A.C.A.B Post-Script

Posted on July 11, 2012

23


Skip basa-basi, berikut adalah poin-poin respon terhadap beberapa hal yang perlu saya tambahkan pasca tulisan ini dirilis:

1. Saya tak habis pikir jika ada yang beropini bahwa saya membuat banyak aturan dan kemudian menyuruh saya diam. Seperti layaknya fanzine, blog ini merupakan blog pribadi, bukan portal umum. Semua yang ditulis disini merupakan perspektif personal, ditulis di blog personal. Bukan kotbah sejuta umat pada media massa satu channel yang siap mencuci banyak otak. Oleh karenanya saya tak punya kepentingan untuk mengedit komen-komen atau bahkan menghapusnya. Perdebatan adalah bagian dari tulisan saya kemaren, sesampah apapun itu. Jadi, komentar yang menyuruh orang-orang berhenti berdebat atau diam di ruang yang bukan milik kalian itu sama sekali tak ada gunanya, meski memang saya tak akan menghapus atau mengedit komen-komen bernada seperti itu. Jika kalian tak menyukai banyak hal yang saya tulis di sini, sudah seharusnya kalian membuat media kalian sendiri dan menulis pendapat kalian tentang apapun yang kalian suka disana. Jika kalian membenci saya atau apapun yang saya tulis, tak seharusnya kalian mampir disini dan pergunakanlah waktu berharga kalian untuk hal-hal lain yang lebih penting. Sesederhana itu.

2. Pendapat itu seperti lubang pantat. Sebau apapun, setiap orang punya satu. Saya tidak pernah mengklaim sebagai yang paling benar, dan tidak pernah berniat membuat sebuah daftar FAQ tentang Punk atau kitab suci punk karena memang tak akan pernah ada. Punk selalu personal, oleh karenanya tak pernah ada yang seragam. Justu karena individualisme punk itulah saya menulis opini saya tentang sesuatu (dalam hal ini perihal aparat), sekali lagi, di blog saya sendiri. Yang saya tulis merupakan pandangan politik yang seperti layaknya berjuta opini diluar sana, beberapa orang sepakat, beberapa lain tidak.

3. Saya besar bersama Punk yang saya ketahui. Sedikit banyaknya berjasa membentuk dan membuat saya sampai di hari ini. Dan satu-satunya kontribusi balik saya bagi Punk adalah berbagi nilai-nilai yang saya pahami dan sepakati dengan beberapa lainnya. Senihil apapun makna itu hari ini. Saya kadung yakin bahwa punk bukan sekedar pilihan selera musik. Yang saya tekankan pada tulisan kemarin adalah soal prinsip non-kooperasi dengan aparat. Bukan hal lain. Saya tak punya hak mengganggu gugat bagaimana seharusnya mereka memainkan musik, harus bersuara seperti apa musik mereka, atau harus terlihat seperti apa mereka. Thats pointless. Kebebasan berekspresi sudah seharusnya mutlak milik mereka dan tak penting dipersoalkan dengan prinsip punk yang saya pahami tentang otoritas. Saya tak paham juga mengapa isu belok jadi soal debat apakah punk itu boleh bernuansa pop atau tidak. Atau isu ‘hiphop’ mengadu domba ‘punk’ yang sungguh terdengar menggelikan di era seperti sekarang dengan scene yang berjalan sejauh ini. Bagaimana bisa seseorang menghembuskan isu gogon sedangkal dan sehina itu?

4. Isu tentang mereka bermain di acara polisi sudah menjadi bahan perbincangan dimana-mana sejak hari Senin (2/07), di tangkringan dimanapun dengan nada dan sentimen yang sama sebelum saya menulisnya di blog pada hari kamis (5/07). Tuduhan bahwa saya yang mengakibatkan semua isu punk aparat ini sama sekali mengada-ada, apalagi isu niatan menghancurkan ‘karir’ sebuah band. Sebuah band dengan basis fans sebesar Rosemary tak akan runtuh oleh sebuah tulisan pendek di blog kecil di samudra informasi seperti hari ini. Satu-satunya yang saya harapkan untuk runtuh adalah keyakinan kalian menggantungkan hidup pada otoritas korup.

5. Saya dan Gatot (personil Rosemary) bertemu dan berbicara beberapa hari kemarin. Yang tak banyak orang paham bahwa kami berteman. Sulit untuk tidak saling kenal di scene di kota sekecil Bandung terutama dengan teman mutual kami sebanyak itu. Seperti mengenal banyak kawan lainnya, sebuah kehormatan pernah berkenalan dengan orang seperti Gatot dimana kami bisa bertukar pikiran, argumen dan pandangan. Perbedaan tak perlu disamakan, toh jalan yang kami tempuh tak sama. Tapi bukan artinya kami tak bisa berteman apalagi sekedar nangkring di parkiran dan berbagi kopi, meski Gatot tak suka kopi. Yang tak saya paham, bagaimana bisa artikel kecil soal prinsip non-kooperatif dengan aparat bisa berujung pada isu gosip murahan tentang saya yang menantang tarung fisik personil Rosemary? Menyebarluaskan fitnah tentang hal-hal yang bahkan tak saya tulis di artikel itu. In the end of the days, we’re just regular guys who walk the walk, talk the talk. Saya jalan dengan keyakinan saya, ia dengan prinsipnya. Kadang  di satu titik bersinggungan, di titik lain berjarak. Rosemary tentu berhak membuat (atau tidak membuat) pernyataan mereka sendiri di media milik mereka sendiri. Mereka berhak menjelaskan apapun, mengklarifikasi apapun soal acara itu bahkan mentertawakan apa yang saya tulis sesuka mereka. Yang pasti apapun yang mereka tulis tak akan merubah pendapat saya tentang Gatot sebagai teman baik, juga tak akan merubah pendapat saya perihal prinsip non-kooperatif dengan aparat.

6. Isu ini berangsur menjadi menjijikan seperti gosip tabloid. Isu krusial tentang otoritas dilibas oleh isu-isu sampingan yang malah sama sekali tidak penting. Ketika sebuah gagasan tak lagi bisa memprovokasi diskusi sudah saatnya disudahi. Time to put action where your mouth is and practice what you preach.

7. Life goes on. Now, move on.

Posted in: Uncategorized