Mengenang Scritti Politti

Posted on January 24, 2009

0


sp_tribut

Sebelum Manic Street Preacher, Chumbawamba atau Zack Dela Rocha dkk masuk dengan sebuah konsep yang hampir mirip, ke dalam wilayah ‘khalayak’ (baca:pop), Scritti Politti menjejakkan kakinya dalam hiruk pikuk sebuah era kooptasi sepeninggal Sex Pistol dengan banyak sekali catatan menarik.

Dibentuk tahun 1978 di Leeds, Inggris, sejak awal Scritti Politti merupakan kendaraan musikal sang vokalis/penulis lagu mereka, Green Gartside. Awal mereka tak jauh dari cerita band-band era itu yang terpengaruh punk dan kemudian berangsur merubah bentuk musik mereka ke dalam bentuk-bentuk baru. Media dan hype-nya sempat menyebutnya sebagai era ‘post-punk’, apapun itu artinya. Sedikit perbedaannya, Green dkk sangat jelas menampakkan identitas politis mereka, yang lebih left-wing dibanding grup-grup sejenis di era mereka. Nama ‘Scritti Politti’ sendiri diambil Green dari “Scritti Politici” tulisan seorang Marxist Italia, Antonio Gramsci yang memperkenalkan teori hegemoni kepada dunia. Green memendekkannya menjadi “Scritti Politti” karena menurutnya itu lebih terdengar rock en roll, seperti “Tutti Frutti”.

sp_tribut2Saya berkenalan pertama kali dengan band ini di sekitar penghujung wisudaan SD, 1985-86-an. Tentunya bukan karena alasan politis atau punk atau sejenisnya. Saat itu, Album ‘Cupid & Psyche 85’ diluncurkan, dan singel mereka “Perfect Way” sempat berada di radio-radio lokal pada zamannya. Mereka memainkan musik pop 80-an yang ramai ber-synthe ria dengan sentuhan reggae sedikit di sana-sini. Sedikit mendekati Men at Work, sedikit The Police versi lebih poppy tentunya.

Terjun bebas ke jalur pop, ‘Cupid & Psyche 85’ memiliki pengaruh besar bagi musisi new wave/pop era selanjutnya. Namun albumnya sendiri tak pernah sempat berbicara banyak pada statistik Billboard dan melenyap tergusur karena memang bukan tandingan bagi singel-singel Madonna, Boy George dan Reo Speedwagon. Band yang sempat membuat catatan tersendiri bagi industri musik Barat itu pada hari-hari di tahun berikutnya tak pernah lagi mencapai statistik yang sama. ‘Provision’, album mereka yang dirilis pada tahun 1988 tak menyisakan apa-apa kecuali kontribusi yang layak dicatat dari Roger Troutman and Miles Davis. Bagi saya sendiri, satu-satunya lagu yang familiar dalam album itu adalah “Boom, There She Was” yang banyak diputar di radio-radio Bandung.

221647Sepuluh tahun kemudian, saya baru menyadari bahwa 80an dan 90an justru merupakan hari-hari terakhir kehebatan Scritti Politti yang sebenarnya. Mereka telah lama meninggalkan etos dan estetika punk mereka di akhir 70an dan awal 80an. Dari sebuah fanzine saya tercerahkan perihal awal karir mereka yang aneh namun menakjubkan. Secara musikal dua EP awal mereka, terutama John Peel Sessions, mengingatkan saya pada eksperimentasi avantgardis ala This Heat dan bahkan nuansa Rondos, band anti-fasis akhir 70an asal Belanda. Lirik-lirik awal mereka bahkan lebih filosofis/politis dari yang pernah saya bayangkan dengan mengambil kutipan dan ide dari Marx, Bakunin, Derrida, Deleuze, and Lacan. Green pun bahkan kala itu banyak bermain dalam permainan dan penggunan kata, yang ia akui banyak terpengaruh oleh teori dekosntruksi. Hey, bahkan mereka pernah memiliki single berjudul ‘Jacques Derrida’!. Ini sangat mengejutkan, terutama bila kalian lihat foto Green dkk. di era berikutnya yang lebih mirip Men at Work atau A-ha daripada band punk pedekonstruksi.

Scritti+Politti+4+A+Sides+333447Terlebih lagi jika melihat lay-out grafis salah satu E.P mereka, “4 A-Sides”, yang dirilis pada tahun 1979. Foto sebuah sudut ruangan, sebuah poster logo palu dan arit di atas sebuah mantel yang tergantung. Botol bir kosong, rak buku, piringan hitam, flyer dan pamflet demo yang seolah mencoba menghubungkan maknanya dengan penandaan pada sisi kover E.P lainnya; nota budget produksi album, rencana-rencana rekaman, catatan nomor telepon label rekaman. Sebuah foto yang seolah mencoba menerjemahkan maksud Green dkk; demistifikasi sebuah corak produksi. Menyisakan idealisme dan etos produksi ‘masa muda punk’ mereka, menyarankan yang lain untuk ‘do-it-yourself’.

Tahun-tahun E.P tersebut dirilis merupakan era keemasan mereka. Mulai dari gitar Tom Morley dan bass Niall Jinks yang memutasikan funk, reggae pada punk pada komposisi awal mereka hingga kejeniusan eksperimen Green bernuansa 80-an (lengkap dengan handclap soul ala Motown!) sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka hadir dengan lirik provokatif.

E.P demi E.P dan singel-singel pada puluhan kompilasi cukup membuat mereka tercatat sebagai salah satu grup musik yang mendapatkan tempat di para defiants dan ‘khalayak’ yang haus akan sesuatu lebih dari sekedar komposisi raungan gitar, hard beats, dan rockstar attitude. Sesuatu yang sempat membuat Billy Bragg, The Clash, Gang of Four, MC 5, Rolling Stone lebih sekedar ‘sesuatu’. Wakil dari sebuah generasi dan utopia usaha negasi dari sebuah zaman pada suatu tempat pada peta sejarah. Semuanya hadir di sana sebagai sebuah bagian, hingga pelan melenyap seperti patung Lenin dan kolektivisme mereka. Green memecat hampir semua personil awal SP, dan berbulan-bulan dalam studio melahirkan album follow-up yang bernada ‘ambisius’. Semua berubah tak terkecuali sound SP, dan terdengar tak lebih dari kendaraan solo bagi Green. Ini terjadi –ironisnya- saat mereka merilis album penuh pertama tahun 1982 di bawah Virgin. Songs to Remember.

Bersuara seperti itu pula lah ‘Cupid & Psyche 85’ yang saya dapatkan di penghujung masa SD. Lebih bernuansa pop dengan modern electro-funk dibandingkan rilisan terdahulu yang banyak merangkul akar punk dan reggae. Satu-satunya yang masih signifikan hanya melodi ala SP yang pada akhirnya berhimpitan dengan sekuenser, keyboard, fancy synthe. Saya menyukainya, tentu saja. Memutar kembali rekaman pertama yang saya miliki, saya mendengar sedikit sisa-sisa Green lama pada liriknya, terdengar lebih halus dan bersembunyi di antara gemulai musik baru mereka. “There’s gonna be a day when the rich get theirs,” pada “Lover to Fall” dan mungkin juga judul lagu cinta “Don’t Work That Hard” yang menyerukan untuk tidak terlalu terperosok ke dalam sistem kerja upahan di bawah penindasan nilai lebih.

Pada akhir 90-an, saya sempat mendengar ia merilis rekaman baru, masih dibawah nama SP bertitel ‘Anomie & Bonhomie’, yang hanya sayup-sayup saja terdengar. Album ini lebih terinspirasi sound NY dan hiphop bahkan konon Mos Def berkesempatan ada di satu lagu album ini, namun entahlah, ketetarikan saya habis setelah mendengar satu singel saja yang cukup mengecewakan.

Begitulah Green yang berusaha keras untuk kembali pada wilayah ‘khalayak’. Namun sang massa terlalu meng-ogahi sesuatu yang terlalu generik untuk seukuran SP, yang sudah berbeda generasi pula. Green lupa bahwa pasar dan massa pun memiliki resistansi mereka sendiri. Meski mereka merupakan ‘massa’, mereka tak senaif retorika massifikasi, standarisasi budaya industri atau teori-teori Frankrut School yang bermacam-macam itu. Rage Against The Machine membuktikannya, meski sekarang mereka bubar karena alasan kolektivitas (yang hampir mirip) namun mereka sempat menutup Wall Street dalam beberapa jam, mempromosikan dan mendonasi Zapatista, Peltier dan Mummia Abu Jammal, dan yang paling penting; menjual image pemberontakan (T-Shirt Che dan mug Lenin) sampai pada level yang paling banyak dibicarakan orang hingga membuat sebagian darinya menyadari apakah simbol lebih penting dari ‘sesuatu’.

Jika memang ‘khalayak’ lah yang dipilih.

 

 

Posted in: Uncategorized