13 Lagu Hiphop Terbaik di 2011

Posted on December 23, 2011

50


Saya baru saja menyelesaikan tulisan rutin akhir tahun, mengurut Album Hiphop Terbaik di Tahun 2011 untuk dimuat di Jakartabeat edisi akhir tahun ini. Selain menikmati musik, berbagi musik itu sendiri merupakan kenikmatan tersendiri. Namun, rasanya ada yang kurang dan tidak adil, karena beberapa karya terbaik tahun ini tak selalu berwujud dalam bentuk album. Kadang ada lagu yang luar bisa keren namun berada dalam album yang biasa-biasa saja, atau mungkin dalam kompilasi / mixtape yang isinya beragam (mulai dari lagu generik hingga yang masterpiece), atau bahkan ada yang dirilis sebagai single lepas atau format 7″ vinyl yang berisi hanya 2 lagu saja. Atas alasan sederhana itulah saya memutuskan untuk membuat tulisan pendamping ini sebagai pelengkap. Tak ada alasan khusus dibalik jumlah lagu yang 13 biji ini. Kebetulan saja saat mencek ‘the most played’ di mp3 player saya, keluar 13 lagu dengan jumlah rotasi putar yang sama. Untuk pertama kalinya pula saya memakai link Soundcloud atas saran seorang kawan. Dan nampaknya cukup berguna, dibanding harus meng-upload kumpulan mp3 ke situs file-sharing, plus juga kalian bisa mendengarnya langsung saat membaca resensi ini. Enjoy.

“Black Swan” – Statik Selektah feat. Nitty Scott MC & Rapsody

Sejak “They Reminisce Over You” dirilis nyaris dua puluh tahun silam, saya selalu jatuh cinta pada track hiphop dengan formula yang dipakai Pete Rock & CL Smooth dalam track itu; hook cantik sederhana, diberi ornamen seperlunya lalu ditimpah scratch chorus dan beat boombap paten yang bisa membuat leher kalian pegal ber-nodding ribuan kali, terlebih dengan snare ala ‘Funky Drummer’. Lagu ini dibangun dengan formula tadi, diambil dari album “Population Control” milik Statik Selektah, salah satu beatmaker anyar pewaris sound era keemasan hiphop 90an yang cukup banyak bermunculan belakangan.  Seperti album DJ/Produser lainnya, Statik mengundang lusinan MC untuk ngerap di setiap lagu berbeda. Dalam ‘Black Swan’ ini ia mengundang 2 MC cewe, dan salah satunya adalah Nitty Scott MC, salah satu female MC yang tak hanya seksi dan cakep tapi juga paling ganas hari ini, meneruskan obor mikropon dengan liar sekaligus elegan yang dulu dipegang MC Lyte dan Jean Grae. Jika tak percaya, silahkan liat video ini dimana Nitty ngerap puluhan bar dengan sangat impresifnya. Its been a while since the last time we saw female MC spit venom like that. Sejak pertama kali mendengar lagu ini, saya tak bisa tak mendengarnya sehari saja. Memutarnya pagi hari sebelum mengantar anak ke sekolah, dapat men-set mood sepanjang hari. Jika kalian memerlukan contoh betapa luar biasa kesederhanaan beat hiphop silahkan cek lagu ini. A perfect beautiful song. Great job Mr. Statik.

“Occupation Freedom” – Ground Zero of the Global Block Collective

Saat gerakan Occupy Wall Street dimulai, saya yakin akan lahir lagu anthem dari rapper-rapper NY di momen itu yang akan memberi warna gerakan dan menginspirasi lainnya untuk bergabung disana. Hanya saja saya tidak menyangka ia berwujud dalam bentuk track laid-back seperti ini. I mean thats really a good thing, karena biasanya lagu protes umumnya berbentuk lagu dengan mood marah-marah dan garang. Ketika kalian mendapatkan lagu empowerment dengan mood ala Digable Planets seperti ini, dengan lirik “i take money from the rich and invest it in the poor/ its been a long way coming its time settle the score” serta beat yang berakar dari karya-karya Pete Rock seperti ini, serasa memberi nuansa baru dan tentunya imajinasi baru dalam melihat fenomena gerakan okupasi global yang marak belakangan. Saya baru mendengar nama Ground Zero of the Global Block Collective, baik sebagai grup maupun dua MC yang cukup aduhai dalam lagu ini; Rithm dan Sylar. Yang terakhir disebut adalah MC cewe dengan suara dan flow mirip Anggie Martinez, MC 90-an akhir yang dulu sempat berkolaborasi dengan KRS-One. Cek juga video lagu ini yang dibuatkan oleh Grounded TV, sebuah kolektif media yang membuat liputan khusus soal OWS dimana mereka mengundang Naomi Klein, Tom Morello dan lainnya memberikan testimoni seputar gerakan ini. Important song for important moment.

Elephants – Hassaan Mackey & Apollo Brown

Sulit mendeskripsikan bagaimana saya begitu menyukai The Left, namun ada satu alasan kuat mengapa grup anyar ini menjadi salah satu grup favorit saya di era 2010-an ini; Apollo Brown. Ia adalah mastermind dari musik mereka, seorang produser muda yang terinspirasi kuat oleh dua figur penting dalam hiphop beatmaking; DJ Premier dan J-Dilla. Apapun proyek yang dia buat (dari album solo hingga kolaborasi) tak ada yang tak menarik. Termasuk proyek bersama alumnus Rawkus 90-an, Hasaan Mackey, ini. Tetap dengan formula yang sama: chop sample dari rekaman soul era Motown 60-an, simpan di beragam pad berbeda di MPC dan bermain-main disitu sebelum kemudian ditimpah beat khas east coast (ehm, NY tepatnya) menghasilkan komposisi khas yang setengah Dilla, setengah Primo. Hampir di setiap album yang ia buat, selalu ada track adiktif yang membuat kalian kecanduan untuk mendengarnya berulang-ulang . Track ini contohnya. Bercerita tentang pergulatan eksistensi di sebuah era dimana resesi menjenguk dan pengangguran menjadi hal yang lumrah. Berujung pada cerita klasik dimana kemiskinan adalah akar dari semua neraka. These kinda song we need right now; socially conscious, artistically phat.

Ghetto Dreams – Common featuring Nas

“The Dreamer, The Believer” merupakan album baru Common yang baru saja dirilis minggu kemarin. Saya belum mendengar secara keseluruhan album ini. Mungkin karena kekecewaan bertubi terhadap album-albumnya era akhir 2000-an yang payah, tak sebanding dengan nama besarnya. Namun nampaknya besok-besok saya harus mendengarnya secara serius, karena single duetnya dengan Nas di lagu ini mengirim sinyal berbahaya. Sudah lama sekali rasanya menunggu kolabo dua MC besar dengan output memuaskan seperti ini. Coba perhatikan flow Nas di verse terakhir lagu ini, setelah single bocoran untuk album barunya bulan kemarin, nampaknya pula album Nas mendatang akan menjadi salah satu poin di catatan layak tunggu tahun 2012. Cmon Mr. Jones, we been waiting for Illmatic ressurection for fukkin light years!!

“Scarface (3:33 Remix) – Roc Marciano

Sebenernya ‘Scarface‘ bukan lagu baru. Diambil dari debut seminal Roc Marciano “Marcberg” yang dirilis tahun 2010, lagu ini diremix ulang oleh sebuah kolektif (atau entah seorang?) produser bernama 3:33, dan dirilis dalam bentuk 7″ vinyl bersamaan dengan remix MF Doom di pertengahan tahun ini. Dengan hook creepy sederhana berulang dan beat gempor berkekuatan merusak speaker, ‘Scarface‘ terdengar sangat berbeda tanpa melenyapkan aura murda muzik ala Mobb Deep yang diusung Roc sejak ia masih berkutat di camp nya Busta Rhymes. Dari single ini pula saya menelusuri lebih banyak perihal siapakah 3:33 ini, dan menemukan fakta bahwa ia/mereka adalah produser jahanam yang membangkitkan breakbeat neraka se-level Dalek dengan aura kebrisikan Nine Inch Nails. Lain waktu kalo mood sedang bersahabat, saya akan sharing lebih banyak tentang mereka.

“Ronald Reagan Era” – Kendrick Lamar

Dari album bertitel “Section 80″ yang membuat nama Kendrick Lamar meroket dan dinobatkan oleh Snoop Dogg dan Dr.Dre sebagai penerus kejayaan Compton, lagu ini merupakan salah satu contoh mengapa Lamar layak mendapatkan obor dari para ikon West Coast. Keluar dari tipikal G-Funk namun tetap bersuara lantang merepresentasikan Compton sebagai tanah kelahiran para pendobrak dominasi East Coast dalam sejarah hiphop sejak NWA merilis “Straight Outta Compton”. Yang diluar perkiraan saya adalah faktor pemilihan beat yang sama sekali keluar dari tipikal laid-back pasca “The Chronic” yang selama ini mendominasi album-album rapper West Coast. Dengan flow yang nyerempet The Parchyde, Lamar bercerita tentang era ia dimana ia lahir dan besar di Amerika era Ronald Reagan. mengilustrasikan Compton era itu dengan detil-detil nostaljik diadopsi pada kenyataan kehidupan (“I tell you mothafuckers that life is full of hydraulics/ Up and down, get 64 better know how to drive it”), diakhiri kesimpulan miris tentang bagaimana bertahan hidup di Compton: “When you fight, don’t fight fair, Cause you’ll never win”. Lamar nampaknya baru saja dibebani tanggungan berat untuk meneruskan kecemerlangan album debutnya dengan prestasi yang sama di album-album selanjutnya.

“Outstanding” – Tragedy Khadafi

Veteran karismatik dan arsitek sound hiphop ala Queensbridge NY, Tragedy Khadafi meneruskan tradisi mixtape Thug Matrix nya sampe ke album no.3. Cukup lumayan, bahkan cukup mengagumkan untuk sebuah mixtape. Namun ada sebuah lagu yang outstanding di album itu yang tepat sekali diberi judul ‘Outstanding’, diproduseri seorang beatmaker yang baru saya dengar namanya; Audible Doctor, track ini bersuara seolah hasil sumbangan Apollo Brown, tentu saja lengkap dengan chop sample suara vokal soulful dan bluesy feel ala The Left. Berdurasi hanya satu menit 57 detik, Trag menyambat satu verse 24 bar dengan flow luar biasa.

“The Recipe” – Apathy feat. Xzibit

Jika lagu seperti ini dibuat dalam jumlah satu album, kemungkinan besar Apathy menghasilkan “Nineteen Ninety Now” versi West Coast. Beatmaker Stu Bangas melakukan pekerjaannya dengan cantik, betapa tidak; sound efek futuristik, snare dan hihat dari kit drum machine Rolland 80-an ala musik Breakdance, chorus yang di-scratch “yea and you dont quit” khas Snoop Dogg, dibungkus dengan synthe ala G-Funk. Tentu akan berakhir menjadi instrumental keren tak berguna jika saja Apathy dan Xzibit tidak mendemonstrasikan kehebatan mereka menjadi duet maut bertukar rima dengan kerumitan akronim-akronim dan metafor braggadocio terbaik tahun ini. Xzibit dalam track ini seolah merehabilitasi namanya yang semakin mengendur gara-gara kebanyakan meng-host MTV dibanding membuat rima keren. Dengan suara berat, ruff khas yang membuatnya terkenal, X membantai; “Put out an APB on Mr. X to the Z/ Grew up on NWA and the DOC / I can’t sing or play guitar like the BOB / But I can put you underground with this.223″, disambut Apathy dengan rima throwback “I love OPP, I got OCD / Word life, I got OC’s old CD / I miss ODB, fuck the FCC / I miss Fab Five Freddy on MTV”. Sempurna.

“Terror Death Camp” – Statik Selektah & Action Bronson featuring Meyham Lauren, Maffew Rogazino & AG Da Coroner

Fukkkkkk!!! This is the Posse Cut of The Year!!!! Berakar dari tradisi mengeroyok breakbeat dengan multi MC di era Main Source merilis “Live at The Barbeque”, lagu ini luar biasa adiktif. Jika saja berbentuk kaset, tentu nasibnya sudah seperti kaset NWA saya yang mendem, kusut di bagian lagu tertentu akibat diulang-ulang ratusan kali. Diambil dari album kolaborasi Statik Selektah (yang perihalnya sudah saya jelaskan di track pertama) dengan MC paling panas dan paling sibuk tahun ini; Action Bronson. Kali ini mengundang rekan-rekan satu tangkringan di The Outdoorsmen. Kecuali Meyham Lauren, dua MC lain Maffew Rogazino dan AG Da Coroner baru saya dengar pertama kali di track ini dan membuat saya berkesimpulan cenayang; atas nama arwah ODB diperkirakan  mereka akan menjadi Wu-Tang nya era 2000-belasan ini. Empat MC ini bergantian memperkosa track Statik Selektah yang kali ini tak hanya terdengar soulful namun juga mengkomposisi beat yang mengalir lebih deras dari aliran bandang Bandung Barat yang keropos digas kontraktor pembangun lapangan golf!. Klik langsung, klikkkk player Soundcloud diatas!

“Fast Lane” – Bad Meets Evil

Eminem did it again. Berkali kali ia memaksa para hiphopheads untuk memberinya hormat pada skill-nya meski seburuk apapun beat yang ia pakai untuk ngerap! Bad Meets Evil adalah proyek kolaborasi bersama partnernya sebelum ia tenar, Royce 5’9″. Bubar saat Em mulai menanjak karirnya, lalu di-resureksi tahun 2011 ini saat Royce dan Eminem berdamai setelah menahun bermusuhan. Hasilnya? seperti yang dibayangkan, salah dua MC terdahsyat di era ini bergabung menghasilkan se-album penuh lagu dengan punchline dan kecepatan flow yang hampir tak ada tandingannya. Track ini sendiri sebenarnya track ala club lengkap dengan string buatan keyboard, beat akward dan tentu saja tak terlewatkan shout “heyyyyyyyy…” pada chorus-nya. Nyaris tak ada seni sampling menyampling dilibatkan. Meski demikian, MC manapun akan mangap dengan air liur menetes mendengar dua MC ini bersahutan, mencabik bar demi bar, fast and furious. Cukup membuat saya mengulang-ngulang memasang looping mode satu lagu dalam mp3 player selama beberapa minggu.

“Animal Kingdom” – Trem

Dari Melbourne, Australia, Trem menyerang tanah Mekahnya Hiphop, NY, dengan album yang berfondasi pada blueprint yang dibuat Mobb Deep dan scene Queensbridge pasca “The Infamous”. Diatas beat monoton, loop monoton yang dramatis (biasanya dibangun lewat sampling notes piano sederhana), dengan aksen inggris ala Australia yang cukup aneh, Trem menebar lusinan cerita tentang sudut-sudut kota yang membesarkannya dengan aroma spraycan, 808, beat boombap, kematian teman, seringai kemiskinan dan bermuara pada album yang bikin nyandu setengah mampus. Bagi yang kangen Mobb Deep era “Shook Ones Part II” silahkan klik player Soundclick diatas dan cari album sang maestro tanah kangguru; “The Term Of His Natural Life”.

“Toast to The Dead” – Immortal Technique

Lagu yang immortal adalah lagu yang kalian jatuh cinta saat pertama kali mendengarnya, menggerus perasaan saat mendengar beberapa detik pertama bagian lagu itu dan membawa kesadaran pada makna-makna potongan liriknya di detik selanjutnya, menyimpan energi tersembunyi yang kalian tabung dan dibuka ketika keadaan membutuhkan. Diambil dari album mixtape Immortal Technique teranyar, “The Martyr”, lagu ini bisa sangat jadi salah satu contohnya. Dengan track pemberian J-Dilla sebelum ia wafat, Immortal Technique kali ini menghasilkan track yang diluar kebiasaan, begitu personal meski bertaburan disana-sini potongan kalimat yang cukup kuat untuk dijadikan manifesto politik. ‘Toast to The Dead’ seharfiah judulnya, merupakan lagu tribut Tech bagi rekan, inspirator, pendahulu, kamerad seperjuangan bahkan musuhnya yang sudah mendahului. Namun bukan Immortal Technique jika hanya bikin rima biasa-biasa, ia memperpanjang makna tribut menjadi sebuah lagu hymne bagi sejarah kemanusiaan. Selain memberi tribut bagi arwah Roc Raida, J-Dilla dan Eyedea saat bertutur “A toast to the dead for rap legends and pioneers/ Your legacy won’t be forsaken as long as I am here”, dan bagi para pejuang “For the freedom fighters killed by the feds/ For those who died hard in the streets soaking in red”, Tech pula berujar “Here’s a toast to the dead for my enemies that are gone/ I’m not a coward so, celebrating that would be wrong”. Dari bar ke bar, Ia berusaha menjelaskan makna hidup tak hanya lewat mereka yang sudah wafat, namun fenomena luarbiasa yang menyadarkan kita alasan terpenting mengapa kita harus menyelamatkan kehidupan; “…some of you, won’t survive the changes the earth makes/ Swallowed by tsunamis, hurricanes and earthquakes”, meski pada akhirnya kita semua pasti mati. Seklise itu namun lagu ini begitu menghanyutkan lewat kepiawaian Tech meramu silabel dan pantun. Lagu ditutup dengan Tech berbisik singkat namun mengejutkan; “My last toast to the dead is for the listener/ Human being or extraterrestrial visitor / Remember us for more than our primitive ways/ When you study us long after the end of our days”. Seolah ia membuat lagu yang akan bertahan hingga akhir zaman, pasca apokalips dan seseorang (atau mahluk angkasa luar) menemukan lagu ini diantara reruntuhan untuk kemudian dijadikan studi mempelajari sejarah manusia, dimana manusia -sebrengsek apapun sejarah buktikan- memiliki sisi yang harus diingat saat kita berbudaya sebagai manusia. Shit is deep. Gali sumur. Lagu ini dibuat almarhum Dilla dengan fondasi sample dari musik yang dibuat Vangelis untuk acara karya Carl Sagan ‘The Cosmos’, sebuah seri televisi yang menyampaikan pesan soal alam semesta dan kosmos mirip National Geographic dengan sentuhan filosofi. Entah kenapa, serasa klop.

“Stomp” – The Roots

Ini satu-satunya lagu yang tak bisa saya upload ke Soundcloud karena alasan hak cipta, berusaha mencari link nya kemana-mana pun tak dapat. Bahkan di Youtube sekalipun hanya menemukan video trailer-nya seperti diatas. Namun bagaimanapun saya tak ingin melenyapkan fakta bahwa ini salah satu lagu terbaik dari salah satu album terbaik tahun ini; “Undun”. Album ke-13 milik The Roots ini merupakan album konsep yang berkisah tentang kisah kehidupan seseorang bernama Redford Stephens yang memiliki jalan hidup berbalik dengan Malcolm X, dari yang sadar akan pentingnya kehidupan dan berjuang untuk keadilan sosial berubah menjadi seorang penjahat jalanan, dan berakhir tragis. “Stomp” berada pada tracklist tengah album, pada titik dimana kisah Redford sedang buas-buasnya. Black Thought mendeskripsikan secara puitis bagaimana sang tokoh Redford memutuskan apa yang harus dilakukan ketika keadaan bertahan hidup memaksanya dan lingkungan yang ada (kemiskinan) tak memberikan peluang  dan kesempatan untuk berbuat sebaliknya; “It reads like a final letter I’m leaving for my fam but/ It’s written in language they will never understand”, diatas chord gitar dan beat sederhana namun cukup kuat untuk membuat satu ruangan ber-headnodding ria. Saya baru mendapatkan Undun seminggu yang lalu, namun tak perlu waktu lama bagi saya untuk menyimpulkan bahwa ‘Stomp’ adalah klasik instan tanpa harus banyak dijelaskan. Oke, cari “Undun” sekarang juga.

Posted in: Reviews