Breathing Between Ruckus

Posted on December 30, 2011

24


I

Malam merapat. Ruang mulai berasap. Beberapa warga mulai meninggikan suaranya. Tetangga sekitar Bale Warga pasti sudah menebak diskusi sudah menjadi debat, dan mulai angot. Satu setengah jam berlalu didominiasi oleh 3 orang berdebat perihal dukungan warga untuk PKL seberang jalan.
“Beberapa dari mereka ngga simpatik pak RW, ngapain dibela”
“Satu dua orang ngga simpatik bukan berarti kita membiarkan penggusuran di lingkungan kita”
“Lalu bagaimana dengan warga yang berhak jualan juga di situ pak RW?”
“Ini, itu, ini, itu Pak RW”
“Ini, itu, ini, itu Pak RW”
“Bla, bla, bla… Pak RW”.

Ratusan argumen, ratusan sanggahan, tak terhitung marah-marah dan satu-dua ‘Tapipak…”. Malam semakin merapat. Pak RW tentu sebagai RW, menengahi, memoderasi, berkali-kali berpikir keras untuk mengambil keputusan yang tepat. Tapi Pak RW adalah lelaki di penghujung 60-an yang pernah muda, bisa bijak tapi pernah muak. Di tengah perdebatan ia mengambil telepon genggamnya, “Sebentar, istri saya menelpon”, sambil pamit keluar untuk berbicara.

Saya memperhatikan sejenak. Tak sampai lima detik, di serambi Bale Pak RW duduk menyalakan roko, hapenya sudah dimatikan. Tapi ia masih di luar, merokok. Saya menyusul.

“Pait mulut ya Pak?” ujarku basa basi, saya tahu dari wajahnya yang kusut dengan mata menatap Angsana yang baru ditebang rantingnya karena menghalangi jalur kabel telepon. “Saya dari dulu sebenernya nda mau jadi RW, Pak Ucok”. Saya meminjam korek apinya. “Paling nda tahan kalo sudah ada debat warga begini, meski saya tahu memang demokrasi harus melewati proses menyebalkan seperti ini. Harusnya saya nikmatin pensiun saja sudah, tapi saya dulu tidak tega melihat warga yang meminta”

Saya jadi teringat kisah messiah pesakitan yang turun gunung, memutuskan untuk menghampiri kota meski ia tahu betapa menyebalkan bersinggungan dengan khalayak di lembaran-lembaran Nietzsche. Tapi Pak RW bukan Zarathursta, ia punya titik dimana ia harus pura-pura menerima telepon untuk sekedar mencari alasan keluar ruangan. Menghirup udara segar yang sejenak terbebas dari suara meninggi bersahutan.

“Kadang memang kita harus bicara apa adanya, meski itu bukan untuk semua orang, meski untuk menengahi” lanjutnya. “Tapi paling tidak saya sudah melakukan kewajiban saya berbicara, meski pada akhirnya memang menambah polusi di polemik. Pak Ucok sendiri bagaimana?” Saya menghindar dengan halus pertanyaan curhat ini, saya tahu ia tak terlalu ingin tahu apa pendapat saya. Ia hanya ingin cerita keluhannya.

“Apakah betul Pak, konon ketika semua orang berbicara kita sebaiknya diam? soalnya susah, sebagai RW, buat saya untuk diam. Meski saya tahu saya nda betul-betul amat”, Saya mengangguk-angguk mengiyakan karena malam semakin rapat, kami harus segera masuk bergabung kembali ke dalam. Di ruangan yang berasap. Terlalu banyak yang merokok kretek.

II

Selain di titik-titik aktivisme lain, di lingkaran kawan-kawan yang tak peduli pada hirarki kepemimpinan, saya tak pernah berniat untuk menjadi ketua RW, atau ketua apapun. Selain bebannya berat dan absurd seperti Pak Iman tadi, saya terlalu sembrono untuk sekedar menjadi bijak.

Dahulu awalnya, saya membuat blog ini sebagai ganti media zine/newsletter yang belakangan saya tak punya lagi energi untuk menyusunnya dengan intens seperti hampir satu dekade lalu. Seperti halnya zine dan newsletter saya dahulu, saya membuatnya hanya untuk sekedar melakukan ibadah passion saya, menulis sesuatu yang saya ingin utarakan dan berbagi sesuatu yang saya sukai, terutama musik. Tak ada agenda-agenda besar. Karena agenda besar (yang notabene bersinggungan dengan banyak kawan) akan bubar jika beririsan dengan opini personal, terlebih dengan opini personal yang kadang sembarangan dan seringnya nyampah. Sesuatu yang justru tak bisa saya keluarkan seenaknya di lingkaran kolektif.

Tapi nampaknya lama kelamaan, blog sepi ini juga bisa seramai pasar Sukajadi. Dahulu saya share ke beberapa kawan untuk berbagi opini dan musik, lama kelamaan ternyata bisa juga jadi ruangan berasap seperti di Bale Warga malam itu. Se-personal apapun statement bisa jadi ditanggapi seperti sesuatu yang absolut. Sesuatu yang sebetulnya saya alami juga ketika media sompral saya dulu masih berupa bentuk fisik. Bedanya, dahulu bisa berdialog dengan agak nyaman karena bertatapan muka, kali ini tidak. Tapi apa sih yang lebih memuakkan dibanding berhadapan dengan rentetan angka kode IP, dengan nama anonimus yang hanya menaruh komen “ngentot lu monyet, banyak omong!”. Didarat kalian bisa bertarung sampe benjut, meski kalian kalah babak belur sekalipun, nampaknya akan lebih memuaskan dibanding meladeni debat maya.

Meski saya tahu konsekuensi berbicara dan mengeluarkan opini, ada waktu saya -seperti halnya Pak RW- pernah juga muak. Di tengah hiruk-pikuk yang saya sebabkan karena ulah saya sendiri, (tetap berlaku bodoh dan sembarangan di penghujung umur 30-an itu memang banyak baiknya), ada waktu dimana nampaknya saya harus seperti pak RW, pura-pura ada telepon masuk dan merokok di luar Bale melihat ranting Angsana.

Apapun itu, yang pasti tulisan yang dibuat pukul setengah 4 subuh sudah wajar jika dianggap meracau. Ababil bangun minta diantar ke WC, waktunya tidur. Berharap besok-besok mungkin bisa siap dengan bring the ruckus yang lain. Selamat hari Wu-Tang.

Mana si Lord Butche? Manaaaaa? Bejakeun geluuuuuut kitu jeung aiiiing….

Posted in: Uncategorized