Melihat ‘Kekuasaan’ Marx dan Nietzsche Lewat Company Flow Dan ‘Patriotism’

Posted on June 5, 2016

2


Ini tulisan yang sudah cukup lama ditulis, mungkin satu dekade yang lalu untuk sebuah zine yang urung saya buat. Namun setelah 15 tahun Company Flow membubarkan diri, rasanya ada sesuatu yang perlu dibagi perihal legacy mereka. Tak cukup dengan memutar debut luar biasa mereka “Funcrusher Plus” selama berhari-hari, saya membuat sebuah ilustrasi ‘End to End Burners’ dengan tinta cina, mengedit sedikit tulisan lama tentang track ‘Patriotism’ ini dan membuat track remix dengan lagu yang sama, tak lebih sebagai penghargaan, tribut untuk kehebatan, reputasi dan mungkin seberapa besar pengaruh mereka pada saya secara personal dan hiphop di zaman pasca era keemasannya, membuka jalan sekaligus memberi inspirasi generasi hiphophead di era selanjutnya. Thanks, Enjoy.

PS: Unduh remix saya di sini

coflow

“Patriotism” adalah satu single dari Company Flow, sebuah grup hiphop underground legendaris yang eksis di pertengahan 90an dan membubarkan diri di tahun 2001. Singel ini dirilis pada saat era ‘keemasan’ sekaligus detik-detik terakhir dalam sejarah mereka pada akhir 90-an. Pertama kali dipublikasikan pada album kompilasi Soundbombing Volume 2 yang berisikan pula single MC-MC lainnya seperti Talib Kweli, Q-Tip dan lain sebagainya di bawah label Rawkus.

Meski tidak dirilis sebagai bagian dari album mereka, lagu ini dapat disebut sebagai salah satu contoh mengapa mereka menjadi legenda bawah tanah dan mengapa kolektif yang terdiri dari El-P, Bigg Juss dan Mr.Len ini seringkali disebut sebagai grup hiphop inovator generasi ke dua yang super-jenius.

Pernah mereka mainkan pada kampanye mobilisasi massa untuk Ralph Nader seorang calon presiden Amerika yang nyeleneh (Nader berkampanye menolak perang, mengurangi seminimal mungkin anggaran angkatan bersenjata Amerika dan membatasi kekuasaan korporasi dan memalak mereka gila-gilaan). Hal ini agaknya sedikit mengejutkan karena memang tak banyak yang menyadari bahwa betapa politisnya Co-Flow yang lebih sering identikkan sebagai kolektif hiphop tradisional yang doyan battle, braggadocio dengan keabsurdan b-boy yang paling arogan di ranah hiphop 90an.

Lirik mereka begitu kompleks untuk dimengerti dalam satu kali mendengarkan. Bagi kalian yang dahulu sempat menyimak album mereka Funcrusher Plus tentu akan mengamini bahwa album itu bukan hanya luar biasa dalam hal keotentikannya, menghasilkan musik hiphop yang tak pernah lahir sebelumnya di hiphop, menggabungkan sound old-school hiphop dengan estetika new-school dan menggunakan teknologi lo-fi dengan sangat ajaib. Rima mereka pula membuat kagum siapapun yang menyimak lapisan demi lapisan metafor yang ternyata memiliki ‘double meanings’ dalam satu jaringan rima yang brutal dan aduhai.

Seperti lagu-lagu Co-Flow lainnya, lagu ini sangat klaustrofobik. Penuh dengan metafora dan curse yang arogan dan sekaligus intelektual. Co-Flow memang terkenal sebagai grup yang super-narsistik. Sesuatu yang sebenarnya sudah terlalu biasa juga dalam hiphop. Namun tak pernah ada grup sebelumnya yang bisa membuat lagu sompral kampungan menjadi begitu Wagnerian dengan gaya penuturan rima-nya yang super kompleks dan sangat-sangat aneh.

mos-def-next-universe-company-flow-patriotism-12-us-import-vinyl-pressing_7335962“Patriotism” memiliki satu tema sentral; ‘kekuasaan’. Atau untuk lebih tepatnya bisa disederhanakan lagi; perihal Amerika. Bercerita tentang betapa digdayanya negara sang ‘paman sam’ itu. El-P alias El Producto, sang frontman tak resmi dari CoFlow mendeskripsikannya dengan sangat vivid saat membuka bait; ” I’m the ugliest version of passed down toxic capitalist/ rapid emcee perversion — I’m America!/ Your bleeding-heart liberal drivel gets squashed/ Wash em with sterilized rhyme patriot-guided weaponry bomb/from the makers of the devious hearts — I’m America!/You bitchy little dogs don’t even phase my basic policy/ The bomb’s smarter, my Ronald Reagan’s crush Carter/ With Bay of Pig tactics makin young men into martyrs”.

Cara paling mudah melihat kekuasaan institusional seperti ini tentu dengan meminjam konsep dialektika sejarah-nya Marx. Bahwa kekuasaan itu berasal dari hubungan kausal, alias sebab-akibat dalam sejarah. Mekanisme kekuasaan berlangsung dalam hubungan ‘atas-bawah’, penguasa dan yang dikuasai, penghisap dan yang dihisap, penindas dan yang ditindas. Mereka-mereka yang berada di belakang kekuatan ekonomi dan budaya negeri ‘gedung rubuh’ itu merupakan ‘penguasa dunia’. Mereka lah yang memiliki kontrol atas dunia. Maksud dari ‘kekuasaan’ disini sudah jelas, kekuasaan Amerika-lah jawabannya.

Co-Flow dengan lihai melukiskan bagaimana digdayanya dominasi tersebut. Mulai dari perihal total dominasi (Do you know, the access, to weapons, money and power that we have? We will fucking kill you!), dominasi ekonomi (I’m the ugliest version of passed down toxic capitalist’ ‘You either purchase my products or you’re worthless, that’s my service!’), dominasi budaya (between serpentine words and mass confusion of media controlled blurb advertising disillusionment/ ‘What language is that?/I’m angusih in fact, tangle with a star-spangled standard issue for crowd management’) hingga dominasi atas kebebasan individu dan komunal (with cameras mics and satellites that leave privacy breathless/You don’t even know the chemicals you’ve ingested’ dan ‘Soak, cloak, hormone injected dairy product/and conservative right-wing anti-eroticism/ the poisonous resevoirs and power lines in your neighborhood cause botchilism).

Dengan bait bait seperti tadi tentunya tanpa El-P berteriak “I’m America!” sekalipun kita akan paham negara adidaya mana yang memiliki dominasi dan arogansi sedemikian rupa menjajah bumi. Namun yang membuat lagu ini (sekaligus Co-Flow) istimewa adalah bagaimana mereka merepresentasikannya. Bagaimana lagu ini dengan gaya penuturan mereka yang sangat ‘Company Flow’ dan tentunya ‘sangat-sangat hiphop’ kemudian terdengar dan menuntun kita pada pemahaman perihal kekuasaan lain yang berbeda. Tepatnya, apa yang Nietzsche sering sebut dengan kehendak berkuasa (will to power), yang kemudian dirip-off oleh Foucault jadi will to knowledge. Kekuasaan yang bukan merupakan institusi.

Hematnya kita memulai dari cerita Nietzsche ketika ia berhadapan dengan pertanyaan bagaimana mengatasi kenihilan alias nihilism yang di kemudian hari dipinjam Foucault menginterupsi konsep Marx tadi dengan mengatakan bahwa kekuasaan bukanlah dari sebuah struktur, bukan pula suatu kekuatan yang dimiliki, tetapi nama yang diberikan pada suatu situasi strategis kompleks dalam suatu masyarakat yang ada dimana-mana dan datang dari mana-mana.

Foucault menyimpulkan bahwa terjadi perubahan tekanan dari ‘kekuasaan negara’ ke ‘kekuasaan subjek’. Ia melihat kekuasaan bukan berasal dari fungsi dominasi suatu kelas yang didasarkan pada penguasaan ekonomi, atau manipulasi ideologi seperti yang dibilang Marx namun ia memahaminya lewat banyak dan beragamnya hubungan-hubungan kekuatan. Permainanlah yang akan mengubah, memperkuat dan membalikkan hubungan-hubungan tersebut melalui perjuangan dan pertarungan terus-menerus.

Kebalikan dari Marx, ia justru melihat kekuasaan tidak represif sebaliknya, justru ia erat dengan kehendak untuk mengetahui dan bersifat produktif. Sebuah ‘kehendak’ yang dimaksud Nietzsche penting dalam menjalani kehidupan yang nihil, ketika kebenaran dan nilai itu sebenarnya tidak ada, yang ada adalah kebenaran dan nilai yang dibuat kita sendiri, yang tak mungkin jika seseorang tak memiliki kehendak untuk berkuasa dan (dalam bahasa Albert Camus) ‘berkarya dalam bahaya’.

Di sini lah kemudian bagaimana estetika MC-ing dalam hiphop menemukan tempatnya dalam kekuasaan ala dyonisian Nietzsche. Co-Flow membuat sebuah lagu protes, namun yang membuatnya istimewa dan terpisahkan dengan grup-grup hiphop politis di era-nya (Dead Prez atau The Coup misalnya) adalah cara representasi mereka yang tak pernah menjauh dari bragadocio total. Saat memakai pengandaian “I am”, saya, subjek, berarti mereka dengan bangganya memproklamirkan secara sarkastik sebagai Amerika dan pada saat bersaman lirik mereka tak ubahnya lirik battle dalam tradisi MC-ing.

Mereka membawa simbiosa penggayaan rima ini hingga ke level yang sangat buas dan komples dengan metafor yang rumit. “I’m lovin it!  Keep the people guessin who I’m runnin with/Control the population and hide behind sacred covenants” atau “I’m Saran gas, hide in your apartments/I’m stealth like a robot hidden in the fat asshole of Cartman/And give a crippling fuck like sand sharkskin condom” atau “Smiley faced opportunity cypher and jump on the CoFlow pension plan” atau yang lebih buas lagi; “Fuckin with me??!!  Means liberal wildlife burnin, gasoline seized and an automagnetic third world printed with metal plates in they knees”.

Sederhananya, ‘Patriotism’ sebagai sebuah track merupakan manifestasi kekuasaan sebuah grup bernama Company Flow yang mencoba men-tes ego mereka dalam sebuah teritori tak bertuhan bernama ‘hiphop’, mereka seolah membenarkan Foucault yang berteori bahwa kalau sebelumnya kekuasaan hanya dipahami lewat perang, perjuangan, larangan, namun sekarang justru kekuasaan dapat dilihat juga lewat bentuk manajeman energi, yang tidak mungkin mengabaikan pengetahuan, di mana menurut Foucault keinginan untuk mengetahui adalah kekuasaan juga. Company Flow lewat ‘Patriotism’ selain menerjemahkan kekuasaan Amerika dalam bentuk kejeniusan lirikal seperti di atas tadi juga menerjemahkan arti betapa ‘berkuasanya’ mereka. Pendeknya mungkin bisa memakai pengandaian; “jangan macam-macam dengan Company Flow karena kalian akan berurusan dengan sebuah kekuatan lirikal/emcee/hiphop yang hampir persis mirip kekuatan Amerika menguasai dunia.”

Seperti halnya dalam tradisi battle para rapper, mereka seolah ingin mengatakan bahwa ‘ini hiphop’, kalian harus ‘berkuasa’ untuk bisa eksis. Tak ada belas kasihan dalam hal menggengam dan meludahi mikropon. Kalian harus memiliki kehendak untuk itu atau melenyap. Dalam hiphop, menghajar ego MC lawan kalian adalah sebuah bagian dari aktualisasi kekuasaan, para rapper era awal menyebutnya ego-trippin. Sebuah kuasa yang diperoleh secara tidak kebetulan tapi lewat sebuah proses pengasahan kekuatan yang dites berulang-ulang dan memakan waktu, emosi dan tenaga, yang dalam hiphop disebut  pay dues.

Banyak momen bersejarah dalam hiphop yang menandakan estetika ini begitu dominan. Bisa kita sebut misalnya duel antara KRS-One dan MC Shan (yang mewakili BDP vs Juice Crew) di akhir 80-an. Menjadi otentik seringnya pula menjadi alasan utama kehendak berkuasa ini hadir dalam tradisi rap seperti misalnya tema seputar menghajar rapper kloningan (mereka yang mencoba mengkopi/mem-bite habis-habisan style rapper lain). Dalam tradisi hiphop, orisinalitas memang bukan harga mati, tapi cukup fatal bagi mereka yang meremehkannya. Lihat saja nasib album Bush Babees yang dianggap mirip Tribe Called Quest, atau MC-MC lain yang dianggap terlalu mirip seseorang yang lebih dulu memakai style tertentu, sebut saja Lordz Of Brooklyn yang dianggap mirip House of Pain, atau Arrested Development yang diangap membajak Jungle Brothers. Dalam hal ini Company Flow merepresentasikan dengan pengandaian kebijakan Bill Gates dalam memproteksi produk-produk Microsoft; “I’m America!!  This is where the pain grows like poppies/ in a Field of Dreams I paid for, I’ll burn it down if operated sloppily/ COPY?  My economic sanction rhyme style got your syllables”.

“Patriotism” adalah kelas filsafat dalam praktek. Co-Flow lewat track ini seolah memberikan jawaban bagaimana melawan kesombongan Paman Sam dengan alternatif cara mereka; mentransformasikan energi yang digunakan untuk ‘membela negara’ (dalam hal ini Amerika) untuk kemudian dibelokkan dan digunakan menjadi sesuatu yang ‘eksplosif’; menjadi MC yang super sombong. Dalam teritori hiphop Co-Flow merupakan ciri khas sebuah grup hiphop ‘ideal’ yang tak mengenal belas kasihan, karena seperti halnya Nietzsche yang memprovokasi bahwa mental belas kasihan adalah milik orang-orang lemah yang tak punya kehendak berkuasa dan sangat-sangat berbahaya bagi kekuatan seseorang.

Namun selayaknya wacana ‘kuasa’ Foucault, kekuasaan melahirkan penolakan, dan memang penolakan itulah yang membuat mereka tetap ‘hidup’ meski sudah berupa individu-individu bukan lagi sebagai kolektif. Lahirnya MC/grup-grup baru yang juga luar biasa (Aesop Rock, Cannibal OX, dan terutama Anticon dll) membuat kehendak berkuasa mereka tetap terjaga. Karena resistansi justru dimungkinkan dengan menyebarnya kuasa (tak heran masing-masing dari mereka membuat kolektif/posse baru). Dalam hiphop, semua MC mengaku sebagai yang terbaik dan raja, dan itu sah-sah saja. Karena semua klaim memperoleh keabsahannya tentu saja lewat battle (Jika diandaikan mirip apa yang disebut Foucault sebagai ‘lewat diskursus’, atau secara diskursif). Begitu terbukanya battle tersebut, sehingga selalu memungkinkan untuk lahirnya argumentasi tanding.

Memilih dunia (berkuasa) dalam pengalaman estetik bukan berarti harus mengogahi dan meremehkan tuntutan praksis. Individu-individu didalam Co-Flow sendiri memilih untuk melawan dominasi kapitalisme pemerintah mereka sendiri, Amerika. Secara kultural dan politis, dengan versi mereka sendiri. Dengan membuat label rekaman d.i.y, merilis rekaman sendiri, bergabung dengan kekuatan politik anti-korporasi, bergabung dengan demonstrasi pembebasan Mummia Abu Jamal dan aksi global seperti aksi anti-IMF di Washington DC tahun 2000 kemarin. Dan pada wilayah kekuasaan lainnya (hiphop/MC-ing); dengan rima dan beat-beat nyeleneh mereka, yang keluar dari estetika apapun yang coba dicetak-birukan industri.

Melawan kekuasaan dominasi ala Marx pada dasarnya merupakan sebuah praktek, dan praktek pada hakikatnya merupakan sebuah ‘kehendak untuk kebenaran’ yang berarti juga merupakan ekspresi dari kehendak untuk berkuasa ala Nietzschean tadi. Co-Flow tetap ‘menjaga otoritas’ mereka namun mereka pula menunjukkan bahwa pengalaman estetik disini berperan untuk menjaga agar -kembali meminjam bacot Nietzsche- tidak punah ditelan ‘kebenaran’ praksis mereka.

Representasi inilah yang membuat saya takjub, karena tak pernah ada dalam sejarah musik rap sebelumnya, lagu politis ditulis lewat gaya bragadocio dengan totalitas penuh. Sangat berbeda dengan apa yang dihasilkan Marxman atau Disposable Heroes of Hiphoprisy, misalnya. Track ini tidak terdengar preachy (mengkotbahi), dan sangat jauh dari konsep ‘seni kerakyatan’ ala seniman-seniman sosialis era Stalin. Mereka tidak sedang mengorbankan emosi, nafsu bahkan ‘sajak’ atau ego untuk sebuah ideologi atau mempersembahkan rima mereka demi massa atau rakyat. Namun tetap, jika kalian memang sempat merasakannya juga, ‘Patriotism’ adalah sebuah track politis yang dapat mengemansipasi siapapun, terlebih hiphophead, yang terlibat dalam aktivisme melawan ‘kebenaran’ kapitalisme.

Di kemudian hari Co-Flow, pasca pembubaran mereka, para alumnusnya tetap melahirkan album-album solo yang luar biasa. Jika kalian tak percaya, silahkan cek album solo Mr.Len (‘Pity The Fool’), Bigg Juss (‘Black Mamba Serum’) atau, yang paling fenomenal dan baru saja dirilis, album solo-nya El-P (‘Fantastic Damage’). Jika kalian belum pernah mendengar Company Flow, untuk kesekian kalinya saya merekomendasikan untuk mencari terlebih dahulu album “Funcrusher Plus” dan “Little Johnny From The Hospital” plus singel-singel mereka yang bertebaran dimana-mana sebelum mereka bubar.

 

Tagged:
Posted in: Uncategorized