Street Art My Ass*

Posted on June 15, 2009

6


Kita sama-sama paham bahwa hari ini Che dan Lenin ada di tengah mall dalam beragam bentuk dari kaos katun hingga mug, punk rock masuk MTV dan menjadi bagian dari industri fashion, hiphop dijadikan alat dagang sirup instan, motor hingga celana kolor, bahkan agama sekalipun tak lebih dari sekedar marketing kit pelengkap kampanye beragam industri dan senjata utama institusi dominan yang kita sama-sama paham juga dimana ujungnya.

Itu semua adalah kewajaran hari ini, yang tidak wajar justru adalah kenapa pula kita hari ini harus mendiskusikan sesuatu yang remeh temeh tentang ‘street art’ dengan segala nilai nya, latar belakang kelahirannya, segala kelangsungannya di ranah lokal dan mempertanyakan kembali fungsinya sebagai kritik ini itu. Ketika segala yang bermakna ini itu tercerabut dari akar filosofisnya dan tak ada lagi yang sakral, apa gunanya sekarang kita berbicara tentang makna? Terlebih dengan gampangnya kita bisa menyederhanakan semuanya ber-alibi bahwa makna dapat kita rakit sendiri dengan kebebasan penuh ala pasca-modernisme, ‘kumaha aing’ yang penting asoy.

Tapi ok, toh hari ini kita bertemu dengan realitas yang sewajarnya. Kita mulai dari fenomena sederhana bahwa beberapa tembok di kota kita dicoreti, beberapa menarik perhatian kita, beberapa lagi menyebalkan dan biasa-biasa saja. Kita mencoba mencari alasan mengapa tembok-tembok itu dicoreti dengan harapan kita dapat merefleksikan diri dan memaknai sedikit banyak hal, seperti ekspresi individu dan seni misalnya, kondisi sosial dan budaya misalnya, atau mungkin ruang publik misalnya. Pertanyaannya sekarang adalah; mungkinkah?

Mungkinkah? Karena kita tidak sedang berada di New York circa 70-an, ketika kota itu disapu bencana ekonomi, hampir bankrut dan melewati sebuah proses transformasi sosial, politik dan budaya besar-besaran. Perkembangan teknologi dan perubahan infrastrukur yang dibarengi pula dengan pemotongan subsidi atas hampir semua pelayanan publik, tingginya angka kekerasan dan kriminalitas, rasisme akut, imigrasi besar-besaran plus penumpukan veteran perang Vietnam yang berhadapan dengan ketiadaan pekerjaan dan tempat tinggal yang cukup, semuanya meninggalkan para penghuni ghetto-ghetto di NY dalam kemiskinan sistematis dan dalam situasi ‘no-go’ dimana mereka yang diizinkan masuk adalah mereka yang tak diizinkan pula untuk keluar.

Dalam kata lain, kita tidak sedang mencoba melihat fenomena graffiti lokal sama dengan cerita-cerita di NY tentang anak muda di ghetto-ghetto yang tak memiliki apapun untuk mengekspresikan diri mereka kecuali pergi ke taman-taman dan pojok-pojok kota, sedemikian rupa sehingga melahirkan tradisi memutar lagu (DJ), membacot (Rap), menari (Breakdance) dan ‘menulisi’ subway dan tembok (Graffiti).

Oleh karena itu, jangan pula kita berharap dapat membicarakan lebih banyak lagi mengenai beragam studi banding dalam membaca fenomena graffiti lokal, karena yang kita miliki hanya fenomena satu-dua yang tidak lahir dari tradisi, spot pieces satu-dua yang kadang menarik namun seringnya hanya sekedarnya, komunitas writer yang satu-dua dan saling mengalineasi, kompetisi setengah niat, styling cangkokan (kalau tak bisa disebut rip-off), dan tentu saja nilai-nilai lain yang tidak lahir dari kemunduran peradaban seperti di NY namun hanya aktivitas pengisi liburan sekolah dan acara korporasi berkedok ‘street art’. Tapi tetap tidak mengapa, sekali lagi mari kita lihat fenomena sederhana bahwa beberapa tembok di kota ini di coreti, beberapa ada yang membuat kita menghentikan kendaraan, beberapa lagi menyebalkan. Untuk lebih fair, mungkin kita harus melihat tembok sebagai tembok.

Apapun subjektifitas kita, interpretasi dan respon tak akan pernah ada jika tembok itu kosong. Dan pada awalnya, semua tembok itu kosong biasanya putih, sebelum dicoreti oleh para writer, ditempeli poster dan stiker, di tag, atau diklaim oleh iklan komersil. Ketika mulai ditandai oleh image dan makna yang mereka inginkan, tembok-tembok itu ‘dikonsumsi’ oleh khalayak yang menginterpretasikannya. Persis seperti ruangan kamar kita yang temboknya kita maknai dengan image poster grup musik, foto pacar, dan sejenisnya yang jelas berbeda fungsinya dengan jam dinding.

Cukup gampang jika kita membayangkan kasus ini di ruang pribadi, namun kesempatan kita melatih kemampuan kita merangkai imaji dan memberikan makna pada dinding akan segera terhenti bila keluar dari kamar. Logika mudah tentang memaknai wilayah sekitar kalian segera dibungkam ketika kita mulai berbagi imaji dan makna dengan orang lain di tempat ramai. Akar permasalahannya? Semua orang sudah tahu, that Wu-Tang shit, CREAM, Cash Rules Everything Around Me.

Logika sederhana kapitalisme yang paling primitif atas ruang publik adalah mereka yang memiliki uang yang memiliki akses untuk merangkai imaji, memproduksi makna dan membuat alur menyebarkan informasi sesuai kehendak mereka. Hegemoni mereka tak hanya diperkuat dengan teknologi namun juga dengan undang-undang yang melindungi dominasi mereka. Tentu saja mereka memenangkan ruang, karena mereka yang menentukan mana yang objektif mana yang bukan. Mana yang benar mana yang salah, yang bermoral dan yang tidak.

Disinilah mungkin satu-satunya poin dimana kita bisa berbicara tentang fenomena graffiti di ranah lokal. Coretan kawan-kawan adalah sebuah tanda kalian berbicara tentang sesuatu identitas yang mencoba menginterupsi dominasi kapital dalam hal estetika “Mana yang keren dan mana yang butut” ketika merangkai imaji dan makna. Sesimpel itu, meski kenyataannya memang tidak sesimpel itu. Dari sini kita tak usah berdebat panjang tentang ilegal/legalitas graffiti, tentang sell-ot atau tidak mereka yang memperpanjang (memperpendek?) jangkauan pencitraan didalam galeri. Kita bisa menarik kesimpulan sendiri di titik ini.

“Seseorang tak akan pernah mengerti apa itu graffiti kecuali mereka tinggal di New York hidup dikelilingi bangunan-bangunan yang ditinggalkan dan tembok-tembok kosong menerawang” , ujar BRIM salah seorang pioneer graff NY. Well, mungkin BRIM benar, kita tidak selalu melihat tembok kosong, kecuali kalian berjualan rokok di sekitar Pasupati, atau kue basah di gang-gang Cicadas. Justru keterasingan kita berada di lain tempat, seringnya kita melihat mall, menikmati sore di Dago atau nangkring menjejerkan motor di Gasibu di sore hari. Tapi jika kasusnya itu, rasanya kita tidak sedang memaknai kembali ruang publik. Ini hanya catatan kecil tentang keterasingan gara-gara terlalu banyak mengkonsumsi dan terlalu minim memproduksi.

*Ditulis untuk sebuah diskusi panel besar yang mengalorngidulkan perihal seni ‘jalanan’ (buset) dan ruang publik.

Posted in: Uncategorized