Jalan Lain dan Batas Kompromi

Posted on May 15, 2017

3


“What’s important about punk rock is its independence of government & of corporations & its network that exist outside of that. That is what is political…not the words, not the music as much as the independence…” —Tim Yohannan

Punk sudah lama mati. Itu pun jika memang pernah hidup di sini. Kecuali jika coretan-coretan Circle A di dinding-dinding kota, penampakan spikes di mall, kaos lusuh Discharge dan mohawk di perempatan jalanan kalian anggap demikian.

Pada satu siang, Kimung mengirim pesan teks. Dengan hawa sepanas siang itu seharusnya ia mengirim sebotol minuman dingin. Ia bertanya apakah saya berniat menulis tentang kondisi komunitas (musik) di Bandung hari ini. Dengan kesadaran penuh ia tahu bahwa saya sudah malas berurusan lagi dengan hal-hal seperti itu, pasti ada alasan penting baginya untuk bertanya demikian. Ia melanjutkan pesan teksnya dengan serentetan kegelisahannya tentang bagaimana hari ini komunitas terpeta-petakan relasi sosialnya berdasarkan program kampanye korporasi yang memberinya makan. Ini terdengar seperti album Strife pasca bubar lalu reunian. Baru tapi lama, nyaris redundan.

Tentu saja saya menolaknya. Saya menikmati waktu saya berjarak dengan urusan kritik-otokritik di wilayah yang hasilnya pun tak kemana-mana. Jika saya membutuhkan itu sekalipun, pastinya akan dilakukan dengan teh hangat dan lingkaran kecil obrolan. Kalau bisa di saat hujan.

Bukan karena tak tahan dengan segala label yang ditempelkan di jidat dan pantat, dari mulai Punk Police, Polisi Skena, Punk Khawarij atau Tukang Urus Urusan Orang. Namun lebih karena emansipasi ala punk tersebut tak lagi saya anggap sebagai kalimat dengan tanda seru. Lebih merupakan kata kerja. Seringnya bahkan bermain-main setelah bertemu dengan tanda tanya, dengan permasalahan nyata dan dengan kerendahan hati.

Membangun alternatif dari apa yang ada merupakan hal yang jauh lebih berguna dan produktif dibanding mencatat apapun yang tak saya sepakati di luar sana. Saya pernah berpikir mencatat pergulatan membenturkan ide dan praktek itu sama pentingnya dengan menjalani pilihan membangun alternatif  dan bisa dilakukan secara simultan. Tapi rasanya tidak demikian pasca beberapa tahun terakhir ini. Kritik otokritik hanya membuat yang melakukannya nampak seperti pertunjukan doger monyet. Hanya saja dalam hal ini tak ada yang tertawa. Sinis mungkin banyak.

Namun demikian saya sungguh sadar, Bandung pula bukan skena DC dengan Positive Force-nya. Dengan sejumlah kawan yang tersisa hari ini, sangat tidak mungkin untuk mengeliminir relasi sosial berdasarkan asosiasi mereka dengan korporasi besar.  Bukan karena saya tak yakin dengan pilihan dan konsekuensi dari pilihan saya. Namun jika tetap dilakukan, bisa-bisa saya nyaris tak punya teman. Untuk hal sepele seperti merilis rekaman dari band satu kota yang sirkulasi aktivitasnya intim di lingkaran komunitas saja sudah sulit, apalagi jika dilengkapi dengan syarat tak pernah berurusan dengan kampanye korporasi di komunitas. Bisa dibayangkan upaya lain yang lebih besar lagi seperti membangun ruang alternatif di kota misalnya.

Faktor itu sudah lama saya skip. Sejauh yang saya ingat, kritik saya pada helatan akbar di Gasibu lampau pun lebih karena terseretnya komunitas pada acara kampanye calon pemimpin daerah (baca: politik elektoral). Bukan persoalan ekspansi korporasi di tengah komunitas yang bahkan jauh hari sebelum saya menulis itu pun sudah saya anggap sebuah ‘bukan masalah’. Bagian dari ‘toleransi’. Pilihan kompromis.

Dan ketika suatu hari politik elektoral itu mentradisi dan kecenderungan baru hadir dalam modus lama, saya masih bisa memalingkan muka. Saya bisa tak peduli sejuta orang di komunitas ini beririsan dengan pemerintah kota dan walikotanya, selama saya masih punya banyak kawan yang masih bersepakat untuk membangun tradisi dan jejaring alternatif lain di luar itu semua. Melawan konformitas bersama-sama. Tapi rasanya saya keliru, atau mungkin memang terlalu berekspektasi tinggi. Karena saya sadar ‘banyak kawan’ dalam kalimat tadi adalah hiperbola, atau bisa disebut sebagai upaya menghibur diri sendiri ketika melihat realitasnya hanya tinggal ‘sedikit saja kawan’.

Tentu saja hal tersebut lagi-lagi bisa dikompromikan. Siapa bilang tidak bisa? Bisa kita pedulisetankan apapun yang pernah kita baca tentang ide-ide ‘alternatif’ itu. Ayolah, punk sudah bukan lagi sesuatu yang relevan. Eksistensinya sudah mirip parodi yang sulit dianggap lucu. Bagian dari jokes generasi milenial, hadir di meme-meme. Ia hanya stasiun pemberhentian sementara bagi kawan-kawan yang hari ini berumur 30/40-an. Bahkan sebagian besar mencampakkannya ketika umur belum mencapai 20-an. Bagian dari banyak cerita-cerita penyesalan orang “insyaf”. Seburuk itu memang punk.

Ayo kita tarik kendor lagi, siapa bilang tidak bisa? Tinggal kita hapus garis batas lama dan melihat sampai di mana garis kompromi yang baru. Sampai semua kawan disponsori partai? sampai semua rekan menjadi corong kampanye calon pemimpin daerah? bermain band di acara tentara? sampai semua teman beririsan dengan ormas fasis? sampai band metal kanan kiri kalian bermain di acara megaloman rasis? Lupakan semua etos punk yang tak lagi relevan itu, mari buat garis baru. Sampai mana? Kagok edan.

Punk memang tak pernah lagi relevan. Siapapun yang meredefinisinya akan kecolongan dan berteriak copet. Sama halnya dengan berharap para punks terlibat di dalam pergolakan sosial. Tentu kalian paham yang saya maksud. Bukan solidaritas sosial seperti donor darah, kerja bakti, membantu yang tidak beruntung dan hal-hal filantrofis lain. Jika itu yang dimaksud, tentu saya sudah melecehkan dengan amat sangat, seolah komunitas di Bandung tidak melakukan itu. Persis isi kotbah para pejabat menjelang Mayday.

Rentang waktu punk hadir sebagai pencerahan dengan tanda seru sudah lewat. Saya pernah bisa bersyukur, paling tidak masih menemukan teman yang masih sepakat untuk menjalani jalan lain itu. Itu sudah lebih dari cukup, sampai beberapa minggu kemarin ketika saya sadar saya keliru. Ada baiknya saya merevisi lagi makna dari ‘paling tidak’ yang biasa saya ingat-ingat. Mereka tetap teman, sahabat dan kerabat. Hanya saja “Jalan Lain” tak lebih dari sekedar judul buku almarhum Mansour Fakih. Tak lebih.

Saya tak lagi percaya kalimat “Punk Is Dead”, jangan-jangan memang punk tak pernah lahir di kota ini. Hanya desas-desus mitos yang kalian dengar pernah hadir di dua dekade lampau, atau dalam versi generiknya; berupa tajuk kecil “punk diciduk saat mengemis” di satu sudut kolom surat kabar tak terkenal. Fosil dan gaib. Saya hampir tak percaya saya membahasnya lagi.

Jika ada yang bertanya soal jejaknya, paling tidak hari ini saya bisa menunjuk ke segilintir kepala yang hadir pada penghadangan penggusuran di satu sudut kota, di sekitar berisik toa pada aksi solidaritas terhadap penangkapan petani Majalengka yang bergaung sampai ke Bandung seperti halnya ke kota lain. Di deretan buku yang dijejerkan saat aksi simbolik bagi kawan-kawan Perpustakaan Jalanan yang disikat militer di tengah kota kita sendiri, di antara rintik hujan menggotong pompa penyedot air hasil udunan menuju lokasi banjir di Bale Endah. Di ruang-ruang sempit kontrakan membuat ruang belajar alternatif dan lingkar studi koperasi. Tapi saya yakin, tak akan ada yang bertanya.

Saya menolak tawaran Kimung hari itu, pun tulisan ini bukan penggantinya. Di tengah badai perang politik identitas dan huru-hara politik elektoral, seharusnya ia mengirim saya satu termos minuman hangat. Dan saya masih menyukai album baru Strife pasca reunian meski terdengar generik dan redundan.

Posted in: Uncategorized