Making Punk A Threat Again

Posted on December 25, 2011

372


punkaceh

Sebelum saya berpanjang-panjang menulis uraian tak penting ini, saya nyatakan dulu satu hal yang pasti sebelum kalian menyerang dengan tuduhan macam-macam: saya seperti kawan-kawan kebanyakan, tak sepakat dengan fenomena razia, pemukulan, penggundulan dan bentuk pelecehan lainnya yang dilakukan oleh polisi syariah di Aceh. Tak ada manusia yang layak diperlakukan demikian hanya karena stigma yang datang dari penampakan dan perilaku yang tidak sesuai –konon– dengan adat/norma setempat.

Di luaran sana sudah banyak catatan, argumen dan penjelasan yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Beberapa catatan berikut bukan bermaksud untuk menambah hiruk pikuk, hanya sedikit catatan personal, berhubung sedikit banyak punk memiliki makna yang saya berhutang padanya inpirasi dan emansipasi sejak kali pertama saya bersentuhan dengannya.

Saya mulai dengan yang pertama; kasus ini tidak sesederhana yang media gembar-gemborkan. Ada kompleksitas tersendiri yang agak sulit dipahami oleh awam yang tidak sempat berada di dalam skena punk lokal di manapun. Tidak juga oleh Propagandhi atau Rancid yang ikut memberikan pernyataan. Indikator sederhananya sebut saja satu; tidak adanya aksi solidaritas dari skena punk di tataran Aceh sendiri yang jelas menimbulkan pertanyaan. Bisa jadi karena banyak faktor, kondisi yang tak memungkinkan misalnya. Namun dari perbincangan dengan beberapa kawan di sana, nampaknya faktor keterasingan komunikasi dan ketidakkesepakatan atas aksi-aksi kultural komunitas lah yang menjadi penyebab.

Saya yakin, terdapat banyak kawan-kawan punk di Aceh sana sejak rezim Suharto berakhir. Pada beberapa catatan, skena di Aceh sudah mulai ada dan luar biasa aktif di penghujung 1990-an dan awal 2000-an, atau mungkin lebih awal lagi. Saya tidak yakin hanya karena keadaan tidak mengizinkan lalu mereka tidak melakukan sesuatu, apalagi hanya sekedar aksi solidaritas. Jika dahulu tidak pernah ada masalah dengan masyarakat lalu mengapa tidak juga sekarang? OK, faktor polisi syariah, tapi saya yakin bukan hanya itu, ada hal lain yang cukup signifikan: soal identitas dan pemaknaan.

Paling tidak saya bisa berkaca pada keadaan di kota kami sendiri dimana ‘Punk’ bukan lagi sesuatu yang harus dibela sebagai identitas, namun lebih sebagai semangat.

Banyak kawan-kawan yang tidak lagi mengidentikkan ‘punk’ sebagai identitas sejak penampakan itu dipakai untuk sesuatu yang tidak kami sepakati, mulai dari mohawk yang menjadi trend fashion yang sungguh buruk (band Ahmad Dhani misalnya) hingga wujud ‘punk’ yang berkeliaran di sudut kota sebagai pengamen (sejak kapan punk meminta belas kasihan?), memalak orang, apatis terhadap pergulatan komunitas sekitarnya, termasuk menjadi geng fasis yang sungguh sama sekali tidak ‘punk’. Saya tidak bilang kondisi di sana serupa, namun yang pasti ada jarak pada pemaknaan aktivitas di antara kawan-kawan yang aktif dengan makna ‘punk’ satu dan makna ‘punk’ lainnya.

Yang satu ini agaknya perlu sama-sama direnungkan jika tidak bisa digarisbawahi, mengingat menjadi ‘punk’ adalah sebuah pilihan yang bukan tanpa resiko, apapun makna yang kalian tempelkan disitu. Pilihan mengidentifikasi diri dengan punk sudah seharusnya menjadi pilihan sadar. Dimana pilihan itu sudah seharusnya datang dengan konsekuensi yang sudah diperkirakan, dimana –layaknya sebuah pilihan­– harus dipertahankan oleh mereka-mereka yang yakin dengan pilihannya. Sehingga menjadi cengeng saat konsekuensi datang sangatlah aneh. Di lokal ada istilah khusus untuk itu: Punk Borok. Propagandhi atau Rancid mungkin tidak pernah mengenal apa yang di lokal disebut sebagai punk selokan atau punk borok itu, atau paling tidak, versi di sana berbeda dengan apa yang ditemukan disini. Sesuatu yang pada hakekatnya sudah tidak ada lagi urusan dengan pemaknaan punk.

Berangkat dari anggapan ini, cukup absurd jika melihat tidak adanya perlawanan signifikan dari mereka yang dirazia plus-plus itu kemarin. Absurd, karena sekali lagi ini terjadi pada mereka yang mengaku ‘punk’, bukan sebuah keprofesian khusus lain (misalnya PKL tukang baso) yang tidak ada makna-makna pembangkangan khusus melekat di dirinya.  Pada sebuah potret mereka digunduli, dimasukan ke kolam dengan nerimo. Sebagai penerimaan atas nasib dan pilihan sadar melabelkan diri ‘punk’, ini patut dipertanyakan. Bukankah kalian sudah seharusnya melawan jika memang itu semua adalah pilihan hidup yang kalian pilih?. Bukankah kawan-kawan sepakat bahwa hidup kalian adalah milik kalian yang tak ada seorangpun bisa mendiktenya, kecuali tentunya pilihan kalian menjadi punk hanya pilihan dilematis dari sedikitnya pilihan menjadi diri sendiri.

Mungkin saya salah, mungkin kawan-kawan di sana melawan seadanya, namun saya melihat kawan-kawan masih sehat walafiat, masih bisa berdiri dan, ajaibnya, rela masuk camp rehabilitasi. Jika konon menjadi diri sendiri itu sama pentingnya dengan mempertahankan isi perut, mengapa untuk sekedar kebebasan berekspresi yang melekat pada tubuh kawan-kawan di sana tidak bisa mencontoh mereka yang berjuang hidup mati untuk isi perut mereka. Jangankan di Aceh sendiri yang punya sejarah panjang berabad-abad berdiri tegak di hadapan penindasan rezim demi rezim, dari Kebumen, Kulon Progo hingga Mesuji hari ini bertebaran tauladan bagaimana mempertahankan sesuatu yang berarti penting bagi hidup kita. Kecuali memang arti itu tak sepenting yang kita perkirakan.

Bicara soal tradisi pula, respon para punk lainnya terhadap kasus ini juga sungguh aneh untuk ukuran skena yang besar dengan tradisi melawan otoritas. Melakukan aksi solidaritas itu penting. Berguna untuk menunjukkan eksistensi dan simpati lintas komunitas dan mengirim sinyal kepada mereka yang ditahan bahwa mereka tidak sendirian.  Namun melakukan aksi yang mirip aksi-aksi usang a la mahasiswa dengan mendatangi kantor kepolisian atau simbol-simbol kekuasaan (lengkap dengan membawa pernyataan sikap berisi pesan apologis meminta maklum) adalah sesuatu yang absurd.

Jika letak pentingnya aksi solidaritas hanya untuk mengakui betapa pentingnya mereka sehingga kita harus datang ke sana sebagai simbol protes, maka itu sama artinya dengan mengakui bahwa eksistensi kita berada di tangan mereka dan kita memelas meminta mereka untuk berlaku adil pada kita. Secara tidak langsung menunjukkan pada khalayak bahwa seolah perubahan akan terjadi jika kita memintanya pada otoritas. Sesuatu yang sama-sama kita sepakati sejak lama (berkat punk); tak akan pernah terjadi.

Bukankah selalu ada alternatif lain selain mendatangi otoritas dan meminta mereka berhenti melakukan pelanggaran? Dan siapa pula target (aksi) komunikasi kita? Apakah otoritas? Atau masyarakat lain yang sebenarnya lebih layak kita ajak dialog perihal eksistensi kita (jika memang inti aksi ini melempar wacana soal perbedaan).

Yang paling menggelikan adalah aksi yang terjadi di Bandung, dimana sekelompok ‘anak punk’ (God knows how I hate that fuckin term) mendatangi Polresta dengan pernyataan-pernyataan yang oxymoron. Mulai dari penamaan elemen aksi mereka (“Masyarakat Punk Bandung”) hingga pernyataan sikap kepada kepolisian yang berisi kata-kata mutiara seorang punk yang memelas untuk dimengerti; “Kami hanya pakaian dan rambut yang dinilai urakan. Hati dan perilaku tetap santun dan soleh”.  C’mon dude, do you really have to say that to fuckin cops?

Meminta masyarakat Bandung tidak terlalu apriori terhadap komunitas ‘punk’ pun sama oxymoron-nya. Karena penerimaan tidak terletak pada kata-kata, namun pada pembuktian dari hari ke hari dimana komunitas terlibat dalam pergulatan masyarakat dalam membangun pilar-pilar kehidupan bersama. Berkoar-koar berteriak di depan masyarakat tentang bagaimana hebatnya punk, tidak membuat kalian menjadi punk dan kemudian diterima di luar sana.

Buatlah band, buat gigs, rilis rekaman kalian, buatlah zine dan media kalian sendiri, berjejaringlah, jaga teman kiri-kanan dan keluarga kalian, bangun kemandirian komunal, organisir komunitas kalian, bergabunglah dengan mereka yang tidak beruntung di hidup ini dan mereka yang berjuang, lawan otoritas yang menindas tanpa pandang bulu dan bersenang-senanglah dengan passion kalian. Meski di luar sana kenyataan tak sesederhana itu, tapi paling tidak; at least those are things that make you punks. Berhentilah mengemis legalitas dan penerimaan. Respect is not a gift, its something you earn.

Aksi itu ditutup dengan orasi sang orator lapangan; “Silakan bapak polisi geledah tas anak punk. Tak sedikit dari mereka isinya sajadah dan kopiah untuk alat sholat. Kami masih berfikiran sehat, pak polisi,” tegasnya. Wait the fuck up?!  Jadi dengan kata lain mereka yang tak memiliki alat sholat itu tidak berfikiran sehat dan layak diperlakukan tidak adil? Lagipula (tanpa mengesampingkan fakta banyak kawan-kawan yang relijius) bukankah simbol-simbol ‘kepribadian berakhlak’ a la mainstream adalah sesuatu yang kita lawan? Bukankah inti menjadi punk itu mengingatkan kita untuk meyakini pilihan kita sendiri? apapun itu, relijius atau tidak, stand up for what you believe in!

Apapun yang kawan-kawan yakini, jalani keyakinan kalian dengan kepala tegak. Tak ada aturan bahwa menjadi punk harus menjadi atheis, jadi jalani lorong spiritualitas kalian, peduli setan apapun yang orang katakan. Begitu pula sebaliknya, jika kalian yakin bahwa menjalani hidup tanpa keimanan bisa menjadikan kalian nyaman dengan apa yang kalian hadapi, mengapa pula harus mendengar petuah yang kalian sendiri tak yakini, termasuk masuk ke camp rehabilitasi.

Di luar sana, gonjang-ganjing ini mengerucut pada debat tak berujung dan stigmatisasi baik pada ‘Punk’ maupun ‘Islam’ (yang direpresentasikan polisi syariah). Jangan terperangkap di wilayah itu. Menjadi punk bukan kriminal, dan tidak pula menjadi seorang muslim  yang di beberapa pojokan diluar sana diperlakukan mirip kasus di Aceh. (Beberapa situs diskriminatif anti-toleransi mempergunakan isu Punk Aceh ini untuk mendiskreditkan Islam). Selama menjadi minoritas, akan selalu ada waktu di mana kalian melewati hari-hari cadas. Yang pasti sekali lagi; menjadi cengeng sama sekali tidak punk dalam menerima konsekuensi. Fight for it.

Akhirul kalam, mengemis penerimaan pada otoritas bukanlah sesuatu yang menyebabkan punk eksis di muka bumi. Now I may sound too politically-correct, but fuck it, Lets make punk a threat again. Up the punx!

 

Posted in: Uncategorized