemikian rupa oleh media dan institusi-institusi pendidikan yang ada sehingga mempercayai bahwa hanya ada satu versi kebenaran yang berlaku (kebenaran versi Orba), puisi Thukul adalah jendela besar untuk melihat keluar. Terlebih ketika wacana perlawanan yang ada (termasuk yang ada pada pamflet yang saya pegang saat itu) terlihat terlalu ‘serius’, kering, rumit penuh dengan kalimat-kalimat jelimet yang sulit dipahami oleh anak muda yang hanya tahu soal bagaimana bersekolah, kuliah dan bersenang-senang menikmati masa muda.

Beberapa waktu kemudian saya bertemu kembali dengan puisinya. Kali ini berefek dengan skala yang ‘mengubah hidup’ di penghujung 1997. Tak bisa dilepaskan dari momen penting setahun sebelumnya, pasca peristiwa “Sabtu Kelabu” di 27 Juli 1996. Saat itu santer propaganda pemerintah yang rajin memperingatkan khalayak bahwa ada gerakan pemberontakan melawan rezim yang dipelopori oleh sekumpulan anak muda. Thukul menjadi bagian di dalamnya.

Saya menemukan lagi puisi yang kali ini dengan bentuk yang lebih brutal. Judulnya “Masihkah Kau Membutuhkan Perumpamaan”. Saya ambil penggalan yang paling penting:

Waktu aku jadi buronan politik
karena bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik
namaku diumumkan di koran-koran
rumahku digrebek –biniku diteror
dipanggil Koramil diinterogasi diintimidasi
(anakku –4 th– melihatnya!)
masihkah kau membutuhkan perumpamaan
untuk mengatakan: AKU TIDAK MERDEKA

Puisi ini justru merupakan puisi Thukul yang paling puitis bagi saya. Dari bait-baitnya, kita bisa membayangkan serepresif apa rezim sehingga seorang penyair kehilangan perumpamaan. Thukul justru menggambarkan dengan jelas sepuitik apa momen hidupnya di era itu. Krisis ekonomi yang hadir sebagai konsekuensi dari pembangunanisme yang korup dan membuat orang-orang pinggiran seperti dirinya semakin tertindas. Melahirkan gerakan perlawanan yang semakin hari semakin membesar. Semakin direpresi semakin militan.

Dari ‘nyala’ dan ‘nyawa’ itu, Thukul tak hanya merubah pandangan saya terhadap puisi, ia juga merubah pandangan saya ketika berhadapan dengan pertanyaan apa fungsinya seni di hadapan barisan tameng dan poporan bedil. Di mana relevansinya ketika ia berhadapan dengan permasalahan paling penting di muka bumi; soal upah, soal cari makan, soal isi perut. Jika bagian dari kelas menengah seperti saya saja bisa terbakar oleh baris-baris puisinya, bisa dibayangkan jika puisi ini hadir di tengah komunitasnya, para kelas pekerja, para buruh, kaum miskin kota, petani, mereka yang terpinggirkan dan ditumbalkan oleh pembangunan. Puisi Thukul ini lah salah satu alasan utama mengapa tak lama kemudian saya bergabung di PRD, meski beberapa tahun kemudian saya keluar atas alasan yang lain.

Thukul memberikan contoh yang paling nyata tentang bagaimana membuat kata-kata menjadi senjata. Puisi-puisinya tak hanya memberitakan. Karena ia merasa tak cukup orang lain tahu. Ia butuh orang lain pun terlibat di dalam perjuangannya. Karena kebutuhannya jelas; ia perlu merubah hidupnya, keluarganya. Tapi dari puisinya pula kita belajar tentang hal yang paling penting ketika melakukan perubahan, terutama dari puisi “Tentang Sebuah Gerakan” ini:

tadinya aku pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang!

aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?

aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku

aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?

Ia meyakini bahwa perubahan tidak bisa dilakukan sendirian. Itu alasan mengapa lalu ia bergerak menceburkan diri dalam pengorganisiran warganya. Puisinya justru hidup dan bernyawa karena ia tak hanya menulis puisi. Ia ada di rapat-rapat warga, di demonstrasi buruh, di aksi protes petani. Menjadi bagian dari pergulatan dengan konsisten.

Namun demikian ia bukan pahlawan yang ingin membela orang lain. Imaji ‘martyrdom’ yang kerap membuat banyak orang berjarak dengannya. Ada suatu saat dalam wawancaranya ia berkata bahwa “Kalau saya yang bilang begitu namanya takabur. Dan memang perlu diluruskan bahwa saya tidak membela rakyat. Saya sebenarnya membela diri saya sendiri. Saya tidak ingin disebut pahlawan karena berjasa memperjuangkan nasib rakyat kecil. Sungguh saya hanya bicara soal diri saya sendiri. Lihatlah saya tukang pelitur, istri buruh jahit, bapak tukang becak, mertua pedagang barang rongsokan, dan lingkungan saya semuanya melarat. Mereka semua masuk dalam puisi saya. Jadi, saya tidak membela siapa pun. Cuma secara kebetulan, dengan membela diri sendiri ternyata juga menyuarakan hak-hak orang lain yang sementara ini entah di mana.”

Ia menolak disebut sebagai penyair protes. Ia hanya meminta menjelaskan di mana posisi keberpihakan kita di hadapan rezim, persis seperti pada puisinya, “Tikar Plastik-Tikar Pandan”. Persis seperti ketika ia menolak membacakan puisi pada saat HUT ABRI seraya mengatakan “Saya tidak mungkin membaca puisi di tempat di mana kawan-kawan saya dilarang.”

Sampai titik ini, Thukul pula yang memberikan saya perspektif lain dari ‘seni kerakyatan’. Bukanlah puisi-puisi Thukul yang membuatnya kemudian menjadi seorang ‘seniman kerakyatan’, ‘seniman pemberontakan’ atau apapun istilah heroik lain yang ditempelkan pada dirinya. Yang membuat relevan dari puisi-puisinya justru adalah ketika ia memutuskan dengan sadar terlibat dalam usaha kolektif sekelilingnya dalam merubah dunia mereka, mulai dari menuntut pabrik yang mencemari lingkungan desanya, menuntut upah yang layak dari pabrik di desa mereka, hingga menuntut militer keluar dari urusan kehidupan sosial sehari-hari yang pada akhirnya membuat ia dihilangkan oleh rezim.

***

genap 1/2 tahun aku pergi
aku masih bisa merasakan
bergegasnya pukulan jantung
dan langkahku
karena penguasa fasis
yang gelap mata

(“Catatan”)

Bulan ini genap 20 tahun Thukul menulis puisi “Catatan”-nya itu. Sekian lama pula ia tidak pulang. Hal penting yang harus selalu dicatat ketika membaca ulang puisinya dan mengenang sosok seorang Wiji Thukul adalah bagaimana kemudian melanjutkan perjuangannya. Karena segala hal yang ia dan rekan-rekannya lawan dahulu masih eksis hari ini dalam bentuk yang tak pernah jauh berbeda. Politik upah murah, perampasan lahan, penggusuran, fasisme tak pernah lenyap di halaman depan dan belakang republik ini. Mesin-mesin rakus yang ia ceritakan di puisinya tak pernah berhenti berekspansi dan memakan korban. Tembok yang ia lukiskan di mana benih-benih bunga harus tumbuh, masih angkuh berdiri.

Tapi ini hanya catatan saja jika memang ini dianggap penting. Hal yang hanya jika kita tidak menganggapnya demikian maka hilangnya Thukul pula tidak perlu kita ingat. Juga semua nama-nama orang yang pernah dihilangkan rezim. Termasuk Munir yang –empat tahun sebelum ia dilenyapkan negara– pernah menulis pengantar pada buku kumpulan puisi Thukul yang diterbitkan pada tahun 2000; “Catatan [orang hilang] itu akan semakin panjang kalau kemudian kita melihat lebih rinci bagaimana Orde Baru dengan kekuatan militernya beroperasi menghancurkan sumber-sumber demokratisasi… dan Thukul adalah guru kita bersama untuk melawannya.”

*

Posted in: Uncategorized