Suara Rakyat Bukan Suara Tuhan

Posted on August 18, 2011

0


throne

Estetika memang bukan demokrasi. Christopher R. Weingarten, seorang kritikus musik sempat melontarkan dua poin penting dalam tulisannya “Twitter & Death of Musik Criticism”. Pertama; blog-blog musik menurutnya telah membunuh jurnalisme musik sekaligus memadamkan kekritisan individu dalam menilai musik. Kedua; Twitter sebagai perwakilan mayoritas bukanlah parameter musik bagus yang layak dengar.

Saya tidak sepakat pada poin pertama. Meski 1 berbanding 1000, banyak blog musik yang hadir di akhir jaman seperti sekarang ini dengan penulisan bagus, yang bisa menggantikan majalah musik yang selalu menyarankan musik-musik menyebalkan yang begitu-begitu saja. Bagi kita-kita yang lelah mendengarkan para editor majalah-majalah musik bersampul glossy mengoceh tentang apa yang bagus untuk didengar, blog musik merupakan sumber lain untuk bisa mencari ‘kebenaran’ diluar perspektif kanon-kanon esktetika para kritikus musik. Mirip filosofi fanzine; dari penggemar untuk penggemar, blog musik menawarkan playlist menarik yang datang dari passion sang pembuat bukan dominasi selera ala pasar dan majalah musik yang absurd. Tak usah jauh-jauh membahas ST12 atau Sma*sh, silahkan lihat Top10 Rolling Stone Indonesia hari ini, memangnya siapa dari kita yang memasukkan Raisa atau album baru Gigi dalam playlist seperti mereka?

Oleh karena itu pula, saya akan bersepakat 100% untuk poin Weingarten kedua, dalam bahasa dia; “people have awful taste”, dan Twitter atau apapun itu yang membasiskan nilai pada kuantitas content, crowdsourcing, search engine optimization atau apalah itu sudah mirip proses pemilu kita yang mudah diprediksi siapa pemenangnya dan hasilnya begitu-begitu saja. Mayoritas rakyat kita memang terkenal memiliki selera buruk dalam kotak suara (kalo punya selera bagus sudah pasti gak akan pada datang ke tempat nyoblos karena memang gak ada pilihan yang bagus) dan beruntunglah kalian yang tidak pernah percaya pada sistem parlementariat dan memutuskan menjadi ‘elit’ seperti para Situasionis 68 tak peduli apapun kata ‘rakyat’.

Untuk contoh kasusnya, mari lihat kasus album baru Jay-Z dan Kanye West yang luar biasa dinanti-nanti dunia melebihi histeria massal Justin Bieber. Secara historis, kedua MC ini memang punya daya tarik berlebih, namun semuanya serasa berlebihan ketika sampai di jaman ini dimana Twitter jadi altar nilai.

Album “Watch The Throne” ini sungguh buruk, bahkan untuk ukuran penggemar Jay-Z era “Black Album” atau Kanye West era “College Dropout”. Tanpa harus muak dengan beat-beat hiphop crunky, suara autotune dan synthe yang sok baroque sekalipun, album ini berak secara musikal meski digawangi sederetan produser hiphop handal dari Swizz Beat, Q-Tip sampai RZA. Jangankan track yang diproduseri oleh Kanye sendiri, bahkan lagu ‘New Day’ yang mengambil sample Nina Simone (di-autotune, oh tuhan!) dan diproduseri RZA dari Wu-Tang sekalipun terdengar seperti pelecehan terhadap Nina Simone dan Wu-Tang Clan. Lalu lirik? Sudah bukan lagi keterlaluan menyebalkan. Mereka berkoar menyatakan mereka telah melampaui bling-bling dan memasuki tahap luxury rap dimana yacht, sampanye botol emas, berlian dan mobil-mobil eksklusif bukan lagi sekedar pembendaharaan rima mereka.

Puncaknya, silahkan dengar sendiri ‘Otis’ yang mengambil sample ‘Try a Little Tenderness’-nya Otis Redding, dan mengisinya dengan lirik rap sampah tentang sepenting apa figur orang kaya seperti mereka. Cuih. Lagu Otis Redding yang soulful menakjubkan penuh ‘soul’ mendadak hancur ditangan mereka, yang sakit ‘soul’ (baca: sakit jiwa) karena kebanyakan uang. Di tengah resesi dunia, krisis energi, ketimpangan sosial, okupasi korporasi di belahan-belahan dunia ketiga dan insureksi global di hampir setiap benua, mendengarkan album ini seperti mendengarkan CEO Freeport dan Aburizal Bakrie menyombongkan sekaya dan sepenting apa diri mereka di dunia ini tanpa memperhitungkan betapa muak dunia terhadap mereka.

Untungnya, sekali lagi, passion terhadap musik bukan demokrasi. Segila apapun album ini diresensi bagus oleh media (baik blog musik ataupun majalah musik besar), tak akan merubah fakta bahwa ini album buruk. Seobjektif apapun sebuah komentar subjektif tak didengar dunia, tak masalah. Persis seperti ketika semua orang dari Sabang sampe Merauke mendengarkan ST12. Pula sebaliknya, siapapun yang tak menyukai album-album buruk tak serta merta kemudian menggenggam nilai kebenaran estetis absolut yang harus diikuti oleh khalayak. Kita hanya sedikit tersadarkan bahwa hidup terlalu pendek dan berharga untuk dihabiskan mendengar album-album menyedihkan. Mungkin ini pelajaran yang bisa diambil dari seni, jika memang ada.

Masih niat ikut pemilu?

Posted in: Uncategorized