Menolak Tunduk: Cerita Perlawanan dari Enam Kota [Resensi Buku]

Posted on December 20, 2016

1


buruh

Penerbit: LIPS SEDANE & Tanah Air Beta
Tahun terbit: 2016
Penulis: Aang Ansorudin, Atik Sunaryati, Coeblink, Hera Sulistyowati, Hery Sofyan, Jumisih, Kokom Komalawati, Meen Martani, Mundori, Siti Saroh, Supinah, Sohari.

Banyak buku yang membahas tentang perburuhan di luar sana, namun mayoritas merupakan buku-buku yang sifatnya reportase, analisa atau teori-teori mengenai gerakan buruh di Indonesia yang ditulis oleh akademisi, pemerhati atau aktivis. Di sini letak penting buku yang merupakan buku ke-2 dari seri “Buruh Menuliskan Perlawanannya” ini. Seperti halnya buku pertama pendahulunya, buku dengan ketebalan 425 halaman ini merupakan kumpulan tulisan yang ditulis oleh para pekerja. Dengan subjudul Cerita Perlawanan dari Enam Kota, memuat 13 cerita dari 13 buruh yang mewakili enam daerah industri di mana para buruh ini bekerja, mengorganisir dan melakukan perlawanan.

Faktor penulis tentu saja penting di sini. Pertama, dari cerita para buruh kita mendapatkan cerita yang otentik perihal eksistensi mereka. Tentang bagaimana mereka menjadi buruh, mengapa mereka perlu berserikat, mengapa melakukan aksi mogok dan melakukan protes dan mengapa solidaritas itu adalah hal yang sangat penting.

Tak ada perjuangan buruh tanpa kesadaran buruh sebagai kelas. Dan bicara soal kesadaran, buku ini pula memiliki peran penting untuk memahami bagaimana kesadaran politik buruh itu tumbuh yang tidak sesederhana apa yang selama ini dibaca di buku-buku atau imajinasi banyak orang tentang perjuangan para pekerja upahan.

Dari cerita langsung para buruh yang beragam pada buku ini, kita bisa melihat bagaimana proses tumbuhnya kesadaran itu dengan diwarnai banyak faktor. Bukan hanya perkara urusan dengan majikan, tapi juga relasinya dengan sesama buruh, buruh lelaki-buruh perempuan, dengan urusan keluarga dan faktor-faktor sosial lain seperti agama dan asal usul dan keterasingan yang mereka alami. Kita bisa menelusuri beragam pula asal mula perlawanan yang dilakukan oleh para buruh.

Awal dan proses transformasi kesadaran itu pun tentu tak sama, misalnya saja jika kita membaca cerita Supinah dari Cilacap, ia awalnya merupakan buruh egois yang anti serikat, tak memiliki solidaritas terhadap sesama buruhnya dan sinis terhadap perjuangan buruh yang dilakukan teman-teman sepabriknya. Kemudian ia mulai memiliki empati ketika rekan sepabriknya ditindas di depan mata dan mulai berkenalan dengan serikat buruh ketika perusahaan menerapkan perubahan struktur pengupahan yang nilainya lebih rendah dari yang biasa mereka dapatkan. Mulai membangun serikat ketika ia dan rekan-rekannya mulai mempertanyakan perubahan kebijakan upah tersebut.

Atau juga kita bisa membaca cerita Hery Sofyan yang sejak awal sudah ditempa oleh penindasan, sebagai orang Aceh yang akrab dengan represifitas tentara. Masa lalu Hery membentuk karakternya yang keras dan gigih, peka terhadap ketidakadilan. Ia menulis “Bagi orang Aceh bekerja di pabrik itu ibarat jadi budak”. Ini mewakili sikapnya yang sulit untuk berkompromi dalam perjuangan. Karakter seperti Hery ini yang menjadi figur penting dalam beberapa metode aksi buruh seperti ‘grebek pabrik’ atau melakukan protes berhari-hari di tenda perjuangan.

Cerita-cerita perlawanan ini sedemikian rupa menjadi menarik ketika para penulisnya menyisipkan cerita-cerita yang sangat personal. Misalnya cerita Supinah tentang kacamatanya yang menjadi poin penting saat memasuki pengalamannya tak bisa melihat jauh, hingga ia sulit mendapatkan pekerjaan dan selalu ditolak pabrik karena berkacamata. Perihal buruh yang pemalu dan memberanikan diri orasi saat aksi mogok, juga perihal mengapa buruh pada akhirnya harus nge-kost, bagaimana perjuangan mereka menjalani shift siang dan malam dan bagaimana upah yang tak sebanding dengan pengeluaran yang pada akhirnya membuat buruh mengenal dunia utang piutang. Pula hal-hal emosional yang sangat personal seperti pengkhianatan teman dekat/sahabat satu perjuangannya.

Bagian penting lainnya yang bisa kita pelajari dari buku ini adalah begitu beragam pula strategi taktik akal-akalan yang dilakukan perusahaan dalam upayanya untuk menghisap buruh, menghancurkan dan meredam gerakan atau perkembangan organisasi buruh yang dapat menjegal upaya perusahaan mengakumulasi modal. Mulai dari teror dan intimidasi langsung di depan muka, pemecatan, pemutihan, memecah belah dan memfitnah, menawari beberapa orang buruh jabatan untuk berkhianat pada gerakan. Membayar ormas-ormas untuk mengganggu, memasang alat pengacau sinyal di pabrik agar para buruh tidak dapat berkomunikasi ketika mengorganisasikan pemogokan, bahkan hingga level yang menggelikan: berpura-pura bangkrut untuk menghindari kewajiban perusahaan membayar pesangon.

Pada tulisan pengantarnya, Ratna Saptari dari LIPS Sedane berkata bahwa semua cerita-cerita ini penting bagi pemahaman para aktivis atau aktivis buruh sebagai bahan saat menyusun strategi pengorganisiran, untuk memikirkan model-model pengorganisiran yang tidak terlalu kaku dan mempertimbangkan banyak aspek di luar tempat kerja yang selama ini mewarnai posisi buruh di tempat kerja. Namun menurut saya, poin penting lainnya dari buku ini justru ketika ia dibaca oleh mereka yang berada kelas lain di luar buruh sebagai bahan untuk bersolidaritas. Bagi yang bukan buruh, yang belum menjadi buruh atau yang menjadi buruh dalam bentuk yang berbeda dan memiliki kemewahan berbeda, untuk memiliki pemahaman atas situasi dan kondisi buruh yang sangat kompleks. Penting bagi kebanyakan dari kita yang selama ini hanya bertemu buruh di jalanan, baik ketika mereka berjalan menuju atau pulang bubaran dari pabrik atau di jalanan ketika mereka berdemonstrasi, mengingat selama ini buku-buku tentang perburuhan ditulis oleh mereka yang berada di luar pabrik, bukan mereka yang selama ini berada di dalam, berhadapan langsung dengan mesin-mesin dan penindasan.

Kontak: LIPS Sedane email: info@lips.or.id
atau kontak Toko Buku Ultimus: http://ultimus-online.com/

Posted in: Uncategorized