Pernyataan Politis Sembarangan dari Generasi Apolitis Ugal-ugalan

Posted on June 16, 2009

4


“…selama ini saya tak pernah berjuang membela rakyat, yang saya lakukan adalah membela diri sendiri dan komunitas saya”
– Wiji Thukul dalam sebuah wawancaranya

Akan sangat dangkal jika melihat fenomena relevansi seni dan pergerakan sosial/politik dengan menjawabnya hanya pada wilayah ‘anti-korupsi’, pelanggaran HAM dan lingkungan seolah-olah wilayah itulah yang selama ini dimaksud sebagai ranah sosial politik. Mungkin disitulah pula letaknya kekeliruan kita dalam mempetakan ‘hasrat’ di ranah bergemuruh hiruk-pikuk bernama ‘politik’. Ranah yang selama ini selalu dikotak-kotakan sedemikian rupa berdasarkan kepentingan dan agenda sementara, sedemikian rupa sehingga solah-olah hidup yang kompleks dapat dibagi menjadi dua wilayah yang personal dan yang publik, yang solider dan soliter.

Seni hari ini haruslah dapat mencari jalan keluar dari dua dikotomi usang, “seni untuk seni” dan “seni untuk rakyat/politik” yang notabene merupakan bagian dari dunia lama yang sudah harus ditinggalkan karena sudah tak kepalang tanggung tak relevan. Seniman, jika memang pernah ada istilah itu, haruslah dapat menjadi keduanya dan tidak keduanya.

Hari ini dimana imaji menjadi garda depan perubahan (baik ‘berubah’ dalam arti menjadi progresif atau sebaliknya menjadi dekaden) sangatlah gegabah memutuskan seni dapat mengambil bagian dalam perubahan hanya dalam logika endorsement agenda seperti yang dilakukan Slank dan beberapa ikon budaya populer lain dalam mengusung ‘tema politik’ dalam lagu mereka. Wacana ‘masyarakat tontonan yang dekaden’ dari para Situasionis 68 tentunya jauh dari ‘rakyat’ hari ini, namun tidaklah sulit untuk melihat betapa Slank yang membuat lagu anti-korupsi hanya menjadi tontonan belaka dan sama sekali tidak membuat penggemarnya yang banyak itu aktif dalam sebuah perubahan, meskipun ya, tentunya bukan atas kesadaran mereka ingin berubah namun lebih dikarenakan Slank berujar demikian, sehingga aktivitas sosial politik mereka pun miskin imajinasi dan kering seperti slogan-slogan tak lucu di mobil-mobil angkutan umum “Hey, Malu Dong Kalau Korupsi”. Aktivitas sosial-politik para pendengarnya tidak lagi berangkat dari analisa eksistensi diri, sekeliling dan jutaan kemungkinan kombinasinya.

Bukanlah puisi-puisi Thukul yang membuatnya kemudian menjadi seorang ‘seniman kerakyatan’, ‘seniman pemberontakan’ atau apapun istilah heroik lain yang ditempelkan pada dirinya. Yang membuat relevan dari puisi-puisinya adalah ketika ia memutuskan dengan sadar terlibat dalam usaha kolektif sekelilingnya dalam merubah dunia mereka, mulai dari menuntut pabrik yang mencemari lingkungan desanya, menuntut upah yang layak dari pabrik di desa mereka, hingga menuntut militer keluar dari urusan kehidupan sosial sehari-hari yang pada akhirnya membuat ia dihilangkan oleh rezim.

Seorang seniman dapat menulis puisi eksistensialis tentang mengapa nasib menggiringnya pada cinta segitiga dan tetap mendapatkan relevansinya ditengah pergolakan perubahan ketika memutuskan dengan sadar keterlibatannya dalam sebuah aliansi RT/RW menuntut SPP sekolah murah di sebuah kelurahan. Seorang ‘Punk’ dapat menemukan relevansi kebisingan musiknya yang tak akan pernah dimengerti oleh ‘rakyat’, massa’ — atau apapun istilahnya untuk ‘khalayak’– ketika ia memutuskan untuk berada ditengah-tengah aksi menuntut upah layak lantaran rekan satu band-nya adalah buruh outsourcing di salah satu perusahaan manajemen perparkiran. Seorang penulis graffiti hiphop dapat menemukan relevansi ke-tidakpolitis-an grafiti tipografiknya yang berwarna-warni namun susah dibaca itu, ketika ia terlibat dalam sebuah komunike kota yang menuntut lebih banyak ruang publik dan menuntut lebih sedikit lagi mall di kota nya. Seorang juara kaligrafi MTQ daerah menemukan relevansi keindahan bentangan kombinasi huruf hija’iyah yang bermakna langitan ketika ia berada di garis terdepan dalam membarikade sebuah mesjid Ahmadiyah dari serbuan para fasis teologis yang sudah keterlaluan brengseknya.

Pendeknya, yang membuat seni menjadi relevan bukanlah pada isi tema karya yang dapat mengaburkan relevansi itu sendiri, namun relevansi akan hadir dengan sendirinya saat keterlibatan seniman itu sendiri dalam usaha perubahan di sekelilingnya. Dalam arti kata lain, jika ada pertanyaan apa yang harus dilakukan seniman hari ini mungkin jawabannya adalah meruntuhkan mitos ‘seniman’ itu sendiri, baik sebagai seniman untuk seni maupun seniman bagian dari rakyat atau mesin/arus politik, dengan berusaha hidup menghidupi seni-nya sehidup mungkin. Dengan intens menjadikan yang soliter tidak berjarak dengan pergulatan eksistensi kolektif, dan menjaga otonomi subjektivitas agar tidak dimakan konformitas dihadapan mesin kekuasaan (politik, ekonomi, sosial, budaya, agama) yang doyannya bergerombol dan berlindung dibalik kata ‘massa’. Ini kalau kita bicara soal relevansi.

Posted in: Uncategorized