Di Ujung Ingatan

Posted on December 31, 2013

13


– untuk Pam, Linggo, Aszy, Reggi, Gembel, Harold dan mereka yang pernah datang di satu malam mengingatkan saya untuk menjaga kewarasan. Di manapun kalian sekarang.

hujan

Menuju subuh di Bandung yang mulai dingin menggigit. Hari merayap menuju akhir penanggalan. Tak lama lagi tahun berujung dan almanak-almanak baru dibuat. Pemujaan terhadap Desember dimulai, Kenangan-kenangan tercecer dikumpulkan, do’a-do’a dipanjangkan, harapan-harapan dibungkus, botol-botol berdenting, dan kesibukan ritual di altar ingatan dimulai dan berakhir. Media-media dengan kleidoskop tahunan, para pecundang dengan resensi album terbaik, saya dan kamar redup, kopi mendingin dan monitor menyala.

Saya tak punya memori khusus perihal menutup tahun. Saya berusaha keras membuatnya terkesan merayap ketika saya paham betul bagaimana semuanya bergegas di tahun ini. Entah untuk apa. Mungkin beberapa memori belum selesai saya buat totem. Beberapa lain belum tuntas dilupakan.

Oleh karena itu, nampaknya, saya kembali berhutang banyak pada penghujan di penghujung tahun. Hujan dan sore-sore di bulan ini membuat saya bisa menerima kesenduan sebagai sesuatu yang jauh lebih baik dibanding mengutuk kehilangan dan ketertinggalan di hadapan waktu. Di tahun yang membuat saya harus memaklumi banyak hal, membiarkan kebanalan rutinitas tanpa perlawanan berarti dan mengikhlaskan beberapa kawan pergi dan beberapa mimpi memudar. Kekalahan dan kehilangan memang harus lebih penting untuk dicatat ketika kemenangan lebih layak dirayakan.

Ada yang penting sekaligus mubazir dalam hal mengenang waktu. Meski agak buram, saya masih mengingat mengucapkannya ketika menenangkan seorang sahabat mabuk dan mengamuk di suatu malam. Menangis dan marah. Ingatan tak akan mengembalikan waktu yang hilang. Namun mungkin salah satu cara untuk menjaga kewarasan adalah mengingat waktu-waktu waras. Ketika memori tentang segala hal yang diinginkan sebagaimana dimimpikan menemui kenyataan di perempatan jalan. Konon disitu harapan disembunyikan.

Saya ingat saat tak lama tahun ini dimulai, beberapa malam sebelumnya, kami berbicara di angkringan Magelang di Tugu Pahlawan yang sebenarnya tak pernah cocok untuk dipakai berngalor-ngidul berlama-lama. Ia hanya membeli tiga tusuk sate telur puyuh, saya membeli semua lauk dan 2 kepal nasi, kelaparan. Saya berfikir, mungkin dengan sedikit kenyang, saya bisa dengan lancar mengutarakan kejujuran saya perihal kekecewaan terhadap dirinya yang saya simpan rapih berbulan-bulan, hingga akhirnya kehilangan ruang, berdesakan dengan kepingan-kepingan strategi politik, manajemen konflik, pengorganisiran komunitas, utopia basi dan omong kosong sejenis.

Saya tak menyangka jika malam itu menjadi titik balik dari apa yang hampir setengah dekade kami jalani. Dengan sedikit terbata, saya mencoba jujur dan sedikit kurang ajar. Mempertanyakan banyak hal, keanehan, gosip-gosip jalanan dan mendungnya langit Bandung. Ada raut yang tak biasanya datang, kombinasi dari kekecewaan dan kelelahan di wajahnya. Kami pulang dengan obrolan menggantung. Meski tak tuntas, saya tak pernah mempersoalkannya lagi. Namun sejak itu, malam-malam di tangkringan tak pernah lagi sama. Malam yang mengajari kami untuk tetap menyediakan ruang untuk mengikhlaskan banyak hal, sebelum menjadi duri dan gejah yang membuat kepenasaran menjadi luka.

Saya dan kawan-kawan lain memeluknya ketika malam mabuk itu. Tak bisa disembunyikan lagi kekecewaan besar darinya yang merasa ditinggalkan saudara dan sahabat. Kami membisik dan berteriak meyakinkannya bahwa bagaimanapun kami tetap ada. Kami tak mungkin melupakan kehadirannya selama ini ditengah-tengah kami, sebagai saudara, mengorbankan banyak hal berdiri di samping kami selama bertahun mempetisi jalanan Bandung. Tak pernah akan ada yang merubah dan menggantinya. Malam kadung terluka namun ia tahu, meski mabuk, di pojokan bumi manapun kami akan selalu datang ketika ia meminta meski langit mulai terbelah poros memisahkan apa yang dahulu kami kerjakan bersama.

Dan tiba-tiba saya teringat Bani, pada suatu malam yang berakhir dengan berjalan kaki menyusuri Terusan Pasteur. Dahulu sekali saya sering melakukannya, ketika saya dan Ibu Bapak masih tinggal di Gunung Batu. Saya menyaksikan bus khusus rombongan Suharto melewati tol Pasteur saat jalan pemendek jarak itu diresmikan. Jalan itu adalah jalan paling nyaman digunakan berjalan kaki dahulu. Sekarang menjadi jalan paling sibuk di Bandung pada akhir pekan dan liburan.

Saya berhenti tepat di depan Hotel Grand Aquilla, ada bayangan sosok almarhum di benak saya. Beberapa tahun lalu kami sempat menghabiskan banyak waktu disitu, beberapa bahkan tinggal bersama para buruh hotel itu yang mogok dan mendirikan tenda posko protes tepat di bibir Hotel. Pada suatu malam isu sweeping beredar, kami datang kesana berpuluh. Rombongan SBY akan datang lewat pintu Pasteur dan walikota tak ingin ada keriuhan tak jelas yang mengotori jalanan yang akan dilewati sang Presiden.

Kami diminta korlap aksi dan LBH sebagai koordinator solidaritas untuk datang berjaga jika keadaan memburuk, bala bantuan bisa siaga. Bani pun datang dengan botol gepeng. Sebagian kawan mengutuknya, sebagian lagi tertawa senang. Isu sweeping tak terbukti menjadi kenyataan, kami bersyukur, malam itu berubah menjadi salah satu malam kami yang tak perlu susah payah untuk mengingatnya.

Bani pergi empat bulan lalu, beberapa hari sebelumnya kami sempat bercanda gurau di Bandung Zine Fest. Tak ada seorangpun yang mengira ia akan pergi dalam waktu dekat, meski wajahnya menguning, petanda penyakitnya tak kunjung bisa disembuhkan. Kehadirannya hari itu mengejutkan, lama ia absen, semengejutkan kepergiannya tak lama kemudian.

Saya berhenti tepat di bekas lokasi tenda posko itu. Hujan tak turun malam itu, langit malam memprovokasi beberapa ingatan hadir. Saya nyalakan rokok, membuka botol dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah bintang paling terang di langit. Ada semburat kepergian seporsi banyak kegelisahan malam itu. Lagi-lagi, malam mengajari kami untuk tetap menyisakan ruang untuk mengikhlaskan banyak hal.

****

Ada sepertiga malam lain, ada janji yang akhirnya kami realisasikan. Seorang sahabat bersikeras berminggu-minggu menagihnya dengan militan. Ia ingin saya meluangkan waktu bertemu lagi sahabat lama kami, kali ini tanpa kawan-kawan lain, setelah entah berapa lama ada jarak yang memisahkan untuk bisa seperti dahulu lagi.

Ada sengkarut masalah yang entah berawal dan berakhir di mana yang membuat saya tak bertegur sapa dengan salah satu sahabat terdekat saya ini bertahun-tahun lalu. Sedemikian rupa hingga kami sampai pada kesimpulan bahwa saling diam dan jalan dengan hidup masing-masing adalah jalan terbaik kala itu.

Kami menghabiskan malam itu dengan kekonyolan lama dan minuman baru, satu kawan lain bergabung hingga tiba waktu saya pamit sebelum subuh datang. Kami berbicara banyak hal dan melupakan sedikit perihal. Menghitung kehilangan dan mempetakan perjalanan. Seperti banyak hal lain di muka bumi, ada yang tak lagi sama, banyak yang masih. Tak cukup memang. Namun saya akan mencatatnya sebagai marka waktu ingatan-ingatan yang saya sengaja kubur hadir kembali bukan hanya untuk diikhlaskan namun pula untuk ditertawakan bersama. Saya akan selalu mengingat jalan pedang yang dahulu kami pilih, tak ada belokan memutar, dan mengingat mereka berdua sebagai sahabat yang tak pernah benar-benar pergi.

Ini subuh terakhir di tahun ini. Hujan mengguyur Bandung sejak malam dan belum ada tanda-tanda akan berhenti. Saya membiarkan sendunya berkelebatan sebagai sesuatu yang jauh lebih baik dibanding mengutuk kehilangan dan keterpurukan di hadapan waktu. Ingatan tak akan mengembalikan waktu-waktu yang hilang. Saya hanya manusia dengan kebanalan biasa-biasa dan sama sekali bukan binatang jalang meski kadang terbuang dari kumpulan-kumpulan. Tapi saya ingin hidup seribu tahun lagi.

Posted in: Uncategorized