Teori Militansi: Esai-Esai Politik Radikal [Resensi Buku]

Posted on February 1, 2013

0


teorimilitansi

Judul: TEORI MILITANSI : Esai-Esai Politik Radikal
Donny Gahral Adian, Penerbit Koekoesan (2011)

Teori Militansi Esai-esai Politik RadikalPertama melihat buku ini di rak toko buku saya tidak terlalu tertarik untuk sekedar melihatnya. Judulnya saja agak tidak meyakinkan. Selintas seperti buku-buku di tahun-tahun awal reformasi meledak sedekade lalu, yang judulnya lebay tapi isinya tidak kemana-mana. Namun subtitel ‘Esai-Esai Politik Radikal’ yang hadir lebih kecil dari judul besar ‘Teori Militansi’ di sampulnya itu cukup membuat saya tergelitik untuk melihat esay apa saja yang ada di daftar isinya.

Namun daftar isinya sama sekali tidak menjelaskan apapun. Hanya ada 3 bab penting sang penulis catat disini: Demokrasi, Militansi dan Subjek, dan saya semakin penasaran. Terutama setelah beberapa tahun kebelakang wacana kritik terhadap demokrasi liberal mulai berkembang di luar lingkaran kelompok anarkis seiring dengan mulai populernya wacana ekstra-parlementer ala Alan Badiou.

Secara garis besar buku ini mencoba menjelaskan darimana lahirnya militansi. Pemaknaan yang sulit mendapat kejelasan, jika memakai kacamata ‘kebebasan individu’, misalnya saja; mengapa militansi seorang aktivis begitu kuat terhadap ideologi yang diusungnya. Ini tentu saja tidak terbaca oleh Demokrasi Liberal yang gagal berhadapan dengan antagonisme dalam politik dimana ‘kami’ dihadirkan sebagai lawan dari ‘mereka’.

Adian memulainya dengan menjelaskan mengapa demokrasi adalah paradoks. Menyiratkan kesetaraan disatu sisi, namun juga kekuasaan dan hirarki disisi lain. Dalam demokrasi, kesetaraan dicapai melalui mediasi atau representasi, lewat proses pendelegasian kekuasaan kepada wakil-wakil politik di eksekutif maupun yudikatif.  Idealnya, demokrasi menyelenggarakan parlemen sebagai ruang untuk mengkomunikasikan urusan/kepentingan publik, namun pada prakteknya, parlemen sebaliknya hanya sebatas perpanjangan tangan keputusan-keputusan yang dibuat di meja-meja sekretariat partai politik atau koalisi dan meja-meja lobby lainnya.

Essay pertama buku ini berusaha memperkarakan kegagapan demokrasi hari ini, tepatnya demokrasi liberal yang senafas dengan kapitalisme dan neoliberalisme. Kompetisi politik dimenangkan melalui industri periklanan dan survei guna mendulang popularitas. Pemilu yang ada hanya semata untuk melegitimasi kekuasaan, bukannya penjaminan hak-hak publik secara berkelanjutan. Negara dikelola untuk meloloskan kepentingan kebebasan individu-individu yang cenderung gagal memahami kehendak umum, kecuali mengedepankan kepentingan pribadinya

Di alam demokrasi liberal, negara dikelola untuk meloloskan kepentingan kebebasan individu-individu dan sistem  parlemen sebagai ruang mengkomunikasikan urusan-urusan publik, sebaliknya parlemen sebatas kepanjangan tangan dari keputusan-keputusan yang dibuat di sekretariat partai politik atau koalisi.

Demokrasi liberal telah berubah menjadi tontonan semata seiring dengan meningkatnya apatisme publik terhadap politik. Kondisi yang lumrah terjadi ketika partai-partai politik homogen, tidak memiliki identitas atau pemihakan ideologis yang khas. Demokrasi terperangkap menjadi pola kerja dominatif-diskriminatif yang menyingkirkan kaum minoritas dan lemah.

Dengan latar belakang permasalahan demikian, Adian mengurai landasan filosofis politik radikal dalam rangka memperjuangkan kebebasan dan kesetaraan warga-masyarakat secara menyeluruh dan dari akarnya. Politik radikal yang bermoduskan operasinya di luar politik kelembagaan, mengambil jarak dengan negara, serta bergerak di luar struktur.

Memakai teori-teori politik radikal dari Chantal Mouffe, Ernesto Laclau, dan Alain Badiou, Adian merajut perspektif singkat bagaimana perubahan sosial dapat diperjuangkan secara militan. Bertolak dari pembentukan identitas kolektif secara antagonistik (kami vs mereka), sebuah kelompok akan senantiasa mendefinisikan siapa lawan. Antagonisme menegaskan adanya pembedaan identitas, bahkan perang posisi, dengan pihak lain yang diputuskan sebagai lawan politik. Antagonisme ini lah yang nantinya memompa militansi.

Militansi pada hakikatnya memiliki tendensi watak politik radikal yang menuntut keberpihakan politik, sebagai tindakan mengambil keputusan di arena politik. Militansi secara intens dan terus-menerus memutuskan batas-batas kolektif dan menciptakan pertentangan tentang siapa “kami” dan siapa “mereka”. “Lawan” disini bukan sekedar yang berbeda melainkan sebentuk anti-identitas. Lawan menjadi politis ketika “mereka” mempersoalkan identitas sekaligus mengancam eksistensi “kami”.

Subyek militan lahir dari peristiwa yang membelah kesadaran eksistensialnya. Ia hadir karena desakan peristiwa yang sarat tegangan politik, melibatkannya dalam peristiwa yang bergolak dalam kurun terbatas. Dalam bahasa Badiou, ‘Kesetiaan’ -sebagai ganti kata ‘militansi’- adalah respon dari peristiwa. Situasi krisis moneter tidak melahirkan subjek bernama ‘aktivis mahasiswa’, namun ‘peristiwa’ penembakan mahasiswa oleh aparat lah yang menciptakan gelombang demonstrasi yang menuntut mundurnya panglima tertinggi angkatan bersenjata.

Peristiwa diberangusnya serikat pekerja di perusahaan A tidak sekedar menuntut agar serikat pekerja tersebut diberi hak berserikat, namun ‘peristiwa’ itu menuntut semua orang -siapapun dia- untuk menolak represi terhadap hak tersebut. Militansi disini dilihat sebagai perlawanan subyek terhadap dominasi, atau kesadaran politik antikekuasaan. Yang perlu dicatat disini adalah bagaimana kemudian militansi tidak berubah menjadi sebuah kebekuan identitas yang sering terjadi ketika subyek militan terjebak pada fanatisme yang destruktif, dengan membangun antagonisme dan konfrontasi di atas prinsip kesetaraan.

Dalam pemaparannya, Aldian menambahkan catatan kritis personal terhadap pandangan-pandangan politik radikal dari pemikir-pemikir yang dia pakai teorinya dalam buku ini. Pertanyaan di seputar keberpihakan seperti ini rasanya diperlukan hari ini. Terutama ketika kondisi politik lokal dipenuhi oleh kelompok-kelompok sektarian di satu sisi dan kelompok liberal di pihak lain yang mabuk dengan individualisme dan universalismenya.

Posted in: Uncategorized