“Ian MacKaye is My Saviour” HC Punk Mixtape Vol.1

Posted on July 29, 2011

25


Jika kalian tak ingin membaca tulisan tetek bengek dibawah,
silahkan langsung download.

 Tracklisting:
1. Minor Threat – Filler
2. Bad Brains – Banned In DC
3. The Nation of Ulysses – Target: U.S.A
4. Dead Kennedys – California Uber Alles
5. MC5 – Kick Out The Jams
6. The Clash – Career Opportunity
7. Black Flag – Rise Above
8. 7 Seconds – Walk Together, Rock Together
9. Misfits – I Turned Into Martian
10. Suicidal Tendencies – Institutionalized
11. Gorilla Biscuits – New Directions
12. Negative Approach – Ready to Fight
13. Agnostic Front – Your Mistake
14. D.R.I – I Dont Need Society
15. Bad Religion – Against The Grain
16. Propaghandi – And We Thought That Nation-States Were A Bad Idea
17. Discharge – Protest and Survive
18. Seein Red – Five Days A Week / Strike
19. Sin Dios – No Te Rindas
20. Sick of It All – Injustice System
21. Refused – Rather Be Dead
22. Tragedy – Intolerable Weight
23. Judge – Hear Me
24. As Friends Rust – We On Some Next Level Shit
25. Fugazi – Repeater

Bagi mereka yang pernah menjalani hidup jarang pulang ke rumah, membuat mixtape untuk amunisi Walkman dahulu sudah mirip sebuah ritual wajib. Terlebih dengan CD/kaset pinjaman yang harus lekas dikembalikan sebelum hilang. Masih dalam rangka melanjutkan proyek memindahkan mixtape kaset jaman Walkman Megabass dulu ke dalam bentuk bentuk unduhan, kali ini saya sengaja membuat versi online dari satu mixtape kaset HC/Punk yang dulu pernah saya siksa sampe ambrol. Sebuah acara brutal menakjubkan di sebuah kafe kecil dua hari kemarin membuat saya ingin mendengarkan lagi koleksi lama dan mengorek-ngorek lagi arsip yang sudah bergumul dengan debu. Beruntung saya masih menyimpan cover- nya.

Hampir semua mixtape HC/Punk saya dulu beri titel “Ian MacKaye is My Saviour”. Meski bukan harfiah, (apalagi isi mixtapenya tidak melulu Minor Threat), saya harus membuat perwakilan statement bahwa saya harus mengakui jika bukan karena Minor Threat* kemungkinan besar saya akan berakhir mendengarkan musik-musik buruk dengan perjalanan hidup yang membosankan.

Hiphop sudah barang tentu cinta pertama saya, namun punk rock (yang datang belakangan) memberi kontribusi utama dalam memasok kewarasan di era akhir 80-an dan era 90-an dulu. Pernah memberi saya gerbang menuju aktivisme politik yang lebih spesifik lagi di era Harto, menginspirasi setengah mampus dan memberikan pengalaman artistik yang menakjubkan, men-detox saya sebagai generasi yang dicekoki penataran P-4 dan basa basi Pancasila, sebelum kemudian saya kehilangan passion terhadapnya satu dekade lebih kemudian, yang semakin hari semakin tersaturasi, kalau tak bisa disebut kehilangan relevansi.

Hell, fuck it, lets pump again those amazing tunes that once set my days on fire. Beberapa band saya tukar lagu pilihannya, meski tak banyak. Misalkan ‘We On Some Next Level Shit’ menggantikan ‘Encante’ sebagai wakil As Friends Rust untuk kaset mixtape dulu, atau ‘And We Thought That Nation-States Were A Bad Idea’-nya Propaghandi menggantikan track ‘Stick the Fucking Flag Up Your Goddam Ass, You Sonofabitch’.

Hanya dua band yang saya ganti, Sin Dios yang saya pikir lebih cakep menggantikan Los Crudos dan Tragedy yang saya pikir cukup representatif mewakili His Hero Is Gone. Harusnya masuk dua-duanya, hanya saja saya sok-sokan konsisten pada durasi mixtape yang 60 menit alias memakai C-60 TDK/Maxell jaman dulu yang 2500 perakan. Kualitas suara mp3 tentu tak usah diharapkan, pasti banyak yang lebih rendah dari yang lain. Namun saya tak merasa perlu memastering ulang pada Adobe Audition agar volume-nya sama. That was how you fuck with tapes back then.

Beberapa track merupakan favorit semua orang, sedangkan beberapa lainnya bisa disebut pilihan super-personal. Dengan durasi seperti itu, sangat wajar jika banyak yang tak sempat dimasukkan (yang seharusnya masuk). Pertimbangan paling personal saya dalam menyeleksi lagu-lagu untuk mixtape dulu sederhana: lagu-lagu apa yang cocok untuk diputar pada walkman saat membayangkan perjalanan kuliah di dua kampus yang berbeda jarak yang menyebalkan; Bandung-Jatinangor, membayangkan tidur di kampus Ganesha pas lagi sepi-sepinya, membayangkan berada di tengah-tengah aktivis mahasiswa membual-bual tentang konsep reformasi atau membayangkan kelaparan di markas Harder tengah malam di Cihampelas karena lebih memilih memakai uang terakhir untuk beli beberapa batang rokok dan batu batere. Mungkin alasan-alasan tak penting itu yang membuat saya tak memasukkan Crass atau Chuck Treece atau Amebix meski saya fans musik mereka. Those songs represent certain different moods. Memang terlalu personal untuk dijadikan parameter estetika.

Notes: *Dalam hal ini berarti saya harus berterima kasih pada Adi Pure Saturday, rekan sebangku di SMP yang dahulu memperkenalkan saya pada Minor Threat.

Tracklisting:

  1. Minor Threat – Filler

Lagu pembuka di Minor Threat EP, lagu pertama di Complete Discography mereka, lagu mereka yang selalu cocok menjadi pembuka mixtape punk manapun. Mewakili semua hal yang Minor Threat usung dahulu; blasting hardcore, rhythm menggerus dengan kecepatan yang mencoba menyaingi Bad Brains di eranya plus lirik cerdas, in-your-face dan tetap relevan sebagai antitesa kompromi passion anak muda sampe kapanpun; “What happened to you?/ You’re not the same/ Something in your head/ Made a violent change/ It’s in your head/ FILLER/ You call it religion/ You’re full of shit/ FILLER!”. Pasang lagu ini kapanpun saat kalian mulai berfikir masa muda kalian berakhir dan waktunya mulai jadi ‘orang dewasa’.

  1. Bad Brains – Banned In DC

Tak perlu penjelasan panjang-panjang. Kakek moyang hardcore punk yang membuat wajah punk tak pernah sama lagi. Bahkan (yang belakangan saya baru tahu dari buku ‘Dance of Days’), konon Bad Brains lah yang menginspirasi Ian Mackeye dkk memulai Teen Idles yang menjadi cikal bakal Minor Threat. Sound hardcore paling brutal sepanjang masa ternyata datang dari band reggae yang awalnya memainkan fusion-jazz. Track ini di ambil dari album pertama mereka, album Bad Brains favorit saya.

  1. The Nation of Ulysses – Target: U.S.A

Band punk pertama yang menggabungkan kemarahan punk dengan fusi free-jazz, retorika politik kiri mentok ala situasionisme yang super-provokatif dan estetika fashion unik plus juvenile delinquency. Di kemudian hari menginspirasi band-band generasi selanjutnya; Refused (dan tentu saja The International Noise Conspiracy), At The Drive In, Boysetsfire di antaranya. Konon aksi panggung mereka luar biasa menakjubkan. Patah tangan, kaki, keseleo leher sudah bukan barang aneh saat mereka manggung. Masokis, brengsek, good-looking, ultra-radikal dan intelek. Band yang mengklaim “All you need is a concept. There’s no reason you have to sound like Led Zeppelin” justru menghasilkan musik punk otentik yang sulit disandingkan di era nya. Comot masterpiace mereka: “13-Point Program to Destroy America” yang dirilis Dischord.

  1. Dead Kennedys – California Uber Alles

Ada beberapa band yang saya sulit putuskan lagu mana yang paling cocok dimasukkan ke dalam mixtape karena lagu ter-favorit saya lebih dari selusin. Dead Kennedys diantaranya. Saya lupa atas alasan apa dulu memilih lagu ini, mungkin atas alasan lagu ini pernah di-sample Disposable Heroes of Hiphoprisy dan saya penasaran part mana yang mereka comot. Lepas dari itu semua, DK jaman Biafra adalah contoh sempurna apa yang diperlukan oleh sebuah band punk; fun, politis, menyegarkan, musik ugal-ugalan, attitude gak kekontrol, cerdas dan congor ambrol.

  1. MC5 – Kick Out The Jams

10 tahun lebih yang lalu saya masih mentolelir jika ada yang bertanya “MC Who? itu band punk?”. Mumpung kita hidup di era tuhan Google, silahkan tanya sendiri pada tuhan perihal legacy mereka. Jika memainkan musik bergajulan nan enerjik, berafiliasi dengan Black Phanter dan organisasi kiri radikal lainnya, membawa rifles ke panggung plus bermain di tengah kerusuhan demonstrasi itu tidak menjadikan MC5 band punk, maka saya tak akan pernah paham definisi ‘band punk’ lainnya.

  1. The Clash – Career Opportunity

“I hate the army an’ I hate the R.A.F./ I don’t wanna go fighting in the tropical heat / I hate the civil service rules / And I won’t open letter bombs for you”  Provokatif, politis, ikonik, progresif dan menghibur. Musik keren dan Anti-militerisme bukan hal yang tidak bisa dicampur. Tak perlu penjelasan lanjutan, karena pasti terdengar seperti menghina siapapun seolah kalian tak pernah mendengar The Clash. (Artinya jika kalian belum, kalian memang terhina). No punk rock mixtape without The Clash’s cut.

  1. Black Flag – Rise Above

Meski faktor keanehan dan disonan ‘My War’ lebih menginspirasi, sejujurnya saya lebih menyukai Black Flag sebelum ‘My War’ (terlebih untuk stelan walkman).

  1. 7 Seconds – Walk Together, Rock Together

Memang saat menjadi minoritas, lagu dengan tema persahabatan dan persatuan selalu menarik. Sebelum kemudian ruang membesar, memberi kesempatan bagi konformitas, menyamaratakan passion dan memaksa individualisme menjadi seragam. Lagu ini cocok di momen awal tadi. Jangan putar pas pemilu, musim obral dan mimbar-mimbar akbar. Pasti sudah tidak relevan. Oh ya, saya tak banyak tahu soal 7 Seconds, selain EP “Walk Together Rock Together” saya tak terlalu menyimak mereka. But this cut rocks hell. Well, you be calling these kinda tunes pop-punk nowadays. WTF.

  1. Misfits – I Turned Into Martian

Sederhananya; soundtrack tangkringan bawah pohon rindang di Taman Dago atau sekarang biasa disebut Taman Flexi di era Bandung dibombardir branding. Nangkring menjelang malam mendengarkan Linggo mengoceh tentang hantu-hantu absurd.

  1. Suicidal TendenciesInstitutionalized

Sebelum ST mengadopsi lebih banyak lagi elemen thrash ke dalam musik mereka sampe label “the fathers of crossover thrash” melekat pada legenda Venice ini. ST awal bersuara 100% hardcore punk. Dengan afiliasi (baik fisik maupun imagery) dengan gang para latinos pantai Venice, album pertama mereka meramu keterasingan, depresi, humor dan politik non-konformis dengan kecepatan Minor Threat dan keunikan Black Flag. Fast Furious & Fun. Meski album favorit ST saya album ketiga mereka, namun single dari album pertama ini adalah cinta pertama saya pada ST.

  1. Gorilla Biscuits – New Directions

Tak begitu suka GB dan gelombang straight edge era itu, namun siapa bisa menyangkal kalo mereka menggedor scene kala itu dengan musik punk paten dan menunjukkan energi luar biasa yang bisa dibagi dengan siapapun kalian, straight edge atau bukan. Saya jadi ingat di era awal Burgerkill, dimana Ivan Scumbag almarhum dan Kimung mabok parah namun memainkan lagu-lagu GB dengan brutalnya.

  1. Negative Approach – Ready to Fight

Jika ada yang bertanya bersuara seperti apa Hardcore itu, saya cukup memutar lagu ini. Nihilistik, vintage, stripped-down fierce hardcore at its best. 

  1. Agnostic Front –Your Mistake

Kemungkinan besar tanpa AF, tak akan ada NYHC, baik sebagai fenomena atau sebagai representasi sound punk di ghetto-ghetto NY. 

  1. D.R.I – I Dont Need Society

“Fuck the system they can have me/ I don’t need society” lagu ‘fuck the system’ pertama yang saya dengar di hidup saya tentu harus masuk list, tentunya selain itu, DRI adalah mandatory, terutama ketika mengingat era crossover-crossover-an 90an.

  1. Bad Religion – Against The Grain

‘Against the Grain’ adalah album BR pertama yang saya dengar. Sebelumnya tidak begitu menarik perhatian hingga satu waktu rekan saya Adi memutarnya berulang-ulang dan saya terbiasa dengannya. Band punk dengan lirik satir, intelek, kadang ilmiah kadang puitis dan seringnya politis. Cara mereka mengadopsi melodi vokal tiga harmoni dengan rhythm kecepatan tinggi memang daya tarik luar biasa tak terbantahkan. We all love that “oozin’ aahs”. 

  1. Propaghandi – And We Thought That Nation-States Were A Bad Idea

Tak pernah menyangka sebelumnya jika lirik punk anarcho paling brutal dan intelektual datang dari band melodik punk. Berbeda dengan Bad Religion, Propaghandi lebih sarkastik dan menohok. Lebih ‘hitam’ dan ‘ideologis’. Dengan sound ala NOFX (dan mungkin bagi awam; apapun yang sama menye-menye nya dengan band-band melodic punk generik masa kini) mereka lebih dekat dengan aktivisme politik dibandingkan dengan gerakan subkultur, Propaghandi jelas jauh beda dengan band (punk) melodik sejenis.

  1. Discharge – Protest and Survive

Band punk yang terpengaruh metal dan kemudian mempengaruhi band-band metal secara signifikan (tak usah disebut wabah sejenis yang menghasilkan band-band berawalan Dis- di seantero jagat). Tak kurang dari mulai Metallica, Anthrax, Nasum, Machine Head hingga Sepultura mengakui legacy Discharge. Vokal retorikal mirip pidato, riff gitar simple yang diulang-ulang dan ketukan beat yang begitu khas hingga di kemudian hari menghasilkan subgenre punk yang banyak disebut orang sebagai ‘D-Beat’. Track ini adalah track yang paling banyak di-cover band-band generasi sesudahnya, dari Band blackmetal seperti Soltice, hardcore seperti Ensign, hingga Anthrax, legenda thrash 90-an.

  1. Seein Red – Five Days A Week / Strike

Salah satu pecahan Larm, grup veteran ikonik scene DIY HC/Punk Belanda yang cukup terkenal karena kecenderungan orientasi politiknya unik bagi ukuran scene sejenis di belahan dunia lain. Komunisme dengan corak autonomus marxism kental mewarnai komunitas punk rock di sana. Bayangkan energi Gorilla Biscuit digabung dengan kebrutalan Dropdead dan Stack. These guys continue to be as out-spoken as they were in their Larm days, padahal mereka telah beredar di scene selama lebih dari 3 dekade dan sekarang berumur 40-an. Menakjubkan. Ini sekaligus membuktikan bahwa mereka adalah bukti hidup dari fakta bahwa HC/Punk sebagai pemberontakan masa muda tidak berakhir di usia 30-an (atau 20?).

  1. Sin Dios – No Te Rindas

Dengan agak sedikit terpaksa, saya mengganti track Los Crudos dengan lagu band ini yang notabene memang band luar biasa asal scene DIY punk Spanyol yang telah lama malang melintang sejak 1988, sialnya saya baru mengetahuinya pada tahun 2002 lampau setelah Arian berkunjung ke rumah, memberi saya CD “Ingobernables” sebelum berpamitan mencari peruntungan di ibukota. 

  1. Sick of It All – Injustice System

Lagu favorit SOIA saya bukan lagu ini, namun lagu ini memiliki kekuatan shout yang memiliki memori khusus di sekitar Januari-April tahun 1998. Tepatnya saat tur nyambit tentara di Jatinangor di mana sebagian besar dari demonstran yang memblokir jalan Bandung-Sumedang adalah mereka-mereka yang sering saya jumpai di acara-acara di GOR Saparua (Saya melihat Kimung -waktu itu ia masih di Burgerkill-  dan Adi Gembel Forgotten di sana). Entah siapa yang memulai, sekonyong-konyong beberapa orang mengganti chant “Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan!” dengan chorus lagu ini; “We Must Fight Injustice System! / Have No Rights, Injustice System!” lalu bergema menular ke seluruh barikade. Cukup membuktikan bahwa komposisi massa aksi cukup banyak yang memang bagian dari scene hc/punk kala itu. Sayang sekali, chant ini tidak menular ke aksi-aksi lain. Jika saja diteruskan, bisa menggantikan permanen chant-chant usang yang sudah dikooptasi gerakan mahasiswa menye-menye jaman sekarang yang berteriak-teriak “NKRI Harga Mati!”. Hey at least, those morons dont listen to Sick of It All. Its a good thing though. 

  1. Refused – Rather Be Dead

Tak bisa didebat lagi, “Shape of Punk to Come” adalah album terbaik Refused. Namun manifesto tersolid mereka sebenarnya sudah lahir di album sebelumnya, “Songs to Fan the Flames of Discontent”. Berbentuk dalam track HC groovy dengan lirik to the point: “Rather be dead/ than alive by your oppression/ rather be dead than alive by your design”.

  1. Tragedy – Intolerable Weight.

Beranggotakan 3 personil His Hero Is Gone, Tragedy bersuara hampir mirip dengan HHIG tanpa bagian sludge metal dan menambahkan dosis crust-punk bahkan D-Beat sebagai fondasi. Saya bilang mirip bukan hanya dalam hal musikal, namun juga pada keyakinan mereka pada etos DIY. The same motherfuckers as it ever was. 

  1. Judge – Hear Me

Mungkin kasusnya sama dengan Gorilla Biscuit, bedanya Judge menggabungkan HC dan metal tanpa harus terdengar metallic. Sekarang mungkin sudah lumrah namun untuk 20 tahun yang lalu Judge sangat menyegarkan. Poin plus awal ketertarikan saya terhadap Judge adalah judul album mereka “Chung King Can Suck It”, seketika teringat tempat LL.Cool J merekam album-album kanonnya. 

  1. As Friends Rust – We On Some Next Level Shit

Saya mengikuti hampir semua proyek Damien Moyal, dari mulai Culture, Morning Again, Shai Hulud hingga As Friends Rust ini datang menutup babak. Sebetulnya, album favorit saya adalah ‘Fist of Time’, hanya saja track ini paling cocok untuk mixtape.

  1. Fugazi – Repeater

What the fuck is post-hardcore? ‘Repeater’ is a fukkin hardcore song!;“You say I need a job,/ I’ve got my own business / You want to know what i do? / None of your fucking business”

Posted in: Uncategorized