Übermensch Simpang Dago

Posted on October 3, 2010

4


Ini hari entah ke berapa Bandung di gas pol hujan tanpa henti. Seperti halnya pengendara motor jam 5-an lainnya di sekitar Dago, saya tentu meneduh. Selain karena jas hujan saya entah hilang ke mana, hujan seperti ini terlalu cadas diterabas dengan jaket kulit di badan dan kacamata minus tak berfungsi tertutupi tetesan air menempel sebesar korong kucing. Saya menepi di seputaran Simpang Dago yang sudah lama tak disinggahi. Dahulu di tempat ini, sebelum ada Circle K, ada warkop tanggung yang biasa teman lama saya Deni mengopi beristirahat. Ia bekerja di seputaran itu, memarkir kendaraan. Satu kali tangkring, satu-dua batang rokok biasanya ia hisap sampai ia tak betah atau hujan tak begitu buas dan kembali memarkir.

Wilayah kekuasaannya cukup panjang, dari Tubagus Ismail hingga Dipatiukur atas. Namun mencarinya tidak sulit. Di penghujung 90-an nampaknya ia satu-satunya tukang parkir di Bandung yang berkostum hitam setiap hari. Dengan kaos kadang Napalm Death, kadang Dead Kennedy, seringnya bercelana PDL hitam dipotong selutut. Kadang membawa tas pinggang hitam, kadang pakai rompi abu, yang pasti sering teridentifikasi lewat potongan Mullet nya yang mirip kombinasi Rod Stewart dan Ice-T jaman Bodycount.

Kami bertemu 12 tahun lalu, di sebuah aksi massa di depan Unpad di seputaran Maret-April 1998. Saat itu dia sudah jadi tukang parkir di depan perpustakaan Unpad. Sebuah kejadian konyol mempertemukan kami, ia melempar batu ke arah tentara namun tak sampai, terhalang ranting pohon dan batu kontan menukik ke bawah mengenai sesama demonstran. Ia sempat dikerubungi beberapa orang yang memang sedang panas, tapi selesai setelah ia meminta maaf dan mahasiswa setempat akrab dengannya sebagai juru parkir depan kampus, bukan penyusup. Sejak itu kami cukup intens bertemu, dan kadang ia ikut tour nyambit tentara di tempat-tempat lain bersama beberapa kawan di senjakala Orde Baru.

Deni adalah tukang parkir pada umumnya namun juga bukan tukang parkir biasa-biasa. Ia akan marah jika ia disamakan dengan tukang parkir lainnya, bukan lantaran profesi itu hina. “Dengan manusia lain pun aku gak sama ‘Cok”. Jika sedikit saja mampir ke persoalan itu sudah dapat dipastikan siapapun lawan bicaranya akan disuguhi wejangan sabda Zarathursta paling sedikit 3 sampe 5 episode, tentang betapa individu itu harus unik yang di ujung kisahnya pasti ditutup dengan kesompralan luar biasa ala Deni Dodol “Kalo dulu Bandung yang indah ini dikisahkan diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, nah hari ini Bandung diberkati karena ada tukang parkir yang khatam Twilight of The Idols yaitu si kami”.

Seperti kesompralan lainnya di muka bumi ini yang minta ampun mengiang diulang-ulang, ada rasa sebal sekaligus kagum dibalik kesembarangan semodel itu. Tak terkecuali Deni. Ia memang bukan anak muda biasa-biasa, jelas dari profesinya pun kita bisa melihat ketegaran bertahan hidup yang di luar kelaziman pemuda seumuran kami saat itu. Ia menopang kehidupan keluarganya dengan menyuruh maju mundur mobil setiap harinya. Adiknya yang baru masuk SD ia biayai sekolahnya dengan uang parkir. Namun yang lebih luar biasa bagi saya adalah betapa cerdasnya ia yang notabene hanya bersekolah sampai kelas 1 SMA. Ia melahap hampir apapun dari Nietzsche hingga Samuel Huntington. Asghar Ali hingga Gramsci.

Dengan watak turunan sunda pinggiran yang someah namun cadas, ia dapat berdebat dengan memukau. Salah satu organisator PRD yang pernah mencoba mengorganisir kaum marjinal di Simpang situ sempat merasakan pedasnya argumen Deni ketika sang organisator berbicara soal nilai guna dan nilai lebih kapitalisme. Di posisi kelas berlawanan, ia mendamprat keras seorang kawan di tangkringan alkohol Taman Dago (sekarang dengan menyebalkan dinamai Taman Flexi). Kawannya itu berbicara soal betapa alaminya kapitalisme, ia adalah progres zaman. Bahwa kapitalisme menghasilkan trickle down effect, kesejahteraan yang terakumulasi di beberapa anggota masyarakat niscaya akan menetes ke kelas di bawahnya. Kontan Deni berhenti menyeruput Topi Miring hasil udunan di tangannya “Jadi kau pikir aku harus berterimakasih pada segelintir elit masyarakat atas kekayaan mereka, dan karena mobil-mobil mereka parkir aku dapet rezeki, begitu maksudmu? Huntu sia! kalau mereka sadar yang namanya kemiskinan itu gak turun dari langit dan ada sejarahnya, aku gak usah jadi tukang parkir tauk!!!”

Hubungan Deni dan profesinya memang unik. Ia tak pernah terlihat menyesalinya pun tak pernah bangga karenanya. Saya tak pernah mendengarnya mengeluh bekerja seperti beberapa kawan lain yang tiba-tiba harus berhadapan dengan dunia kerja, namun ia pun tak pernah berucap syukur menjadi tukang parkir. “Aku gak serendah itu menghargai pekerjaan ini sebagai profesi”. Dari ucapannya itu jelas ia tak sedang menjadi bagian dari mayoritas kelas terpinggirkan lainnya yang merasa bahwa beginilah hidup dan harus disyukuri apa adanya. Seperti kutipan-kutipan Nietzsche nya yang ia coret di dinding-dinding, Ia menghargai nasib dengan menjalaninya tapi bukan sebuah bentuk kepasrahan. Ia selalu mengganggap hidup sebagai sebuah panggung teater tragedi yang harus dijalani se-hardcore mungkin.

Deni memang bukan tukang parkir biasa, bahkan bukan manusia biasa. Ia mencoba menjalani posisi sebagai tokoh sentral dalam film tentang dirinya sendiri; seorang Adi-Manusia. Menurutnya sebagai tukang parkir hanya sebuah peran hidup yang disediakan oleh sistem, dan ia tak hendak pasrah menjadi apa yang sekedar sistem berikan. Ia ingin menjadi semuanya dan bukan semuanya. Sebagai tukang parkir dan bukan tukang parkir. Ia punya banyak aktivitas selain memarkir mobil dan motor, punya banyak petualangan yang tak akan cukup saya ceritakan dalam pojok pendek ini. Dari petualang alam (dia tak suka istilah pecinta alam) hingga aktivis sosial. Dari kurir sambilan di siang bolong hingga penyair pemabuk di malam hari. Yang paling pasti, Deni pula adalah seorang punk hardcore nihilis yang tau kapan harus memarkir petualangannya ketika cinta terhadap sang adik ia jadikan bagian dari hidupnya.

Pasca 2001, kami jarang bertemu. Saya sempat mendengar ia pindah mengojek di kaki gunung Manglayang dan kembali menjadi tukang parkir menggantikan pamannya di Sukabumi. Terakhir saya mendengar kabar yang datang terlambat tahun lalu, Ia tewas di Cikondang setelah motornya ditabrak sebuah bis.

Tentu memori Deni akan terus hidup di persimpangan ini. Terutama di jam-jam hujan seperti ini, ketika kami dulu menepi, memesan kopi susu dan berbagi kretek satu-dua batang, mendengarkan sabda nya tentang tukang parkir turun gunung dan mencerahkan seisi urban.

Tagged:
Posted in: Uncategorized