Catatan Terbuka Bagi Kawan-kawan Ujungberung Rebels

Posted on February 5, 2012

127


Angin mulai menggantikan rutinitas hujan mengunjungi Bandung. Untuk beberapa malam agak tidak aman berkendara di atas jalan layang Pasupati menggunakan motor dengan kecepatan tinggi karena angin kencang dari samping dapat tiba-tiba membuat motor oleng. Bagi saya, pukul  8 malam agak terlalu dini untuk keluar, mengingat itu masih dalam lingkaran waktu krusial menemani anak-anak saya mengerjakan pekerjaan rumah. Kawan-kawan bersepakat bertemu pukul 8 malam dan saat itu sudah hampir pukul 9. Saya terlambat, seperti biasa. Oleh karenanya tak peduli angin gerubuk, saya tetap memutuskan melewati Pasupati untuk menghindari forum berjalan lebih ngaret lagi.

Sesampai disana kawan-kawan menyambut dengan sindiran atas keterlambatan, tawaran kopi susu hangat dan laporan awal perihal sebuah billboard dan acara peluncuran buku di sebuah kafe yang cukup mengagetkan kami. Isu adanya pejabat pemerintahan dan desas-desus kooptasi plus penggiringan komunitas pada isu kampanye terselubung itulah yang membuat kami berkumpul. Beberapa kawan dari komunitas Ujungberung pula hadir disana untuk berbagi info tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Scene Bandung (atau bisa dimanapun) nampaknya sudah melewati persoalan ko-optasi lebih dari satu dekade lalu. Persoalan kooptasi, selling-out, komersialisme sudah terlalu basi untuk dijadikan wacana kritis setelah menahun dibahas dengan banal-nya. Bagi saya pribadi, urusan menjadikan karya dan aktivitas personal dan komunal bebas dari unsur keterlibatan korporasi, sudah saya jadikan doktrin personal. Cukup dipraktekan sendiri dan peduli setan apa yang orang lakukan. Dan rasanya sejauh ini cara itu adalah yang paling nyaman, indah dan efektif. Saya hanya perlu memfokuskan diri pada apa yang saya dan kawan-kawan saya yakini (merilis/mendistribusikan rekaman, membuat media dan acara komunitas) secara independen tanpa korporasi, dan tak perlu lagi membuang energi mengkritik mereka yang tak sejalan. Bagi yang sejalan, kita bisa bekerja bareng, bagi yang tidak, mereka bisa menikmati hidup dengan jalan mereka. Sesimpel itu, karena selain masalah ini tidak hitam-putih, pula karena toh pada akhirnya semuanya adalah pilihan.

Bahkan ketika belakangan fenomena endorsement Djarum Super semakin menggila di komunitas-komunitas di Bandung, saya -sumpah mampus- tidak peduli. Berjalan bersama kawan-kawan di scene Bandung sejak hampir 20 tahun lalu, saya belajar banyak hal dimana tidak semudah itu menilai fenomena ko-optasi dan integritas, bukan hanya karena pergeseran nilai semata, namun faktor-faktor dan apa yang terjadi diluar sana sangat kompleks. Bukan hanya karena saya tidak hidup di ruang dan waktu saat Tim Yohannon membuat Maximmum RockNRoll, namun yang ini paling beralasan; banyak hal lain yang lebih penting dan lebih layak secara strategis kita perhatikan dibanding mempermasalahkan hal-hal itu.

Pada level kultural agaknya lebih mudah untuk membuat toleransi dan memahami nilai. Tapi belakangan fenomena menjijikan nampak mulai menyeruak di Bandung ketika kooptasi mencapai level Politik (dengan P besar, tentunya), persis ketika ada nama pejabat diarak-arak ke tengah lingkaran ‘underground’ (whatever the fuck that means). Banyak kawan yang segan untuk menyikapi dan memberi pernyataannya karena banyak hal. Misalnya pertemanan, kondusifitas komunitas dan tentunya; nama besar pluralisme dan toleransi yang komunitas di Bandung usung sejak lama.

Saya tidak sedang berkata bahwa kawan-kawan sedang lupa perihal politik kekuasaan yang menyebalkan dan dampaknya pada komunitas. Namun rasanya ada yang menggelikan saat komunitas yang besar tumbuh mandiri, tidak tidak dibesarkan oleh kekuasaan dan tidak bergantung pada bantuan korporasi, namun di kemudian hari mengusung para elit politik ke tengah-tengah komunitas terutama di waktu-waktu ketika angin pemungutan suara mulai bertiup kencang seperti angin malam di atas Pasupati yang bisa membuat motor kalian oleng. Terlebih dengan sadar menempatkan diri di tengah pacuan kuda kepentingan politik para elit adalah sesuatu yang kebablasan kalo tidak bisa disebut keterlaluan.

Sebelum ini jadi salah paham, saya tekankan bahwa saya tidak sedang mempermasalahkan kerja bareng banyak kawan dengan Djarum Super, meski bagi saya pribadi mengguritanya tentakel mereka adalah sumber masalah. (Sudah bukan rahasia lagi kedekatan orang dalam Djarum dengan beberapa calon Walikota berurusan dengan dana kampanye dan berujung pada negosiasi politik). Selama ini, identifikasi Djarum sebagai korporasi musuh hanya sebagai strategi di kalangan kami yang bekerja di ruang-ruang ‘politik’ dan ‘aktivisme’, bukan sebagai alasan untuk tidak menghormati pilihan kawan-kawan lain di wilayah kultural.

Adalah hak mereka untuk bekerja sama dengan korporasi manapun termasuk Djarum, meski bagi kami Djarum sama busuknya dalam mengacak-ngacak Bandung, terutama sebagai korporasi cerdik oportunis yang menunggangi sempitnya ruang gerak komunitas di kota ini pasca tragedi AACC yang menelan korban jiwa, dimana pasca tragedi itu muncul politik perizinan yang hanya mengizinkan mereka yang berduit dan dekat dengan kekuasaan yang bisa membuat acara musik secara intens. Kondisi ini menghasilkan lebih banyak lagi broker event dan EO-EO oportunis yang sebelum kasus AACC terjadi jarang muncul karena tak laku di tengah-tengah kemandirian komunitas.

Momen AACC itu seolah jadi titik balik bagi Bandung, seolah menjadi pembenaran otoritas untuk membatasi acara kawan-kawan yang selama ini tak pernah bermasalah juga menjadi lahan empuk bagi aparat kepolisian untuk mendapatkan sumber dana segar tambahan. Anehnya, Bandung seolah ikut larut pada plot yang mereka setting. Kondisi ini akhirnya membuat banyak legitimasi baru; mulai dari kebutuhan kita pada belas kasihan finansial korporasi, dukungan partai politik hingga pembenaran bahwa rasa aman hanya datang dari militer, dampak dari saking seringnya acara dibuat di daerah militer untuk menghindari gangguan polisi.

Saya tak tahu apakah ini dekadensi bagi Bandung atau bukan, namun yang saya tahu, Bandung dari tahun ke tahun hidup dari nyawa acara-acara kecil namun intens, dimana komunitas berkumpul dengan intim berkomunikasi. Dimana band-band baru bermunculan dan belajar bersama tentang komunitas. Acara besar hanya sebagai perayaan selingan seperti hari raya, penting namun bukan nyawa komunitas. Acara bagi kami dahulu bukan sekedar menonton band manggung seperti layaknya panggung-panggung musik diluar sana pada umumnya. Disana terjadi tak hanya tontonan hiburan belaka (which is still the best part of our world), namun juga pertukaran informasi, skill, wacana bahkan aktifitas ekonomi yang organik dan otonomus.

Dengan adanya politik perizinan, semuanya bubar. Setelah itu cerita kemandirian berangsur berganti makna menjadi cerita bagaimana banyak kawan ‘mandiri’ dalam memilih bekerja sama dengan dompet-dompet tebal dan menyesuaikan dengan izin legalitas yang ada dibanding mengorganisasikan diri sebagai kesatuan identitas dalam melawan politik perizinan yang diskriminatif ini. Hanya sedikit saja kawan-kawan di Bandung yang tetap mengorganisir acara sendiri seperti kawan-kawan di kolektif Alternaiv/Balkot, kolektif Hardkor Kios dan kolektif Pyrate Punx yang memiliki sound system sendiri sehingga bisa bergerilya mengadakan gigs mikro. Tapi mereka hanyalah minoritas.

Meski saya tahu tak ada seorangpun di komunitas Bandung ini berniat, aksi kawan-kawan itu jika terus menerus dan ditradisikan sama artinya dengan menihilkan keberadaan komunitas-komunitas kecil yang tak punya daya tawar apa-apa untuk membuat acara selain niat, passion dan ketulusan mereka. Beruntung bagi mereka yang punya cukup duit, dekat dengan broker event dan pintu-pintu duit korporasi (seperti Pak Herman Djarum Super itu) atau dekat dengan partai politik atau elit politik/ pejabat tertentu. Yang tidak? silahkan bermain di studio gigs, diam duduk manis atau bikin acara yang siap digerus dan siap-siap berhadapan dengan aparat atau ormas-ormas fasis.

Sekali lagi, semua berhak memilih keterlibatan mereka dengan pihak manapun jika berbicara di level kultural. Bahkan dengan Freeport sekalipun saya bisa tak ambil peduli. Invasi dalam ruang kebudayaan hanya bisa ditandingi oleh kultur tandingan, bukan dengan boikot acara yang hanya menggesek secara permukaan saja dan menciptakan potensi konflik horizontal dengan sesama kawan yang notabene hanyalah korban dan tentu saja; kontra-produktif. Namun permasalahan akan sama sekali beda jika fenomena dukungan mulai pula mengusung-ngusung seorang (atau lebih) elit politik seolah selama ini komunitas menjadi besar atas keterlibatannya.

Gelagatnya dimulai jauh hari, mulai nampak aneh ketika suatu hari di bulan Juni tahun lalu saat saya mendengar perihal konferensi pers event “Bandung Berisik” di sebuah kafe, dihadiri oleh Wakil Walikota, anggota dewan asal fraksi Golkar (what the fukk?!) dan beberapa kawan dari komunitas Bandung. Memang hanya sekedar dialog, tatap muka/ramah tamah namun fenomena itu tetap menggelikan, meski akhirnya bisa kami anggap itu sebuah blunder yang diperlukan oleh kawan-kawan agar acara sukses.

Konferensi Pers "Bandung Berisik" Juni 2011, gambar dipinjam dari http://www.bandung-underground.com

Enam bulan kemudian, datanglah hari samber geledek itu. Beberapa minggu lalu. Terus terang meski muak, saya sudah terbiasa melihat neonbox dan billboard Djarum Super di hampir tiap pojokan Bandung. Namun kali ini saya sungguh terkejut pada suatu hari melihat tak hanya Djarum bersanding dengan nama kawan-kawan, tapi pula nama Ayi Vivananda. Seorang yang kita tahu hari ini menjabat sebagai Wakil Walikota Bandung, dan sedang dalam usaha kampanye terselubungnya sebagai salahsatu calon Walikota dalam pertarungan Pilkada mendatang. Meski hanya promosi sebuah diskusi pada peluncuran satu buku seorang bule yang membahas musik ‘Underground’, penampakan pada billboard itu menjadi tidak biasa karena nama sang wakil walikota terpampang sebagai salahsatu pembicara. Saya langsung ngeh, bahwa fase kooptasi memasuki sebuah fase yang krusial, dengan begitu terang-terangannya.

Yang saya ketahui sejak dahulu scene Bandung berusaha menjauh dari hal-hal yang berbau usung-mengusung pejabat. Tak perlu menjadi seoraang aktivis, anarkis atau orang melek politik untuk tahu bahwa pejabat di negeri ini punya kepentingan tersendiri yang akan selalu berada dibalik kepentingan ekonomi. Mereka akan selalu berpihak pada kekuasaan modal bukan kepentingan warga. Contoh sepelenya: jika benar pembersihan pedagang kaki lima di area Dago untuk kebersihan dan ketertiban, lalu mengapa setelah aksi K3 itu bertaburan FO-FO dan butik fashion/kuliner keparat yang justru memacetkan Dago dan memproduksi sampah lebih banyak dari pedagang kaki lima. Atau kasus perusakan lingkungan di Cimenyan, kalian tentu tak perlu jadi orang pintar untuk tahu siapa yang membekingi para kontraktor brengsek itu. Atau kasus undang-undang tata ruang yang memberi jalan lebar bagi pengelolaan ruang publik secara komersil dan hubungannya dengan kriminalisasi Pak Haji Atjeng dan kasus Ciosa. Atau kasus kebebasan berekspresi dan berpendapat sekalipun, jika kalian pikir kasus penyerbuan dan pembubaran diskusi di Ultimus lampau oleh ormas itu tanpa sepengetahuan pemerintah dan aparat, silahkan buat diskusi sejenis secara terbuka (bukan sembunyi-sembunyi) untuk mengetesnya besok hari.

Puncaknya, hari ini, yang seharusnya menjadi hari yang membanggakan, betapa tidak, pada akhirnya kawan-kawan Ujung Berung merayakan hari mereka sebagai komunitas; membuat acara besar bertajuk “REBEL NATION” yang lebih dari sekedar acara musik namun juga pameran dokumentasi perjalanan komunitas, drawing workshop, penulisan dan bazaar produk-produk lokal dsb dalam dua hari. Ini cukup berarti karena sudah seharusnya mereka mendapatkan kredit atas apa yang telah mereka lakukan.

Bagi saya pribadi, saya memiliki hutang inspirasi tersendiri pada mereka, sejak hampir dua dekade lampau saat saya pertama kali menemukan zine lokal pertama dalam hidup saya, Revogram, yang inspiratif dan membukakan saya pintu ke ruang yang lebih luas lagi atas pemaknaan musik, komunitas, kemandirian dan pergulatan eksistensi. Dimana seiring dengan berjalannya waktu, sebagian besar dari mereka bukan hanya menjadi sekedar sesama scenester di Bandung, namun terlebih telah menjadi sahabat dan keluarga. Pernah bertukar keringat dan suara di mosh pit, berdarah bersama di era meruntuhkan rezim Suharto, pernah menggelandang bersama,  makan dari piring yang sama di era tak menentu mencari pemaknaan atas kebenaran di antara bumi dan langit bahkan bersama pula memakamkan beberapa kawan.

Hari ini yang seharusnya saya bisa yakin bahwa menjadi besar, solid, bertahan dari amukan waktu hanya bisa dibuktikan oleh komunitas Ujung Berung. Komunitas yang memiliki band dari yang sangat radikal hingga yang paling kompromis dalam hal berurusan dengan korporasi namun tak satupun yang jelek secara estetis. Komunitas dengan ikatan emosional antar anggotanya yang tak pernah saya temukan padanannya di pojok Bandung manapun. Namun lagi-lagi, entah mengapa nama Ayi Vivananda muncul lagi di event ini, membuat saya tak habis pikir mengapa kawan-kawan bisa kecolongan masuk dalam plot politik pencitraan mereka, atau memang bukan kecolongan a.k.a disengaja?

Saya selalu berharap ini juga blunder, meski agak absurd menganggap blunder dilakukan berkali-kali, namun tak ada salahnya berharap demikian dengan harapan tak ada lagi endorsement sejenis di esok hari. Karena saya yakin tak seorangpun dari kawan-kawan yang rela disodomi secara politis dengan cara menjadi bagian dari kosmetik kampanye mereka. Saya sangat optimis ini tidak berulang, karena saya dengar tak semua dari kalian setuju beririsan dengan politik kekuasaan, saya dengar pula friksi kecil dimana kalian berdebat hingga sampai pada titik kesimpulan bahwa akhirnya acara harus tetap jalan. Salut saya berikan bagi mereka yang tak setuju namun ogah meninggalkan kawan satu komunitas menjalankan acara tanpa bantuan. Sikap seperti ini yang mungkin menjadi salah satu alasan mengapa komunitas kalian begitu solid dan bertahan selama itu.

Dan saya yakin tulisan ini tidak kawan-kawan Ujungberung anggap sebagai sesuatu yang ofensif. Anggap saja ini tulisan seorang sahabat yang tak ikhlas kawan-kawannya menjadi bagian dari para penghisap kontol dan penjilat pantat seperti kebanyakan dari mereka di arena politik sana. Sebagai penutup, saya mengingatkan sedikit kredo lama yang pernah kita yakini: “Yang lebih hina dari diperintah adalah memilih mereka yang akan memerintah”, namun kita sekarang nampaknya harus pula menambahkan; “Dan yang lebih hina lagi adalah ikut terlibat mempromosikan mereka yang akan memerintah”.

mista, maja, utama nyanghareupan taun mamprang.
-Ucok.

Posted in: Uncategorized