Saya memesan ojol yang datang terlalu cepat. Tak sempat membungkus jajanan untuk dibawa ke Garongan sebagai cemilan di pertemuan warga. Selain gerimis mulai menetes, angin pantai cukup menusuk di atas motor berkecepatan lebih dari 60km/jam. Keputusan tetap memakai windbreaker sudah sangat tepat, meski hawa panas Kulon Progo tak hilang di malam hari.
Saya melewati bekas dusun yang sudah tergantikan bandara. Masih ingat beberapa jalan menuju lokasi rumah-rumah yang menjadi benteng terakhir dusun itu. Di kepala saya, memori sibuk memutar ulang rekaman berkumpul di satu teras bersama beberapa kawan sambil minum limun kelapa.
Lepas dari Temon jalan semakin gelap, penerangan jalan hanya datang dari remang rumah warga, atau mobil dan motor dari arah berlawanan. 20 kilometer hanya dalam waktu kurang lebih setengah jam, dengan jarak yang sama di Bandung mungkin membutuhkan 1 jam, bahkan lebih tergantung semacet apa jalanan. Setelah menyebrangi hamparan sawah luas, saya sampai. Disambut hangat oleh Kodok dan keluarganya. Tak lama bergabung Mbah Parno, Pak Tukijo dan beberapa lain yang bermotoran dengan sarung dan peci sebagai ganti helm.
Sisa malam diisi dengan obrolan reflektif soal kondisi terkini di Garongan. Aroma kopi berbaur dengan asap kretek. Warga duduk melingkar di tengah rumah Kodok, saling bertukar cerita tentang panen, politik, atau sekadar kabar sehari-hari. Mbah Parno bercerita soal akal-akalan PLN memaksa warga menandatangani dokumen pengalihan hak atas tanah, Kodok cerita soal anak-anak muda di desa, Pak Tukijo cerita soal kaki yang sering kesemutan. Diseling candaan khas lahan pantai, dan setumpuk rambutan oleh-oleh dari Mba Tri, istri almarhum Mas Wid. Tiba-tiba temu kangen malam itu berubah menjadi musyawarah organik: suara tinggi bercampur dengan gumaman, tawa pecah, lalu hening sesaat sebelum usul atau argumen baru muncul. Mereka bertanya bagaimana kabar Teh Eva dan kawan-kawan di Bandung hari ini.
Saya selalu banyak belajar dari warga di sini. Mendengarkan mereka mengobrol saya semakin paham bagaimana mereka dapat bertahan sejauh ini melawan perampasan lahan. Meski ancaman rencana kongsian Kesultanan dan Tambang Besi sudah tidak terlalu di depan mata seperti 15-18 tahun lalu, mereka tetap solid dan berupaya merawat ikatan warga lewat pertemuan ngopi di tengah rumah seperti ini, di forum-forum komunikasi, di pengajian atau perayaan-perayaan, terutama di setiap April; hari lahir organisasi perjuangan mereka; Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo.
Saya masih sering merasa Mas Wid ada di antara kita. Dahulu kami sering mengobrol di teras depan rumahnya di antara sayuran yang siap ditimbang dan diangkut ke pasar. ia berbicara soal tradisi-tradisi lokal yang tidak ada di dusun lain, apalagi kota; dari tradisi konvoi motor yang super berisik sampai sistem pengairan progresif agar bisa produktif di lahan pasir. Mas Wid pernah bercerita tentang kegelisahannya setelah Desa Temon tumbang. Bandara akan berekspansi menjadi Kota Bandara, dan Garongan—sebagai tetangganya—cepat atau lambat akan terseret gentrifikasi.
Jika tambang pasir besi memang sudah sangat jelas sebagai musuh, kota bandara adalah jenis pesawat alien lain yang perlahan menghantui, mengintai dari jauh dan jaraknya semakin dekat. Bandara yang menggantikan dusun Temon berdiri sebagai monumen blueprint negara: jalur lurus, pagar tinggi, ruang steril.
Di Garongan, blueprint semacam itu selalu terasa asing. Selama ini mereka sendiri yang mengatur ritme hidupnya, bukan rancangan teknokrat yang diimpor dari pusat. Di sinilah terasa jelas benturan dua logika: kehidupan sehari-hari yang tumbuh organik versus proyek besar nan asing yang seragam dan steril.
Adalah James C. Scott, seorang antropolog politik, yang pernah menulis tentang hal ini. ia baru saja meninggal dunia beberapa bulan lalu. Bagi saya, sama halnya dengan almarhum David Graeber, ia berjasa memperluas spektrum kajian anarkisme kontemporer lewat penelitian dan buku-bukunya.
Pada dekade 1970–80an, kajian politik tradisional seringkali terfokus pada revolusi besar, gerakan massa, atau perlawanan bersenjata yang spektakuler. Bentuk-bentuk kecil perlawanan sehari-hari hampir tak dianggap penting. Scott justru melihat bahwa praktik-praktik “tak terlihat” inilah yang sebenarnya membentuk tulang punggung perlawanan masyarakat tertindas, terutama petani di dunia ketiga.
James C. Scott sangat dipengaruhi oleh anarkisme—meskipun ia sendiri lebih sering menyebut dirinya “anarchist squint” (memandang dunia dengan kacamata anarkis), ketimbang seorang anarkis ortodoks. Namun demikian, Scott bukanlah seorang ideolog anarkis, tidak menulis manifesto anarkis yang meledak-ledak, melainkan menggunakan anarkisme sebagai perspektif analisis.
Baginya, anarkisme bukan panduan masyarakat tanpa negara yang mengajukan arah “revolusi yang benar”. Ia lebih merupakan sebuah tradisi dalam melihat dunia: menghargai otonomi lokal, menolak klaim negara sebagai pusat segalanya, dan menyoroti perlawanan kecil yang membentuk jaringan alternatif kehidupan. Cara membaca kehidupan sosial yang menyoroti kreativitas, spontanitas, dan resistensi masyarakat terhadap kontrol negara maupun kapital. Pengaruh ini tampak jelas di sejumlah karyanya.
Dalam konteks lahan pantai Kulon Progo, kita bisa meminjam lensa Scott pada buku Seeing Like a State (1998) yang membongkar bagaimana negara modern berupaya melihat, mengatur, dan mengendalikan masyarakat. Scott berargumen bahwa negara selalu berusaha menyederhanakan kompleksitas kehidupan nyata menjadi kategori yang bisa dicatat, dipetakan, dan diawasi: nama keluarga dalam sensus, luas tanah dalam sertifikat, hasil panen dalam statistik. Semua ini disebutnya sebagai upaya menjadikan masyarakat “legible”—mudah dibaca dan dikelola dari atas.
Terdengar normal dan sepele. Namun justru dalam proses penyederhanaan inilah muncul bencana: proyek-proyek besar negara. Dari kolektivisasi pertanian Soviet, hingga program pembangunan di negara-negara dunia ketiga, berulang kali gagal karena mengabaikan pengetahuan lokal dan praktik keseharian warga. Mematikan pengetahuan sehari-hari yang tak tercatat di blueprint.
Mirip Graeber pula, James C. Scott membuka jalan dengan satu tesis sederhana tapi radikal: politik tidak hanya berlangsung di gedung parlemen atau di medan perang, melainkan juga di sawah, dapur, dan ruang obrolan tersembunyi. Seeing Like a State menjadi kritik tajam terhadap modernisme otoriter yang percaya bahwa kehidupan sosial bisa direduksi ke dalam tabel dan peta.
James C. Scott punya satu kata kunci penting: mētis. Kata ini dipinjam dari Yunani kuno, artinya kecerdikan praktis, pengetahuan sehari-hari yang cair dan tidak tertulis. Jika “ilmu resmi” butuh manual, tabel, atau cetak biru, maka mētis hidup di tubuh dan kebiasaan.
Seorang petani tahu kapan menanam bukan dari kalender birokrat, tapi dari arah angin, rasa tanah di telapak tangan, atau suara serangga di malam hari. Seorang nelayan bisa membaca gelombang tanpa harus membuka buku oseanografi. Seorang ibu tahu kapan gula dalam wajan sudah pas karamelnya hanya dengan mencium aromanya.
Di pesisir Garongan, mētis hadir dalam cara warga menjaga ritme hidupnya. Mereka tahu kapan harus menanam cabai, kapan semangka, kapan membiarkan lahan istirahat, bagaimana membuat sistem pengairan di lahan pantai yang gersang, kapan waktunya rapat warga tanpa selalu harus menunggu undangan resmi. Obrolan sambil ngopi bisa lebih penting daripada forum formal, karena dari situlah keputusan diambil. Itu bukan sekadar basa-basi, tapi cara menjaga ikatan sosial agar perlawanan tetap hidup. Begitu pula ketika negara, sultan dan korporasi mencoba masuk mengambil alih ruang hidup mereka. Tradisi itu dengan sendirinya menjadi struktur organik dusun yang secara spartan membarikade jalan masuk bagi tim pengukur, ormas dan eksvakator, berjuang bertahun-tahun.
Scott menunjukkan bahwa mētis inilah yang selalu jadi “batu sandungan” bagi proyek besar negara. Negara ingin dunia seragam, lurus, mudah dibaca. Tapi mētis selalu liar, penuh lapisan, tak bisa direduksi jadi angka. Di sini berarti mētis bukan hanya soal bertahan hidup. ia adalah hidup itu sendiri. Hidup yang merangkul seni mengatur ritme. Kecerdikan yang lahir dari keterlibatan penuh dengan dunia nyata, dari kemampuan tubuh membaca tanda-tanda kecil di sekitar. Dalam pengertian demikian, mētis bekerja sangat mirip dengan musik. Sama seperti jam session yang lahir tanpa partitur tetapi menghasilkan harmoni yang hidup, mētis adalah jam session kehidupan—improvisasi yang menghubungkan pengalaman, intuisi, dan kebersamaan.
Maka tidak heran jika musik sering menjadi metafora paling jelas untuk menjelaskan mētis. Tidak ada mētis yang lebih kentara daripada improvisasi—seni merespons situasi secara spontan tapi dengan bekal pengalaman panjang. Di dalam musiklah kita bisa mendengar bagaimana pengetahuan tubuh bekerja.
Ambil contoh yang paling kentara; Fela Kuti. Musik Afrobeat-nya lahir dari jam session panjang bersama Tony Allen dan band Afrika ‘70. Tidak ada konsep atau format baku. Lagu Fela bisa mengalir 10–15 menit, dengan lapisan drum, gitar, bass, perkusi, dan horn section yang saling silang. Itu adalah mētis dalam bentuk bunyi: pengetahuan kolektif tentang kapan harus menahan groove, kapan meniup keras, kapan berhenti sejenak, kapan menaikkan intensitas.
Atau dalam jazz: Miles Davis dan John Coltrane sering kali bermain tanpa notasi lengkap. Mereka membawa “peta samar”, lalu membiarkan tubuh dan telinga memutuskan arah. Hasilnya terdengar seperti kekacauan, chaos, namun itu tak lebih dari dialog musikal yang hidup. Improvisasi jazz adalah mētis, pengetahuan yang tidak bisa diajarkan penuh di kelas, hanya bisa diasah dengan mendengar, berlatih, dan merespons.
Ini yang kemudian terjadi pula pada hip-hop dengan freestyle rap-nya di departemen rima, dan J Dilla di departemen musik. Dilla dengan Donuts memperlihatkan mētis di level produksi. ia dikenal karena keberaniannya “membengkokkan” grid digital. Ketika mayoritas produser hip-hop mengandalkan fungsi quantize—yang secara otomatis meluruskan setiap ketukan agar pas dengan tempo komputer—Dilla justru sengaja menaruh snare atau kick sedikit keluar dari jalurnya.
Hasilnya adalah beat yang terdengar “off-grid”: seolah-olah salah atau jatuh tidak tepat waktu, namun justru menciptakan groove manusiawi yang lebih dalam. Dengan cara ini, musik Dilla menjadi hidup, bernafas, dan lebih dekat dengan cara tubuh merasakan ritme dibanding dengan standar mekanis mesin. ia membuktikan bahwa ketidakrataan dan ketidakteraturan, atau bahkan “kesalahan”, jika dijalankan dengan intuisi yang tepat, bisa menghasilkan energi musikal yang lebih kuat daripada keteraturan sempurna.
Dalam perkara tegangan antara improvisasi dan yang terukur dan poliritmik, tentu saja musik lokal memiliki gamelan, rebana dan kecak. Namun bagi generasi brengsek yang tak dibesarkan oleh seni tradisi seperti saya, akan menemukannya di musik populer. Dalam konteks ini, bagi saya tak ada lagi album yang lebih mewakili selain album Talking Heads, Remain in Light.
Sejak dirilis pada tahun 1980, Remain in Light langsung mendapat sambutan hangat dari kritikus musik, dan statusnya semakin menguat seiring berjalannya waktu. Album ini hadir dalam banyak daftar “terbaik sepanjang masa” dan nyaris selalu disebut sebagai mahakarya Talking Heads—eksperimental, imajinatif, sekaligus berpengaruh lintas generasi.
Namun, yang membuat Remain in Light menjadi klasik bukan hanya prestisenya di dalam daftar bergengsi, melainkan tawaran estetika tandingan yang jarang ditemui di musik pop arus utama. Mereka merancang musik yang menolak grid linear khas pop Barat, lalu menggantinya dengan jaringan ritme polifonik yang saling silang, ibarat hutan tropis penuh suara yang terus tumbuh tanpa pusat. Memilih mētis musikal—polyrhythm, improvisasi, lapisan suara—ketimbang format baku pop Barat yang rapi dan linear meski tak benar-benar menanggalkannya.
Album ini lahir di tengah momentum post-punk, tetapi justru bergerak menjauh dari sekadar tradisi art-rock New York. ia menyerap pengaruh musik Afrika Barat—khususnya afrobeat ala Fela Kuti—serta teknik looping dan overdub studio hingga menghasilkan kolase suara yang terasa hidup, organik, dan terus bergerak. Pendekatan ini bukan hanya eksperimental, tetapi juga menantang gagasan dominan tentang apa itu musik pop. Tak heran, jejak Remain in Light masih bergema panjang. ia adalah album yang membuka horizon baru, sebuah pengingat bahwa pop bisa tetap radikal, kosmopolit, dan menolak stagnasi.
Dari lagu ke lagu, Remain in Light memperlihatkan bagaimana sebuah album bisa berkembang seperti organisme hidup. ia dibuka dengan “Born Under Punches (The Heat Goes On)”, beat patah-patah, bass yang berat, dan gitar yang berisik seperti kawanan burung tropis menciptakan atmosfer yang berlapis—hidup, berdenyut, namun juga terasa sesak. Di tengah pusaran itu, David Byrne memerankan sosok “government man”, figur birokrat yang hanya ingin “bernapas lega” tapi justru tercekik oleh sistem yang ia jalankan sendiri. Ada paradoks di sini: musiknya liar, polyrhythmic, nyaris tak terkendali, sementara liriknya menggambarkan dunia yang penuh paranoia dan keterbatasan ruang.
Dari sana, album bergerak ke “Crosseyed and Painless”, track dengan drum dan bass bergerak seperti rel yang kokoh, tapi di atasnya gitar, perkusi, dan vokal saling tindih, membentuk pola silang yang mustahil direduksi jadi satu garis lurus. Sebuah wujud “anti-structure”. Bukan berarti ia tanpa bentuk, namun menolak bentuk tunggal yang memaksa. Lagu ini lah yang mengingatkan saya pada upaya pembongkaran grid seperti J-Dilla. Grid yang selalu identik dengan keyakinan buta cetak biru teknokratik.
Mendengar ini sembari membayangkan apa yang dielaborasi Scott saat membicarakan kehidupan sosial yang dirancang ulang dengan garis lurus, tabel dan angka. Stalin memaksa petani masuk kolkhoz dengan skema besar; negara dunia ketiga menata pembangunan lewat masterplan yang rapi di atas kertas. Semuanya percaya bahwa keteraturan adalah kebenaran. High modernism adalah obsesi pada formasi, tapi mengabaikan ritme. ia menghapus detail kehidupan nyata yang cair, penuh kebetulan, dan improvisasi. Rambutan, interupsi canda forum dan semerbak aroma kopi.
Pada favorit saya, “The Great Curve” yang berlapis-lapis, terdengar gitar mengulang potongan riff seperti mantra, perkusi Afrika mengalir di jalurnya sendiri, vokal David Byrne melompat dengan frasa patah, sementara backing vocal perempuan menyeruak seperti teriakan ritual. Tidak ada pola dominan; justru keruwetan inilah yang membentuk harmoni. Lagu ini terasa seperti badai ritmis—apa yang David Bennun sebut sebagai “a freak weather event”—tak terduga, tapi sekaligus alami. Termasuk solo gitar epik Adrian Belew di ujung lagu. Di titik tengah album, “Once in a Lifetime” hadir sebagai anthem eksistensial: penuh ambivalensi, antara merayakan absurditas hidup atau menyerah pada kebingungan modern.
Selepas itu, energi album perlahan melambat, seakan menggambarkan proses beku yang muncul ketika vitalitas digerus narasi besar negara. “Houses in Motion” menampilkan langkah berat manusia modern yang dipaksa berjalan tanpa arah, dengan terompet Jon Hassell yang menyerupai hewan besar yang siap menginjak tanpa sadar. Puncaknya tiba di “The Overload”, penutup gelap yang menyeret kita ke dalam lanskap pasca-apokaliptik: suara keyboard berderak seperti mesin perang, seakan band memainkan musik di bumi yang sudah terbakar, menggunakan sisa-sisa listrik terakhir.
Secara sonik, Remain in Light bergerak dari vitalitas ritme liar menuju lumpur kelelahan mekanis. ia adalah perjalanan dari mētis—pengetahuan improvisasional yang penuh kehidupan—ke dunia steril yang beku oleh logika negara. Justru dalam pergeseran inilah album ini terasa relevan dengan kritik James C. Scott: ia tidak hanya merayakan kerumitan, tetapi juga memperingatkan tentang apa yang terjadi ketika kerumitan itu dimusnahkan.
Album ini bisa dibaca sebagai anti-teori kota modernis. Jika (Kota) Bandara dan perkebunan sawit mewakili dunia yang diratakan agar mudah dikontrol. Remain in Light adalah denyut sebuah dusun liar yang berdenyut oleh kerumitan. Sebuah organisme sosial-musikal, di mana setiap suara menemukan tempatnya tanpa harus ditata oleh otoritas pusat.
Saya membayangkan proses kreatif album ini lahir dengan logika serupa. David Byrne dan Brian Eno tidak datang dengan partitur lengkap atau cetak biru rapi. Mereka membawa potongan riff, fragmen ritme, lalu membiarkannya berputar dalam jam session panjang. Chris Frantz mengetuk drum berulang-ulang seperti mantra, Tina Weymouth memegang groove bass yang cenderung stabil nyaris membosankan, Jerry Harrison menaburkan lapisan gitar, sementara Byrne melontarkan frasa tak utuhnya. Dari “keruwetan” inilah lahir struktur organik.
Remain in Light adalah simulasi musikal dari masyarakat tanpa blueprint. Polyrhythm Afrika, vokal ritual, groove bass repetitif, dan lapisan gitar-sintesis menciptakan jaringan ritme yang tak tunduk pada satu pusat. Musiknya tumbuh seperti rhizome—akar liar yang menyebar ke segala arah—sebuah bentuk sonik yang menolak logika negara.
Lalu dari mana datangnya inisiatif, gagasan awal, atau dalam bahasa politik gerakan selama ini; ‘kepemimpinan’? Pada banyak wawancara dan cerita konon Byrne dan Eno mendominasi, namun selalu membiarkannya menjadi ide terbuka. Di tengah jam session mereka saling memberikan ‘kepemimpinan’ satu sama lain. ia tentu saja tidak terbebas dari konflik, ada kalanya tegangan lahir dari negosiasi permainan ini. Seperti halnya keributan dan debat dalam musyawarah.
Mētis adalah pula kebijaksanaan improvisasi yang tak bisa sepenuhnya direncanakan, tapi justru menemukan bentuknya dalam praktik. Dalam improvisasi ada semacam ‘izin’ tak resmi untuk membebaskan masing-masing melakukan apapun, termasuk inisiatif dan ‘kepemimpinan’. Seperti halnya petani yang tahu kapan harus mengatur waktu tanam, pemancing yang paham kapan harus menarik umpan, mereka yang berpraktik akan tahu kapan harus mengisi peran inisiatif, ‘memimpin’ lalu mundur dan memberikan mic pada yang lain.
Saya selalu menganggap estetika mereka ini bukan sekadar eksperimen seni. ia juga adalah pernyataan politik. ia adalah album politis yang tidak linear dengan album bernuansa propagandis seperti album-album Rage Against The Machine atau Seein Red. Itulah mengapa Remain in Light terus dianggap relevan: ia mengajarkan bahwa musik bisa menjadi utopia kecil, sebuah ruang di mana improvisasi, kolektivitas, dan resistensi berjalan bersama. Dalam dunia yang dikuasai oleh rumus-rumus baku negara—baik dalam bentuk bandara, perkebunan sawit, atau algoritma digital—album ini menjadi pengingat bahwa selalu ada cara lain untuk hidup, dan tentu saja bukan sekedar bertahan hidup.
Malam di Garongan, dengan kopi, rambutan, dan musyawarah warga, menyisakan saya gema yang sama dengan ritme liar Remain in Light. Dua ruang-waktu yang jauh—desa pantai Kulon Progo 2025 dan studio rekaman New York tahun 1980—dipertemukan oleh satu hal: keyakinan bahwa kehidupan tidak bisa dipaksa tunduk pada cetak biru. Bahwa musik populer bisa menjadi laboratorium politik—melawan “grid” modernisme negara, melalui tubuh, ritme, dan kolektivitas.
James C. Scott memberi kita lensa dan bahasa untuk memahaminya: legibility dan mētis. Negara selalu ingin membuat hidup jadi rapi, seragam, dan mudah dibaca. Tapi rakyat selalu menemukan cara untuk menjaga kerumitan: dalam obrolan, dalam strategi bertahan, dalam musik, dalam tarian, dalam tawa yang pecah di tengah musyawarah. Dalam dunia yang semakin dipenuhi proyek besar, algoritma, dan jalur lurus, baik lahan pantai Kulon Progo maupun Remain in Light mengajarkan hal yang sama bahwa hidup lebih kuat ketika dibiarkan liar, dengan ritme yang organik dan berlapis.
Jika Seeing Like a State adalah buku tentang kegagalan rekayasa sosial, Remain in Light adalah album tentang kemungkinan cara lain untuk hidup bersama melalui kerumitan, improvisasi, dan jaringan horizontal. Jika Scott menulis bahwa negara ingin dunia bisa dibaca, Talking Heads dan rambutan di Garongan bagi saya merupakan pengingat bahwa kehidupan yang paling kuat justru yang tidak bisa dijinakkan oleh peta.
Kulon Progo, 28 Januari 2025

Leave a comment